UNS Angkat Nilai Kepemimpinan dan Pengabdian melalui Pagelaran Wayang Kulit “Pandhawa Labuh”

UNS Angkat Nilai Kepemimpinan dan Pengabdian melalui Pagelaran Wayang Kulit “Pandhawa Labuh”

UNS menggelar pagelaran wayang kulit “Pandhawa Labuh” pada 13 Juni 2026 dalam rangka Dies Natalis ke-50. Pertunjukan di Halaman Gedung dr. Prakosa ini bertujuan menyampaikan nilai kepemimpinan bijaksana, integritas, dan pengabdian, yang relevan dengan tantangan UNS saat ini.

UNS — Pagelaran wayang kulit dengan lakon “Pandhawa Labuh” yang digelar dalam rangka Dies Natalis ke-50 Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta pada Sabtu (13/6/2026) di Halaman Gedung dr. Prakosa UNS tidak hanya menyuguhkan hiburan bagi sivitas akademika dan masyarakat umum, tetapi juga menjadi media penyampaian nilai-nilai luhur kehidupan. Melalui kisah yang sarat makna, pertunjukan tersebut mengajarkan pentingnya kepemimpinan yang bijaksana, integritas dalam bertindak, serta semangat pengabdian kepada sesama demi mewujudkan kemaslahatan bersama.

Rektor UNS, Prof. Dr. Hartono, dr., M.Si. dalam sambutannya menyampaikan bahwa lakon “Pandhawa Labuh” yang dibawakan oleh Dalang Ki Purbo Asmoro, S.Kar., M.Hum. mengisahkan perjuangan para Pandhawa menghadapi dunia yang dipenuhi angkara murka, kerakusan, dan ketidakjujuran. Di tengah berbagai tantangan tersebut, para Pandhawa tetap berpegang teguh pada dharma dan menempuh perjalanan panjang yang dilandasi pendidikan, pembelajaran budi pekerti, serta pengabdian kepada sesama.

Kisah tersebut diawali dengan perjuangan Pandhawa membaca situasi Negeri Ekacakra yang masyarakatnya hidup dalam penderitaan akibat kepemimpinan yang sewenang-wenang. Setelah berhasil membebaskan negeri itu, mereka melanjutkan perjuangan untuk menata Wanamarta, menyatukan berbagai perbedaan, membangun harmoni, dan mewujudkan negeri yang maju, adil, serta sejahtera.

Nilai-nilai tersebut dinilai sangat relevan dengan perjalanan UNS saat ini. Sebagai perguruan tinggi, UNS menghadapi berbagai tantangan zaman yang semakin kompleks dan dituntut untuk terus beradaptasi melalui penguatan kualitas pendidikan, pengembangan riset yang berdampak, perluasan kolaborasi, serta menjaga integritas sebagai fondasi utama kemajuan institusi.

“Sebagaimana Pandhawa yang menjadikan dharma sebagai pedoman dalam setiap langkahnya, UNS juga berupaya menapaki masa depan dengan menjunjung tinggi nilai kejujuran, keilmuan, kemanusiaan, dan Pengabdian kepada Masyarakat,” tambahnya.

Melalui semangat gotong royong seluruh sivitas akademika dan dukungan berbagai pemangku kepentingan, UNS berharap dapat terus berkembang menjadi institusi yang memberikan manfaat seluas-luasnya bagi bangsa dan negara.

Lebih lanjut, Prof. Hartono menegaskan bahwa wayang bukan sekadar tontonan, melainkan tuntunan. Di dalamnya tersimpan kearifan, nilai moral, filosofi kepemimpinan, keteladanan, dan kebijaksanaan yang tetap relevan sepanjang masa.

“Melalui pagelaran ini, kita tidak hanya merawat warisan budaya adiluhung bangsa, tetapi juga mengambil hikmah untuk menghadapi tantangan kehidupan masa kini dan masa depan,” imbuhnya.

Pada kesempatan tersebut, Prof. Hartono juga menyampaikan apresiasi dan terima kasih kepada seluruh pihak yang telah mendukung dan bekerja keras sehingga pagelaran wayang kulit “Pandhawa Labuh” dapat terselenggara dengan baik. HUMAS UNS

Pertanyaan Umum (FAQ)

Apa makna dari pagelaran wayang kulit “Pandhawa Labuh” yang diadakan UNS?

Pagelaran ini menyuguhkan hiburan sekaligus menjadi media penyampaian nilai-nilai luhur kehidupan seperti kepemimpinan bijaksana, integritas, dan semangat pengabdian kepada sesama. Lihat di artikel

Siapa dalang yang membawakan lakon “Pandhawa Labuh” di acara UNS?

Lakon “Pandhawa Labuh” dibawakan oleh Dalang Ki Purbo Asmoro, S.Kar., M.Hum. Lihat di artikel

Nilai-nilai apa yang ditekankan dalam kisah “Pandhawa Labuh”?

Kisah ini menekankan perjuangan para Pandhawa dalam menghadapi angkara murka, kerakusan, dan ketidakjujuran, serta berpegang teguh pada dharma. Lihat di artikel

Bagaimana kisah “Pandhawa Labuh” merepresentasikan perjalanan UNS?

Kisah ini relevan dengan tantangan kompleks yang dihadapi UNS, menuntut adaptasi melalui penguatan pendidikan, riset, kolaborasi, dan integritas. Lihat di artikel

Apa pesan Rektor UNS mengenai pagelaran wayang ini?

Rektor menegaskan bahwa wayang bukan sekadar tontonan, melainkan tuntunan yang menyimpan kearifan, nilai moral, dan kebijaksanaan.