UNS — Melalui Zoom Cloud Meetings dan siaran kanal YouTube, Program Studi Magister Seni Rupa Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta kembali menyelenggarakan kuliah bersama Pascasarjana Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta. Diikuti para dosen dan mahasiswa kedua institusi, kuliah bersama ini merupakan penyelenggaraan ketiga kalinya.
Menghadirkan Dr. Bedjo Riyanto, M.Hum dan Dr. Prayanto Widyo Harsanto, M.Sn sebagai pembicara, kuliah tersebut mengulas bagaimana penelitian yang dilakukan secara praktis oleh para pembicara bersama tim masing-masing. Keduanya juga memaparkan lebih lanjut mengenai salah satu penelitian yang telah dilakukan pada masa pandemi Covid-19.
Mengawali materi, Dr. Bedjo, mencoba menjelaskan beberapa poin terkait penelitian dengan bahasan ringan. Dosen Magister Seni Rupa UNS ini pun mengajak para peserta untuk memandang riset dengan lebih sederhana, sehingga riset dapat dijalankan dengan lebih menyenangkan. Khususnya dalam hal ini adalah riset visual.
Setidaknya, kata Dr. Bedjo, ada tiga unsur yang dilibatkan dalam sebuah riset. Pertama, unsur manusia atau orang. Yakni pihak yang membuat sesuatu, membuat seni, desain, karya lainnya, baik secara berkelompok maupun personal.
Kedua, objek. Sesuatu yang dihasilkan (desain, produk industri, dsb). Ketiga, orang yang mengonsumsi, yang mendayagunakan, dan yang mengapresiasi apa-apa yang dihasilkan oleh ‘produsen’.
“Riset dan menulis itu sederhananya mengeksplorasi, mengamati, menyenangi, berusaha mengungkapkan dan menceritakan dari tiga hal itu tadi (tiga unsur). Istilah kerennya ada genetic factors, objective factors, dan affective factors,” jelas Dr. Bedjo yang juga merupakan Dosen S1 DKV UNS ini, Jumat (20/8/2021).
Dr. Bedjo menambahkan, kajian yang menggunakan genetic factors disebut dengan kajian historicism. Kajian ini lebih menekankan pada manusia (artis, desainer, kreator) dengan segala aspek kebudayaan, peradaban sosial, serta latar belakang sosiokulturnya.
Sementara itu, jika konsentrasi penelitian hanya berkutat pada karyanya (objective factors), maka disebut kajian formalisme. Produk penelitian semacam ini mengutamakan dan menonjolkan informasi dan analisis terkait faktor objektif.
Dan yang ketiga, ialah kajian emosionalisme. Riset yang berfokus pada affective factors atau unsur audiens. Yakni bagaimana respons audiens, respons penikmat karya, respons pelanggan, dan pihak-pihak yang mengapresiasi produk.
Ketiga kajian tersebut, tutur Dr. Bedjo, tentu mempunyai relevansi dan nilai masing-masing. Nilai tergantung kepada kepentingan, perspektif atau paradigma yang diikuti dan dipakai. “Yang penting, yang diutamakan itu menarik, bisa dimengerti dan dipahami, punya daya manfaat bagi masyarakat yang membutuhkan. Di sisi lain, yang membutuhkan itu sifatnya kompleks dan segmented. Sekarang ini kepentingan dan persoalan itu akan terkait dengan segmen sosial,” imbuhnya.

Sementara itu, Dr. Prayanto menekankan pentingnya adaptasi dalam melakukan riset selama pandemi Covid-19. Dosen S1 Prodi DKV ISI Yogyakarta ini menuturkan, pandemi Covid-19 memang berimbas ke dunia penelitian. Khususnya riset bidang ilmu sosial dan humaniora yang memang banyak terjun ke lapangan.
“Kami pun mencoba beradaptasi terkait dengan rencana riset tadi. Adaptasi harus dilakukan dengan tetap menjaga keamanan peneliti dan subjek penelitian, serta fleksibilitas. Namun, tetap dapat mencapai tujuan penelitian dengan kualitas dan kredibilitas yang terjaga,” ungkapnya.
Dalam sambutannya, Lulu Purwaningrum M.T., Ph.D., selaku Kepala Prodi Magister Seni Rupa UNS yang juga hadir menuturkan dan berharap kolaborasi dengan Pascasarjana ISI Yogyakarta dilanjutkan dengan berbagai kegiatan lain ke depannya. “Kita tidak akan hanya perkuliahan, mungkin workhsop, penelitian bersama, atau karya bersama,” jelasnya. Humas UNS
Reporter: Kaffa Hidayati
Editor: Dwi Hastuti
















