UNS – Bincang Karya (BIANKA) Session 2 kembali digelar oleh Atase Pendidikan dan Kebudayaan (Atdikbud) United State of America (USA), Rabu (15/7/2020). Mengangkat tema Marine Mega Biodiversity (Keaneka-ragaman Hayati Laut) agenda tersebut menghadirkan pembicara ahli baik yang saat ini berada di Indonesia atau tinggal di Amerika Serikat. Kegiatan tersebut dilaksanakan secara daring melalui Zoom Clouds Meeting dan live streaming di kanal Facebook dan YouTube Atdikbud USA dipandu oleh Prof. Popy Rufaidah selaku Atase Pendidikan dan Kebudayaan Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) Washington DC, USA.
Ketua Majelis Rektor Perguruaan Tinggi Negeri Indonesia (MRPTNI) yang sekaligus sebagai Rektor Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta, Prof. Jamal Wiwoho hadir sebagai pemantik diskusi bersama Rionald Silaban, SH, LLM selaku Direktur Utama Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) Indonesia. Pada kesempatan tersebut disampaikan oleh Rionald Silaban bahwa saat ini terdapat 337 penerima beasiswa baik awardee maupun alumni yang mempelajari bidang kelautan maupun biodiversity yang tersebar diseluruh dunia. Sebanyak 76 mahasiswa sedang menjalani proses studi bidang kemaritiman di universitas berbagai negara, 14 diantaranya ada di Amerika Serikat.
Menteri Kelautan dan Perikanan Republik Indonesia, Dr. Edhy Prabowo, SE, MM, MBA., mengawali agenda dengan penyampaian topik “Marine Mega Biodiversity : Strategic Action”. Pada kesempatan tersebut dijelaskan kondisi kelautan dan perikanan di Indonesia yang memiliki keragaman biota laut. Akan tetapi kekayaan tersebut mendapatkan berbagai ancaman yang berpotensi merusak bahkan terjadinya kepunahan. Beberapa upaya dilakukan pemerintah untuk mengelola biodiversitas kelautan Indonesia. Terdapat empat komponen penting pendukung terwujudnya hasil maksimal melestarikan biota laut yaitu Sumber Daya Manusia (SDM) berkualiats, data dan sistem informasi yang terintegrasi, lembaga serta regulasi yang tepat dan mendukung serta terakhir pendanaan.
Usai menyampaikan materi, Menteri Kelautan dan Perikanan menyinggung bidang pendidikan terkait dengan belum maksimalnya program studi yang berkaitan dengan bidang kelautan dan perikanan di Indonesia. Secara praktik lapangan hal tersebut masih bisa dimaksimalkan oleh perguruan tinggi dengan memberikan fasilitas serta pengajaran yang tepat terhadap mahasiswanya untuk terjun ke lapangan.
“Banyak kampus-kampus di Indonesia yang memiliki jurusan perikanan namun jurusan perikanan itu tidak punya kapal untuk belajar menangkap ikan. Bagaimana mungkin kita serahkan laut kita kepada orang-orang yang tidak paham tentang laut,” tutur , Dr. Edhy Prabowo, SE, MM, MBA.,
Prof. Jamal selaku ketua MRPTNI merespon positif pernyataan tersebut. Perbaikan dan pengembangan diberbagai program studi memang perlu ditingkatkan, salah satunya program studi di bidang kelautan dan perikanan tentu harus dilakukan penyesuaian supaya mahasiswa tidak pandai secara teori tetapi bisa mempraktikannya secara langsung.
“Harapannya semoga pada diskusi hari ini bisa memberikan manfaat sehingga tidak ada lagi statement dari fakultas atau program studi bidang perikanan yang mengatakan ‘kami tak bisa menangkap ikan’,” tutur Prof. Jamal
Selanjutnya pada kesempatan tersebut hadir dua mahasiswa yang saat ini sedang menempuh pendidikan di Negeri Paman Sam ini. Kedua mahasiswa tersebut ialah Zulfirman Rahyantel Shut (Mahasiswa program master, School of Natural Resources, University os Missouri-Columbia, Missouri) dan Aji Bayu Anggoro, M.Sc (Ph.D Student, University of California Los Angles (UCLA)). Kesempatan pertama digunakan oleh Zulfirman Rahyantel Shut menyampaikan materi `Community Engagement in Marine Protected Area`. Kemudian dilanjutkan `Marine Biodiversity (Keanekaragaman Hayati Laut)`. HUMAS UNS
Reporter: Ratri Hapsari
Editor: Dwi Hastuti
















