UNS – Pada era digital masa kini, kecakapan untuk mengasah kemampuan diri perlu dilakukan secara terus-menerus. Dunia yang terus berkembang, menuntut tiap individu untuk menguasai teknologi dan memanfaatkannya semaksimal mungkin dalam segala aspek kehidupan. Menyikapi hal ini, Detikcom menggelar acara Detikcom Goes To Campus dengan fokus Workshop Digital Journalism pada Selasa (3/3/2020) di Lantai 4 Gedung Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LPPM) Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta.
Pada acara ini, terdapat 2 pembicara utama yaitu Ardhi Suryadhi selaku Vice Editor in Chief Detikcom dan juga Fuad Fariz selaku Managing Editor Detikcom. Masing-masing pembicara menyampaikan materi yang berbeda. Pada sesi pertama, Ardhi mengulas tuntas mengenai Digital Journalism.
Sebelum memasuki materi, Ardhi menegaskan bahwa seseorang yang ingin masuk ke dalam dunia media mau pun jurnalis, mereka tidak harus berasal dari Program Studi (Prodi) Ilmu Komunikasi.
“Ga perlu khawatir kalau misalkan kalian bukan berasal dari Ilmu Komunikasi, tetapi ya mungkin kita kan nggak tau nasib kalian kedepannya, ada yang menjadi PR (public relation), wartawan tapi nggak dari FISIP,” ujar Ardhi.
Pada jurnalisme digital, jurnalis dituntut untuk selalu update dan running agar informasi dapat tersampaikan ke khalayak dengan cepat. Indonesia sendiri merupakan negara dengan jumlah media terbanyak. Berdasarkan data yang diperoleh dari Dewan Pers terdapat sebanyak 47.000 media yang tersebar di seluruh Indonesia.
Sekarang, kebiasaan user lebih sering menggunakan ponsel untuk mengakses berbagai hal. Juga, pada generasi zillenial yakni sebutan yang diberikan Ardhi pada gabungan antara generasi Z dan juga generasi millenial, mereka lebih senang dalam visual dan minim dalam membaca. Maka, menyikapi hal ini dibuatlah infografis yang dapat menyajikan informasi pada zillenial yang gemar bersosial media utamanya Instagram.
Pada sesi kedua yang disampaikan oleh Fuad Fariz, ia membahas mengenai Mobile Phone Video Journalist. Fuad menyampaikan bahwa paling tidak terdapat 100 video yang dihasilkan Detik setiap harinya.
“Produksi secepat mungkin supaya kita bisa mengejar peristiwa, info, dan artikel,” ujar Fuad.
Pada masa kini, video yang dibuat dalam berita tidak harus menggunakan kamera DSLR, cukup menggunakan ponsel pintar yang praktis. Platform untuk live streaming pada masa kini sudah banyak. Maka, perlu juga produksi video yang informatif guna memanfaatkan platform yang tersebar luas.
Kuncinya, dalam membuat video jurnalis mengenakan ponsel, terdapat 3 hal utama yakni visual, faster, dan simple. Visual berarti menarik untuk dilihat dan cukup informatif. Faster maksudnya video harus dibuat dengan cepat, tidak harus menunggu jam tayang, kapan pun bisa ditonton, dan tidak terbatas waktu dan harus simple. Humas UNS/Zalfaa
















