UNS – Riset terkait potensi daging dan telur omega-3 mengantarkan Prof. Ir. Lilik Retna Kartikasari, M.P., M.Agr.Sc., Ph.D., IPU., ASEAN Eng., menjadi Guru Besar baru Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta. Pengukuhannya dilaksanakan dalam Sidang Terbuka Senat Akademik UNS di Auditorium G.P.H. Haryo Mataram, Kamis (19/12/2024). Prof. Lilik menjadi Guru Besar ke-7 pada Fakultas Peternakan (Fapet) dan ke-324 di UNS.
Prof. Lilik dikukuhkan sebagai guru besar dalam ilmu kepakaran Teknologi Hasil Ternak. Pidato inaugurasi yang disampaikannya mengangkat judul “Potensi Daging dan Telur Omega-3 sebagai Pangan Fungsional Berkelanjutan”. Sejumlah rekomendasi Beliau sampaikan terkait upaya menghasilkan pangan fungsional dengan kandungan gizi terbaik.
Dalam pidato pengukuhannya, pangan fungsional dinilai memainkan peran krusial dalam mendukung kebijakan pemerintah Indonesia. Khususnya dalam mencapai tujuan pembangunan berkelanjutan atau Sustainable Development Goals (SDGs). Pangan fungsional yang Beliau tekankan dalam pidato pengukuhannya adalah produk ternak, seperti daging dan telur.
Dengan kemajuan teknologi pakan ternak saat ini, daging dan telur dengan profil nutrisi yang lebih baik dapat dihasilkan. Asam lemak Omega-3 tidak jenuh ganda yang lebih tinggi menjadi kandungan yang dapat tersedia di dalamnya. Manfaatnya tidak hanya meningkatkan nilai gizi produk, tetapi juga berpotensi menurunkan kadar kolesterol.
Dekan Fakultas Peternakan UNS tersebut membeberkan cara agar kandungan sebuah telur kaya asam lemak omega-3. Hal ini dapat dihasilkan dengan pemberian formulasi pada pakan ayam. Sumber bahan pakan yang diberikan hendaknya juga mengandung asam lemak omega-3.

Suplementasi sumber omega-3 dapat berasal dari produk hasil laut, seperti tepung ikan atau minyak ikan. Bahan-bahan tersebut dapat meningkatkan kandungan asam lemak omega-3 long chain polyunsaturated fatty acid (PUFA), EPA, dan DHA pada telur dan daging ayam. Ini merupakan kandungan asam lemak omega-3 tak jenuh ganda rantai panjang.
Bahan yang berasal dari hasil laut pada pakan ternak kerap memuncul fishy aroma dan fishy flavor. Prof. Lilik menyarankan agar menambahkan minyak ikan ke dalam pakan ayam petelur dan pedaging dengan kadar maksimum 1,5%. Langkah ini untuk menjaga kualitas organoleptik telur, sensorik produk, dan penerimaan konsumen.
Terdapat alternatif lain yang Prof. Lilik tawarkan sebagai sumber bahan pakan yang kaya asam lemak omega-3. Salah satunya adalah suplementasi bahan sumber omega-3 dari tumbuhan pada pakan ayam. Cara ini dinilai tidak menurunkan sifat sensori produk.
Beberapa sumber nabati seperti minyak biji rami, chia seed, dan kanola kaya asam lemak omega-3 dalam bentuk asam alfa-linolenat. Potensi ini dapat digunakan sebagai bahan suplementasi. Namun, tetap diperlukan rasio yang tepat antara asam linolenat (LA) dan asam alfa-linolenat (ALA) dalam pakan. Komposisinya menentukan optimasi akumulasi lemak omega-3 pada telur dan daging.
“Pada ayam broiler jenis Cobb yang diberi pakan ALA pada level 6%, total omega-3 PUFA dalam daging dada mencapai 338 mg/100 gram. Temuan ini menunjukkan bahwa ayam yang diberi pakan diperkaya ALA mampu menghasilkan telur dan daging yang memenuhi syarat minimum untuk pelabelan sebagai sumber omega-3 PUFA, yaitu 300 mg/telur atau 300 mg/100 gram daging. Produk tersebut secara organoleptik dapat diterima oleh konsumen,” terang Prof. Lilik.
Inovasi pangan fungsional kaya asam lemak omega-3 PUFA juga berpotensi menurunkan kadar kolesterol dalam telur dan daging. Dengan demikian, ini menjadi strategi penting untuk meningkatkan kesehatan masyarakat. Inisiatif yang digagas Prof. Lilik diharapkan dapat menyediakan sumber alternatif asam lemak omega-3 yang berkelanjutan dan menjawab kebutuhan gizi masyarakat.
Ketua Dewan Profesor UNS, Prof. Drs. Suranto Tjiptowibisono, M.Sc., Ph.D., menyoroti pengembangan pangan fungsional berkelanjutan sebagai upaya yang potensial. “Kita diajarkan bagaimana makan makanan yang sehat dengan peran asam omega-3 yang dapat menurunkan kolesterol baik itu di telur maupun di daging. Ini usaha yang bagus agar sustainable functional food bisa kita capai,” ujar Prof. Suranto.
Dengan memiliki Guru Besar di bidang ini, UNS turut berperan dalam menciptakan pendidikan yang lebih berkualitas, yang secara langsung mendukung pencapaian beberapa tujuan Sustainable Development Goals (SDGs) khususnya SDGs ke-4.
Humas UNS



















