UNS – Guru Besar Bidang Ilmu Keolahragaan Fakultas Keolahragaan (FKOR) Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta, Prof. Dr. Sapta Kunta Purnama, M.Pd., memberikan penjelasan terkait dunia keolahragaan disabilitas di tanah air. Hal ini disampaikan Prof. Kunto dalam konferensi pers “Komitmen Pemerintah untuk Kesetaraan Bidang Prestasi Olahraga”, Kamis (10/10/2024). Beliau yang juga menjabat sebagai Ketua Bidang Pembinaan Prestasi National Paralympic Committee (NPC) Indonesia, menerangkan bahwa NPC Indonesia membuat peta jalan atlet yang dipersiapkan menuju paralimpiade.
NPC Indonesia sebagai wadah yang bertanggung jawab sepenuhnya untuk menghimpun, membina, melatih dan membentuk atlet olahraga disabilitas yang berkualitas dan bertaraf Internasional. NPC Indonesia turut mengkoordinasikan setiap kegiatan olahraga disabilitas baik ditingkat Daerah, Nasional maupun Internasional.
“Komite khusus untuk menangani olahraga yang dipertandingkan di level elite yang nanti muaranya (ajang) paralimpiade adalah NPC Indonesia,” ujar Prof. Kunto.

Pekan Paralimpiade Nasional (Peparnas) XVII Solo, Jawa Tengah yang telah sampai diujung penyelenggaraan menjadi ajang NPC Indonesia untuk mencari bibit-bibit atlet baru. Terdapat pemantau bakat dan potensi yang ditempatkan di setiap venue Cabang Olahraga (Cabor) Peparnas. Upaya ini mengingat belum banyak kompetisi nasional lain yang bisa digunakan sebagai barometer penyeleksian.
“Untuk Peparnas ini juga sebagai ajang untuk mencari bibit-bibit baru. Kami di setiap venue memantau. Salah satunya, 16 atlet di Cabor para atletik itu juga sudah terpantau menjadi potensi baru yang nanti bisa kami kembangkan. Termasuk di Cabor para panahan ini juga ada 2 yang prestasi luar biasa di Peparnas menjadi catatan untuk kami kembangkan,” terang Beliau.
Untuk jangka pendek, gelaran Peparnas XVII memantau atlet dalam persiapan ASEAN Para Games (APG) 2026 di Thailand. NPC Indonesia telah mempersiapkan strategi berjenjang, salah satunya melalui Peparnas, sebagai pemantauan atlet pada Cabor baru diajang multinasional tersebut. Hal ini mengingat terdapat 20 Cabor pada APG 2026 di Thailand. Jumlah ini meningkat dibandingkan pada perhelatan APG sebelumnya di Kamboja pada 2023 yang berjumlah 14 Cabor.
“APG di Thailand itu mempertandingkan 20 Cabor, sekarang ini kami juga mempersiapkan (atlet) untuk 20 Cabor tersebut,” tuturnya.
Prof. Kunto turut menyampaikan, UNS dalam beberapa tahun ini telah memberikan apresiasi dan dukungan kepada atlet-atlet disabilitas dalam melanjutkan pendidikan. Berbagai beasiswa jenjang Sarjana hingga Doktor tersedia bagi atlet disabilitas berprestasi baik ditingkat nasional maupun internasional. Hal tersebut memang sudah menjadi kebijakan UNS sebagai kampus inklusi dan mendukung prestasi atlet.
“Sekarang ini di FKOR UNS ada 7 atlet disabilitas yang berkuliah di FKOR dan bahkan ada yang sudah lulus. Ada juga Karisma Evi, sebetulnya merupakan mahasiswa Fisip (red: Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik) UNS. Ini kebijakan UNS dalam mendukung inklusivitas perguruan tinggi dan mendukung pencapaian atlet tersebut,” terangnya.
Terkait dengan cara menjadi atlet disabilitas yang tangguh, Prof. Kunta menjelaskan bahwa klasifikasi kecacatan yang tepat menjadi modal awal yang penting. Terdapat penomoran dan interval dalam menentukan klasifikasi tertentu untuk seorang atlet disabilitas. Klasifikasi menjadi hal yang utama dalam memproyeksikan potensi Cabor yang dapat digeluti.
“Yang utama adalah pada klasifikasi. Makanya sekarang ini, pengklasifikasian harus terkonfirmasi secara tepat. Setelah itu kemudian bisa kami bina dan bisa bersaing di tingkat internasional,” pungkasnya.
Humas UNS
















