Alumnus UNS Annita Viesta Nirmala Dewi mengikuti misi kesehatan di Kepulauan 3T pada Juli 2026. Ia memberikan edukasi kesehatan reproduksi dan pencegahan narkoba kepada remaja di Pulau Raas, Bluto, Karamian, dan Masalembu.
UNS — Berlayar selama belasan hingga puluhan jam dari Pelabuhan Kalimas, Surabaya, menjadi pengalaman yang tak terlupakan bagi Annita Viesta Nirmala Dewi, S.Tr.Keb., MPH., Alumnus Program Studi Kebidanan, Fakultas Kedokteran, Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta. Bersama Rumah Sakit Kapal Ksatria Airlangga, Annita mengikuti misi “Deteksi Dini dan Upaya Promotif, Preventif, dan Kuratif Menuju Pulau Sehat, Produktif, dan Bahagia” pada 12–25 Juli 2026 di Bluto, Pulau Raas, Pulau Karamian, dan Pulau Masalembu.
Perjalanan panjang melintasi laut menjadi awal untuk melihat langsung kehidupan masyarakat di wilayah kepulauan. Di beberapa pulau, akses air bersih masih terbatas sehingga masyarakat harus menampung air untuk kebutuhan sehari-hari. Listrik juga hanya menyala pada malam hari dengan bantuan generator diesel. Meski hidup dengan berbagai keterbatasan, masyarakat menyambut kedatangan tim dengan hangat dan penuh antusias. Selama kegiatan berlangsung, Rumah Sakit Kapal Ksatria Airlangga memberikan pelayanan kesehatan spesialistik kepada sekitar 120-160 pasien di setiap lokasi. Annita turut membantu proses triase dan pengukuran antropometri untuk mendukung kelancaran pelayanan.
Di sisi lain, tanggung jawab utamanya adalah memberikan edukasi kesehatan kepada sekitar 410 remaja, yang terdiri dari sekitar 130 peserta di Bluto, 140 peserta di Pulau Raas, 80 peserta di Pulau Karamian, dan 60 peserta di Pulau Masalembu. Materi edukasi disesuaikan dengan permasalahan kesehatan di masing-masing wilayah. Di Bluto dan Pulau Raas, tingginya kasus pernikahan dini membuat Annita mengangkat isu pencegahan pernikahan dini melalui edukasi kesehatan reproduksi menggunakan metode ceramah interaktif dan Focus Group Discussion (FGD). Sementara itu, di Pulau Karamian dan Pulau Masalembu, edukasi difokuskan pada pencegahan penyalahgunaan zat adiktif dengan metode role play agar peserta dapat berlatih menghadapi situasi berisiko dan menghindari pengedar narkotika dalam kehidupan sehari-hari.
“Saya percaya bahwa remaja harus dijaga agar terus berdaya dan sejahtera, sebab mereka merupakan tonggak keberlangsungan suatu bangsa,” terang Annita kepada uns.ac.id, Selasa (4/8/2026).






Annita bercerita bahwa setiap pulau memberikan pengalaman yang berbeda. Di Pulau Raas, sebagian remaja tampak lebih pendiam dan membutuhkan pendekatan yang lebih personal agar berani menyampaikan pendapat. Sebaliknya, remaja di Pulau Karamian sangat aktif berdiskusi dan antusias mengikuti setiap sesi. Di Pulau Masalembu, beberapa peserta bahkan secara sukarela maju untuk memerankan skenario dalam kegiatan role play. Perbedaan tersebut membuat Annita menyadari bahwa metode edukasi tidak dapat disamaratakan, tetapi perlu disesuaikan dengan karakter masyarakat setempat.
Akan tetapi, hal yang paling membekas bagi Annita bukanlah perjalanan panjang maupun keterbatasan fasilitas di wilayah kepulauan. Di tempat yang listriknya hanya menyala sekitar dua hingga tiga jam setiap malam dan jaringan internet yang belum sepenuhnya stabil, ia justru bertemu dengan remaja-remaja yang memiliki mimpi besar. Banyak dari mereka bercerita ingin melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi. Antusiasme mereka saat berdiskusi, bertanya, dan mengikuti setiap sesi edukasi membuat Annita percaya bahwa keterbatasan bukanlah penghalang untuk terus bermimpi.
“Menurut saya, pengabdian bukan hanya tentang datang untuk memberikan edukasi. Saya belajar bahwa setiap daerah memiliki kebutuhan dan cara belajar yang berbeda. Ketika kita mau mendengarkan dan menyesuaikan pendekatan, pesan kesehatan menjadi lebih mudah diterima. Pengalaman ini mengingatkan saya bahwa menjadi tenaga kesehatan bukan hanya tentang memberikan pelayanan, tetapi juga membangun kepercayaan dan tumbuh bersama masyarakat,” imbuh Annita.
Kegiatan ini mendukung Sustainable Development Goals (SDGs) 3 yaitu Kesehatan yang Baik dan Kesejahteraan melalui pelayanan kesehatan serta edukasi promotif dan preventif bagi masyarakat di wilayah kepulauan. Bagi Annita, pengabdian ini bukan sekadar perjalanan menuju daerah Tertinggal, Terdepan, dan Terluar (3T), tetapi juga pelajaran berharga bahwa di balik segala keterbatasan, selalu ada semangat untuk belajar, berkembang, dan meraih masa depan yang lebih baik. HUMAS UNS
Pertanyaan Umum (FAQ)
Apa yang dilakukan Alumnus UNS di Kepulauan 3T?
Alumnus UNS Annita Viesta Nirmala Dewi mengikuti misi kesehatan untuk memberikan pelayanan dan edukasi kesehatan kepada masyarakat, khususnya remaja, di wilayah kepulauan. Lihat di artikel
Bagaimana kondisi masyarakat di wilayah kepulauan yang dikunjungi?
Masyarakat di kepulauan tersebut menghadapi keterbatasan akses air bersih dan listrik, namun menyambut tim dengan hangat dan antusias. Lihat di artikel
Materi edukasi kesehatan apa saja yang diberikan kepada remaja?
Materi edukasi mencakup pencegahan pernikahan dini melalui kesehatan reproduksi dan pencegahan penyalahgunaan zat adiktif. Lihat di artikel
Apa pelajaran berharga yang didapat Annita dari pengabdian ini?
Annita belajar bahwa setiap daerah memiliki kebutuhan dan cara belajar yang berbeda, serta pentingnya mendengarkan dan menyesuaikan pendekatan. Lihat di artikel


















