KKN UNS dan PKM HGR FMIPA Dorong Pemanfaatan TOGA serta Kewirausahaan Herbal di Tawangsari, Surakarta

KKN UNS dan PKM HGR FMIPA Dorong Pemanfaatan TOGA serta Kewirausahaan Herbal di Tawangsari, Surakarta

KKN UNS dan PKM HGR FMIPA UNS mendorong pemanfaatan Tanaman Obat Keluarga (TOGA) dan kewirausahaan herbal di Tawangsari, Surakarta. Program ini meningkatkan pengetahuan masyarakat tentang budidaya, penggunaan herbal aman, dan pengembangan produk bernilai guna guna mendukung kesehatan dan kesejahteraan.

UNS — Tim Kuliah Kerja Nyata (KKN) Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta bersama Tim Pengabdian kepada Masyarakat Hibah Group Research (PKM HGR) Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) UNS bidang Natural Product Pharmacy menyelenggarakan program pengabdian masyarakat bertajuk “Pemberdayaan Masyarakat Melalui Optimalisasi Tanaman Obat Keluarga (TOGA) menjadi Produk Herbal Bernilai Guna”. Kegiatan berlangsung selama Juni–Juli 2026 di RW 34 Dukuhan Kendal, Dusun Tawangsari, Kelurahan Mojosongo, Kecamatan Jebres, Kota Surakarta.

Program ini diikuti sekitar 50 peserta yang terdiri atas tokoh masyarakat, kader kesehatan, anggota Karang Taruna, dan warga RW 34. Kegiatan bertujuan meningkatkan pengetahuan masyarakat mengenai pemanfaatan TOGA, penggunaan herbal yang aman dan rasional pada kelompok rentan, serta pengembangan kewirausahaan berbasis produk herbal sebagai upaya mendukung kesehatan sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

Rangkaian kegiatan diawali dengan sosialisasi budidaya TOGA menggunakan teknik kokedama yang disampaikan oleh Dr. Apt. Rita Rakhmawati, S.Farm., M.Si. Dalam pemaparannya, ia menjelaskan bahwa kokedama merupakan teknik budidaya tanaman yang praktis, hemat lahan, dan memiliki nilai estetika sehingga cocok diterapkan di lingkungan rumah dengan keterbatasan ruang.

“Melalui teknik kokedama, masyarakat tetap dapat membudidayakan tanaman obat meskipun memiliki lahan yang terbatas. Selain mempercantik lingkungan, tanaman obat juga dapat dimanfaatkan untuk mendukung kesehatan keluarga,” ujar Dr. Rita kepada uns.ac.id, Rabu (22/7/2026).

Selain membahas teknik budidaya, tim KKN UNS dan PKM HGR FMIPA UNS juga memberikan edukasi mengenai penggunaan herbal yang aman dan rasional, khususnya bagi ibu hamil, lansia, dan balita. Dalam sesi ini, peserta memperoleh pemahaman bahwa produk herbal dapat dimanfaatkan untuk menjaga kesehatan apabila digunakan secara tepat, namun tidak dapat menggantikan terapi medis yang diresepkan oleh tenaga kesehatan. Masyarakat juga diedukasi mengenai pentingnya memilih produk herbal yang aman, memperhatikan aturan pakai dan dosis, serta menghindari konsumsi beberapa jenis herbal secara bersamaan tanpa berkonsultasi dengan tenaga kesehatan.

Sebagai bagian dari upaya pemberdayaan ekonomi masyarakat, tim pengabdian menyelenggarakan pelatihan dan pendampingan kewirausahaan berbasis produk herbal. Peserta memperoleh pengetahuan mengenai pengembangan usaha melalui pemanfaatan TOGA menjadi produk herbal bernilai tambah, mulai dari pemilihan bahan baku, proses produksi yang higienis, hingga pengemasan dan pelabelan produk yang informatif.

Tidak hanya itu, peserta juga dibekali keterampilan dalam membangun identitas merek (branding), melakukan fotografi produk menggunakan telepon pintar, memanfaatkan media sosial sebagai sarana promosi, serta mengelola usaha sederhana melalui pencatatan keuangan dan evaluasi usaha. Melalui pendampingan tersebut, masyarakat diharapkan mampu menghasilkan produk herbal yang berkualitas, memiliki nilai jual, dan berdaya saing sehingga dapat menjadi peluang usaha berbasis potensi lokal.

Hasil evaluasi menunjukkan adanya peningkatan pengetahuan peserta setelah mengikuti seluruh rangkaian kegiatan. Antusiasme dan keterlibatan aktif masyarakat dalam setiap sesi mencerminkan tingginya minat untuk mengembangkan pemanfaatan TOGA, baik sebagai upaya menjaga kesehatan keluarga maupun sebagai peluang usaha yang dapat meningkatkan pendapatan masyarakat.

Melalui sinergi antara perguruan tinggi dan masyarakat, program ini diharapkan mampu mendorong keberlanjutan pemanfaatan TOGA sebagai bagian dari budaya hidup sehat sekaligus memperkuat ekonomi masyarakat melalui pengembangan produk herbal berbasis potensi lokal.

Program pengabdian ini turut mendukung pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development Goals/SDGs). Dukungan tersebut diwujudkan melalui pencapaian SDG 3 (Kehidupan Sehat dan Sejahtera) dengan meningkatkan literasi masyarakat mengenai pemanfaatan herbal yang aman dan rasional. Selain itu, program ini juga berkontribusi pada SDG 8 (Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi) melalui penguatan kapasitas masyarakat dalam mengembangkan kewirausahaan berbasis produk herbal yang memiliki nilai ekonomi. HUMAS UNS

Pertanyaan Umum (FAQ)

Apa tujuan program pengabdian masyarakat di Tawangsari?

Tujuannya adalah meningkatkan pengetahuan masyarakat tentang pemanfaatan TOGA, penggunaan herbal yang aman bagi kelompok rentan, serta pengembangan kewirausahaan berbasis produk herbal. Lihat di artikel

Teknik budidaya TOGA apa yang diajarkan dalam program ini?

Peserta diajarkan teknik budidaya TOGA menggunakan teknik kokedama yang praktis, hemat lahan, dan memiliki nilai estetika. Lihat di artikel

Bagaimana program ini mendukung kewirausahaan masyarakat?

Peserta mendapatkan pelatihan dan pendampingan kewirausahaan dalam mengembangkan usaha produk herbal, mulai dari bahan baku hingga promosi dan pengelolaan keuangan. Lihat di artikel

Kelompok rentan mana yang menjadi fokus edukasi penggunaan herbal?

Edukasi penggunaan herbal aman dan rasional difokuskan pada ibu hamil, lansia, dan balita. Lihat di artikel