Dosen Teknik UNS menggelar Workshop Langkah Praktis Menuju Kampung Iklim Zero Waste di Baluwarti, Surakarta pada Minggu (7/6/2026). Kegiatan ini bertujuan mendorong pengelolaan sampah rumah tangga mandiri untuk menciptakan lingkungan bersih, sehat, dan berdaya ekonomi.
UNS — Research Group (RG) Arsitektur dan Lingkungan, Program Studi Arsitektur, Fakultas Teknik (FT) Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta sukses menyelenggarakan kegiatan Workshop Langkah Praktis Menuju Kampung Iklim Zero Waste di Kelurahan Baluwarti, Surakarta, pada Minggu (7/6/2026). Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya Pengabdian kepada Masyarakat untuk mendorong pengelolaan sampah berbasis rumah tangga yang berkelanjutan dan mendukung terwujudnya kampung iklim yang bersih, sehat, serta berdaya ekonomi.
Workshop dihadiri oleh Lurah Baluwarti, Sri Winarni, S.Sos., beserta jajaran staf Kelurahan Baluwarti, pengurus RT/RW, Tim Penggerak PKK, pegiat lingkungan, pengelola bank sampah, LPMK, Karang Taruna, tokoh masyarakat, tim pengabdian UNS, dan Mahasiswa UNS.
Kegiatan pengabdian ini diketuai oleh Prof. Dr. Ars. Ir. Avi Marlina, S.T., M.T. dengan anggota tim Dr. Ars. Ir. Untung Joko Cahyono, M.Arch., Tri Joko Daryanto, S.T., M.T., Ummul Mustaqimah, S.T., M.T., dan Ir. Leny Pramesti, M.T., serta didukung oleh mahasiswa Program Studi Arsitektur UNS sebagai asisten pelaksana.
Dalam sambutannya, Dr. Ars. Ir. Untung Joko Cahyono, M.Arch. menyampaikan bahwa kegiatan ini bertujuan membangun kemandirian masyarakat dalam mengelola sampah rumah tangga.
“UNS berharap masyarakat Baluwarti mampu mengelola dan mengolah limbah sampah rumah tangganya secara mandiri sehingga dapat mengurangi timbunan sampah sekaligus menciptakan lingkungan yang lebih sehat dan berkelanjutan,” terang Dr. Ars. Untung kepada uns.ac.id, Senin (15//6/2026).
Sebagai narasumber utama, Suryono Arief Wijaya, S.T., yang juga merupakan Tim Pembina Program Kampung Iklim Kota Surakarta, menjelaskan berbagai tantangan pengelolaan sampah di kawasan heritage seperti Baluwarti.
“Penyelesaian permasalahan pengelolaan sampah di kawasan heritage, mulai dari sampah yang masih tercampur hingga keterbatasan ruang untuk pengolahan dan penyimpanan sampah, merupakan kewajiban yang harus dimulai dari diri sendiri dan keluarga inti terlebih dahulu,” jelasnya.



Ia menambahkan bahwa kondisi pengelolaan sampah yang belum optimal dapat memengaruhi citra Baluwarti sebagai kawasan wisata budaya yang menjadi salah satu daya tarik Kota Surakarta.
Melalui workshop ini, masyarakat diperkenalkan pada konsep zero waste, yaitu pendekatan yang tidak berfokus pada menghilangkan sampah sepenuhnya, melainkan mengubah sampah menjadi sumber daya yang bermanfaat dengan menyisakan residu seminimal mungkin. Warga diberikan pemahaman mengenai langkah-langkah praktis pengelolaan sampah dari rumah, mulai dari pemilahan sampah organik, anorganik, dan residu.
Sampah organik dapat diolah menjadi kompos, dimanfaatkan melalui lubang biopori, budidaya maggot, maupun pakan ternak. Selain itu, sampah organik juga dapat dikelola secara komunal di tingkat RW melalui layanan Saberling (Sapu Bersih Lingkungan). Sementara itu, sampah anorganik dapat langsung disalurkan ke bank sampah atau melalui mekanisme pengumpulan dan pemilahan oleh Saberling sebelum dijual ke pengepul. Adapun sampah residu dikumpulkan secara terpisah dan selanjutnya diangkut menuju Tempat Pembuangan Akhir (TPA).
Dalam sesi praktik, peserta memperoleh pemahaman mengenai alur pengelolaan sampah rumah tangga yang benar, mulai dari proses pemilahan hingga pengolahan. Masyarakat juga mendapatkan informasi mengenai klasifikasi sampah berdasarkan jenis bahan, nilai ekonomi sampah berdasarkan kategori, warna, dan ukuran, serta pengenalan berbagai peralatan yang digunakan dalam pengelolaan sampah. Selain itu, warga mengikuti demonstrasi teknik pengomposan yang tepat agar sampah organik dapat diubah menjadi kompos yang bermanfaat bagi lingkungan dan pertanian rumah tangga.
Kegiatan ini diharapkan dapat berkontribusi terhadap pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 4 (Pendidikan Berkualitas) melalui edukasi dan regenerasi pengetahuan pengelolaan sampah. Kemudian SDG 12 (Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab) melalui pengolahan sampah organik menjadi kompos ramah lingkungan. Serta SDG 17 (Kemitraan untuk Mencapai Tujuan) melalui kolaborasi antara pemerintah daerah, Dinas Lingkungan Hidup, bank sampah, UMKM daur ulang, perguruan tinggi, dan masyarakat.
Melalui kegiatan ini, masyarakat Baluwarti diharapkan semakin siap untuk menerapkan budaya memilah sampah dari sumbernya, mengolah sampah organik secara mandiri dan berkelanjutan, serta memanfaatkan sampah anorganik sebagai sumber nilai ekonomi melalui bank sampah.
Ke depan, praktik pengelolaan sampah berbasis masyarakat yang telah diterapkan di Baluwarti diharapkan dapat menjadi contoh bagi kampung-kampung lain di Kota Surakarta dalam mewujudkan lingkungan yang bersih, sehat, dan berkelanjutan. Melalui kolaborasi antara masyarakat, pemerintah, dan perguruan tinggi, model ini juga berpotensi direplikasi di berbagai daerah di Indonesia sebagai bagian dari upaya bersama mengurangi timbulan sampah dan memperkuat budaya pengelolaan sampah dari sumbernya. HUMAS UNS
Pertanyaan Umum (FAQ)
Apa tujuan utama workshop pengelolaan sampah di Baluwarti?
Tujuan utamanya adalah membangun kemandirian masyarakat dalam mengelola sampah rumah tangga agar dapat mengurangi timbunan sampah dan menciptakan lingkungan yang lebih sehat dan berkelanjutan. Lihat di artikel
Bagaimana konsep zero waste diterapkan dalam workshop ini?
Konsep zero waste berfokus pada mengubah sampah menjadi sumber daya bermanfaat dengan menyisakan residu seminimal mungkin, melalui pemilahan dan pengolahan sampah dari rumah. Lihat di artikel
Bagaimana cara mengolah sampah organik yang diajarkan?
Sampah organik dapat diolah menjadi kompos, dimanfaatkan melalui lubang biopori, budidaya maggot, pakan ternak, atau dikelola secara komunal melalui layanan Saberling. Lihat di artikel
Apa kontribusi kegiatan ini terhadap Sustainable Development Goals (SDGs)?
Kegiatan ini berkontribusi pada SDG 4 (Pendidikan Berkualitas), SDG 12 (Konsumsi dan Produksi Bertanggung Jawab), dan SDG 17 (Kemitraan untuk Mencapai Tujuan). Lihat di artikel
















