Jangan Lupa Nyoblos!! Belajar Demokrasi Lewat Pemira UNS 2018

UNS – Politik merupakan bagian penting dalam berdemokrasi dan telah menjadi elemen yang tidak bisa dilepaskan dalam kehidupan bernegara, baik dari skala internasional, nasional, regional dan bahkan dalam skala kampus sekalipun. Sebagai bagian dari masyarakat yang sadar akan pentingnya hal tersebut, mahasiswa punya peran penting untuk bergerak di ruang mereka sendiri yakni lingkungan universitas. Proses inilah yang digagas oleh Panitia Pemilihan Umum (PPU) Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta dalam mengadakan Pemilu Raya (Pemira) Mahasiswa UNS 2018 yang dilaksanakan pada 7-8 November 2018.

Tahun ini PPU UNS secara bersamaan mengadakan pemilihan untuk legislatif dan eksekutif. Untuk eksekutif terdapat dua pasangan calon presiden dan wakil presiden Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) UNS 2018. Kedua calon terdaftar tersebut yakni Faith Aqila Silmi (FISIP 2015) – Muhammad Zainal Arifin (FT 2016) pada nomor urut satu dan Cyva Ardian Pradika (FEB 2015) – Mohammad Darril Hermawan (FKIP 2016) pada nomor urut dua. Pada tingkat legislatif terdapat 4 partai terdaftar antara lain Partai Daun Muda, Partai Asmara, Partai Kemaki dan Partai Gerbang.

Sebelumnya, PPU UNS telah menyelenggarakan kampanye dialogis kedua pasangan calon yang dilaksanakan terlebih dahulu di setiap fakultas, baik di kampus UNS pusat maupun wilayah. Setelahnya dilanjutkan dengan dua kali debat publik pada 26 Oktober & 2 November 2018.

“Debat publik dilakukan dua kali. Pertama dilakukan secara dialogis oleh kedua calon dengan mengkritisi calon lainnya. Namun di debat kedua, kami menghadirkan tiga panelis dari berbagai background berbeda yaitu dari dosen, mahasiswa berprestasi dan anggota BEM terdahulu. Hal ini ditujukan untuk memberi mahasiswa pemilih gambaran atas calon yang akan mereka pilih,” ungkap Afif Mustafa, ketua PPU UNS 2018 (2/11/2018).

Luasnya kampus UNS menjadi hal penting untuk diperhatikan dalam penyelenggaraan pemilu. Afif mengatakan, untuk menjangkau kampus-kampus wilayah, PPU UNS membuka 22 TPS, di kampus pusat (Kentingan) sebanyak 18 TPS yang tersebar di setiap fakultas dan di kampus wilayah yang terletak di Kebumen, Kleco, Pabelan dan Manahan masing-masing terdapat satu TPS.

Pada hari pertama pengambilan suara, bilik TPS 4 FKIP UNS terlihat terlihat cukup ramai. Pemilih datang secara bergantian menunjukkan antusias yang cukup besar dari para mahasiswa.

“Saya mengikuti serangkaian proses pemilu ini sejak satu bulan yang lalu, ya cukup aktif update info soal pemilu ini. Saya melihat pemilu kali ini cukup ramai. Namun, buat kedepannya sosialisasinya harus lebih diperbaiki lagi, agar mahasiswa yang apatis juga bisa diajak untuk memilih,” tutur Cyntami, pemilih dari FKIP UNS (7/11/2018).

Disisi lain, Haryanti, pemilih dari FIB dalam wawancara (7/11/2018) berpendapat bahwa pemilu ini sangatlah penting karena baginya sebagai mahasiswa pemilu ini merupakan ajang untuk belajar demokrasi, walaupun tak punya efek langsung terhadap dirinya karena baginya itulah esensi dari pemilu.

Rendahnya partisipasi mahasiswa terhadap pemilu masih menjadi isu hangat di setiap tahun penyelengaraan pemilu raya tingkat kampus. Bagi Muhnizar Siagian, pengajar Hubungan Internasional FISIP UNS sekaligus panelis dalam debat capres-cawapres kedua, mendukung proses pemilu ini sebagai bentuk proses pembelajaran demokrasi mahasiswa.

“Inilah urgensi pemilu universitas. Ini adalah proses dimana mahasiswa tahu kapan dirinya harus mendengar orang lain dan mengadvokasi sesuatu, karena kampus itu bagaikan sebuah miniatur Negara, tempat untuk mahasiswa berproses untuk hidup berdemokrasi,” tutur Muhnizar dalam wawancara (02/11/2018).

Oleh karena itu ia berharap mahasiswa tidak menjadi apatis dalam pemilu. Agar iklim demokrasi dalam kampus tidak mati dan yang dipilih juga bisa memperjuangkan budaya literasi dan bermanfaat bagi masyarakat sekitar melalui program-program mereka. humas-red.uns/Ysp/Isn

By | 2018-11-08T13:51:33+00:00 08 November 2018|Categories: Mahasiswa UNS|