SOLO – Untuk pertama kalinya dalam sejarah Jepang tradisi Koh-Do atau tradisi peramuan wewangian ala Jepang tampil di hadapan publik. Peragaan Koh-Do akan ditampilkan dalam Seminar Internasional Tradisi Wewangian (Jawa-Jepang) oleh Universitas Sebelas Maret (UNS) Solo pada 13 Desember 2012 di Kusuma Sahid Prince Hotel, Solo.
“Tradisi Koh-Do sudah berusia 1.200-an tahun di Jepang dan tidak pernah ditampilkan ke publik. Untuk pertama kalinya Koh-Do akan ditampilkan ke publik karena pihak kerajaan (Jepang) sudah memberikan ijin,” kata Ketua Institut Javanologi Sahid teguh Widodo, S.S, M.Hum, Ph.D. dalam jumpa pers di rumah makan Phuket, Solo, pada Kamis (29/11/2012) siang.
Tradisi Koh-Do akan di peragakan oleh ibu-ibu Jepang yang ahli dalam bidang wewangian Koh-Do. Tak hanya Koh-Do, seminar tersebut juga menghadirkan beberapa pakar tradisi wewangian dari Malaysia, dan China termasuk Indonesia. Pakar wewangian Indonesia yang akan hadir adalah Presiden Direktur PT Mustika Ratu Dr. Hj. BRA Mooryati Soedibyo, M.Hum.
Sahid menerangkan, wewangian adalah sebuah tradisi. Ia memiliki nilai filosofis yang dipakai dalam berbagai ritual demi memenuhi estetika dan spiritual dalam kehidupan. Sebagai contoh misalnya, aroma wewangian bunga melati bisa menambah gairah saat hendak berhubungan badan. Selain itu, ada beberapa wewangian lain asli Indonesia yang memiliki manfaat tersendiri, seperti: kopi dan bawang.
Seminar internasional tersebut merupakan hasil kerjasama antara Institut Javanologi Lembaga Penelitian dan Pengembangan Masyarakat (LPPM) Universitas Sebelas Maret Solo dengan Kokushikan University, Tokyo, Jepang. Rencanya, Duta Besar Jepang untuk Indonesia Yosinori Katori akan hadir dalam seminar.
Selain itu, Institut Javanologi juga menggelar seminar nasional, lomba desain lurik, dan peragaan busana yang juga bertemakan lurik secara marathon. Dalam seminar nasional yang bertajuk Menggali dan Mengembangkan Tenun Lurik sebagai Produk Unggulan Budaya Nusantara dalam Perspektif Global itu akan digelar peragaan busana sekaligus peragaan Alat Tenun Bukan Mesin (ATBM) atau yang lebih dikenal tenun gendong.
“Nantinya kegiatan ini akan melibatkan pakar lurik dari Museum Tekstil Jakarta, desainer, dan seniman lurik yang tergabung dalam Himpunan Perancang Busana Indonesia,” tutur Ketua panitia seminar nasional Dr. Supana, M.Hum.
Pada kesempatan yang sama juga diumumkan juara lomba desain lurik yang telah digelar pada 6-24 Oktober lalu. Juara I diraih oleh Utsman Amiruddin Sulaiman (SUkoharjo), Juara II Puput Rohmadi (Sukoharjo), dan Juara III Widhia A. (Karanganyar).[]


















