Menjalin Penjalin 2026: Kolaborasi UNS–Chiba University Dorong Perajin Rotan Trangsan Jadi Aktor Utama Desain

Menjalin Penjalin 2026: Kolaborasi UNS–Chiba University Dorong Perajin Rotan Trangsan Jadi Aktor Utama Desain

Menjalin Penjalin 2026, kolaborasi UNS dan Chiba University, memberdayakan perajin rotan Trangsan sebagai aktor utama desain. Program ini berlangsung 6-15 Februari 2026, mendorong refleksi dan produksi desain yang berakar pada nilai lokal dan global, menghasilkan lima prototipe.

UNS — Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta kembali menunjukkan komitmennya dalam preservasi dan pengembangan sentra kerajinan lokal melalui program Menjalin Penjalin 2026, sebuah workshop pengembangan kerajinan rotan yang digelar di Desa Trangsan, Sukoharjo. Program ini diketuai oleh Pandu Purwandaru, S.Ds., M.Ds., Ph.D., dan menjadi bagian dari kolaborasi internasional antara UNS dan Chiba University, khususnya melalui Design Culture Laboratory.

Kegiatan ini diselenggarakan oleh Desain Interior FSRD UNS bersama Pusat Studi Jepang UNS dengan fokus pada penguatan kapasitas perajin sebagai subjek utama dalam praktik desain. Mengusung semangat bahwa desain adalah praktik komunal yang berangkat dari material, fungsi, proses, serta pengalaman hidup sehari-hari, Menjalin Penjalin 2026 menempatkan perajin sebagai pengambil keputusan desain, bukan sekadar pelaksana produksi.

Di tengah tekanan selera pasar global dan derasnya arus referensi instan, program ini menghadirkan ruang reflektif sekaligus produktif bagi perajin untuk merancang karya, menentukan arah desain, serta mengekspresikan nilai lokal yang mereka miliki. Pendekatan ini sekaligus menjadi upaya strategis dalam memperkuat identitas kerajinan lokal di kancah yang lebih luas.

Pandu Purwandaru, S.Ds., M.Ds., Ph.D. menyampaikan, program Menjalin Penjalin 2026 juga selaras dengan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development Goals/SDGs), khususnya SDG 4 tentang Pendidikan Berkualitas melalui penerapan model pembelajaran berbasis pengalaman (experiential learning) dan kolaborasi lintas budaya, di mana akademisi berperan sebagai fasilitator yang belajar bersama perajin. Selain itu, program ini mendukung SDG 12 tentang Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab dengan mendorong eksplorasi material rotan secara bijak serta pengembangan desain yang berakar pada fungsi dan keberlanjutan proses produksi. Lebih lanjut, Menjalin Penjalin 2026 juga merepresentasikan SDG 17 tentang Kemitraan untuk Mencapai Tujuan melalui kolaborasi lintas negara dan lintas disiplin antara akademisi dan komunitas perajin, yang memperkuat sinergi dalam pengembangan kerajinan lokal.

Rangkaian kegiatan berlangsung pada 6–15 Februari 2026. Program diawali dengan studi pengembangan komunitas desa ke Spedagi sebagai referensi praktik penguatan komunitas berbasis potensi lokal. Selanjutnya, workshop utama dilaksanakan di Desa Trangsan, dan ditutup dengan pameran karya di LAV Gallery.

Dalam workshop tersebut, lima perajin lokal Trangsan berkolaborasi dalam lima kelompok kerja. Setiap kelompok terdiri atas satu perajin yang bermitra dengan dosen dan Mahasiswa UNS serta mahasiswa Chiba University. “Akademisi berperan sebagai fasilitator yang mendampingi proses eksplorasi ide, membantu menerjemahkan gagasan ke dalam sketsa, serta mengarahkan pengembangan desain agar adaptif terhadap kebutuhan pasar tanpa menghilangkan orisinalitas dan nilai lokal,” terang Pandu kepada uns.ac.id, Senin (30/3/2026).

Kolaborasi ini menghasilkan lima prototipe kerajinan rotan, yakni side table, dingklik (stool), keranjang makanan, sling bag, dan kap lampu gantung. Setiap karya menghadirkan filosofi dan konsep desain yang berakar pada pengalaman personal serta keahlian masing-masing perajin, sehingga tidak hanya fungsional, tetapi juga sarat makna.

Kelima prototipe tersebut dipamerkan di LAV Gallery dan mendapat apresiasi luas dari masyarakat serta akademisi berbagai perguruan tinggi, di antaranya Institut Seni Indonesia Yogyakarta, Universitas Gadjah Mada, dan Universitas Kristen Duta Wacana. Pameran ini menjadi ruang dialog lintas disiplin yang mempertemukan perajin, akademisi, dan publik dalam diskursus mengenai masa depan kerajinan lokal.

Melalui Menjalin Penjalin 2026, UNS dan Chiba University berharap masyarakat semakin menyadari keindahan dan nilai strategis kerajinan lokal. Lebih dari itu, program ini menegaskan bahwa perajin adalah kreator dengan gagasan, identitas, dan nilai yang kuat—bukan sekadar pelaksana kebutuhan pasar. Upaya ini diharapkan menjadi langkah berkelanjutan dalam menjaga eksistensi serta martabat perajin rotan sebagai bagian penting dari ekosistem budaya dan ekonomi kreatif Indonesia. HUMAS UNS

Pertanyaan Umum (FAQ)

Apa tujuan utama dari program Menjalin Penjalin 2026?

Program ini bertujuan memperkuat kapasitas perajin sebagai subjek utama dalam praktik desain, menempatkan mereka sebagai pengambil keputusan desain bukan sekadar pelaksana produksi. Lihat di artikel

Bagaimana kolaborasi UNS dan Chiba University dilakukan dalam program ini?

Setiap kelompok kerja terdiri atas satu perajin yang bermitra dengan dosen dan Mahasiswa UNS serta mahasiswa Chiba University, berperan sebagai fasilitator dalam proses eksplorasi ide. Lihat di artikel

Apa saja hasil konkret dari workshop Menjalin Penjalin 2026?

Kolaborasi ini menghasilkan lima prototipe kerajinan rotan, meliputi side table, dingklik (stool), keranjang makanan, sling bag, dan kap lampu gantung. Lihat di artikel

Kapan dan di mana rangkaian kegiatan Menjalin Penjalin 2026 dilaksanakan?

Rangkaian kegiatan berlangsung pada 6–15 Februari 2026, dimulai dengan studi ke Spedagi, workshop di Desa Trangsan, dan diakhiri pameran di LAV Gallery. Lihat di artikel