UNS — Research Group (RG) Arsitektur dan Lingkungan Program Studi (Prodi) Arsitektur Fakultas Teknik (FT) Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta sukses melaksanakan pemasangan instalasi lampu tenaga surya hemat energi di Kampung Baluwarti Keraton Kasunanan Surakarta, Kamis (22/5/2025). Kegiatan ini dihadiri oleh Lurah Baluwarti beserta staf, LPMK, Pengurus RT/RW, dan tokoh Masyarakat, serta tim pengabdian dari UNS.
Pengabdian ini diketuai oleh Prof. Dr. Ars. Ir. Avi Marlina, S.T., M.T., dan beranggotakan Dr. Ars. Ir. Untung Joko Cahyono, M.Arch.; Tri Joko Daryanto, S.T., M.T.; Ir. Leny Pramesti, M.T.; Ummul Mustaqimah, S.T., M.T., dan dibantu oleh mahasiswa selaku asisten pelaksana.
Dalam sambutannya, Ketua RG Arsitektur dan Lingkungan, yaitu Prof. Dr. Ars. Ir. Avi Marlina, S.T., M.T. menyampaikan bahwa pihaknya ingin warga Baluwarti tetap bisa merasakan kenyamanan dan keindahan kampungnya tanpa kehilangan ruh budaya Jawa.
“Pernah membayangkan berjalan malam hari di gang-gang sempit kawasan Heritage Baluwarti Keraton Surakarta yang kini lebih terang, aman, dan tetap anggun dalam nuansa heritage-nya? Inilah hasil dari kerja kolaboratif antara Baluwarti dan tim dari RG Arsitektur dan Lingkungan, Prodi Arsitektur FT UNS dalam kegiatan pengabdian kepada masyarakat PKM HGR UNS,” terang Prof. Avi.
Melalui pemanfaatan energi surya, lampu jalan di kawasan heritage dipasang secara mandiri tanpa bergantung pada jaringan listrik PLN. Hal ini mendukung tujuan pembangunan berkelanjutan melalui penggunaan energi bersih dan terjangkau. Pemasangan lampu tenaga surya hemat energi sebagai Penerangan Jalan Umum Tenaga Surya (PJUTS) di titik-titik strategis, dirancang sedemikian rupa agar tetap menyatu dengan karakter bangunan heritage.
“Penerangan ini otomatis menyala dari senja hingga fajar tanpa mengandalkan jaringan listrik PLN, menjadikannya ramah lingkungan, efisien, dan kontekstual,” imbuhnya.



Baluwarti bukan sekadar kawasan kuno. Ia adalah jantung budaya Jawa yang hidup, berada di dalam kompleks Keraton Kasunanan Surakarta, dihuni oleh para bangsawan, sentana dalem, dan abdi dalem yang menjaga tradisi melalui seni, kuliner, dan kerajinan. Meski kaya potensi sebagai destinasi wisata budaya, kawasan ini menghadapi tantangan nyata. Yaitu minimnya pencahayaan malam hari yang mengurangi rasa aman dan kenyamanan warga maupun pengunjung. Penerangan yang tersedia bersifat fungsional dan terbatas, belum mampu menampilkan keindahan kekayaan visual kawasan. Padahal, pencahayaan yang tepat bisa menjadi kunci, bukan hanya untuk aspek estetika, namun juga menciptakan rasa aman serta mendukung wisata malam dan aktivitas ekonomi lokal.
“Yang istimewa adalah pendekatan desain yang tidak hanya fungsional, tapi juga estetis. Sudut pencahayaan dirancang untuk memperkuat pesona struktur benteng Keraton di Baluwarti yang sebelumnya tersembunyi dalam gelap,” tambah Prof. Avi.
Sementara itu, Lurah Baluwarti, Danang Agung Warsiyanto, S.IP., M.M. sangat mengapresiasi kegiatan ini. “Lampu tenaga surya hemat energi ini telah mempercantik dinding keraton, yang telah mewujudkan impian masyarakat Baluwarti dan Keraton,” jelasnya.
Kegiatan ini diharapkan dapat berkontribusi terhadap pencapaian Sustainable Development dan Goals (SDGs), terutama dalam Energi Bersih dan Terjangkau (SDGs-7), serta mewujudkan Kota dan Permukiman yang Berkelanjutan (SDGs-11).
Baluwarti kini tampil lebih terang dan memikat di malam hari. Detail-detail arsitektur struktur benteng Keraton di Baluwarti yang sebelumnya luput dari perhatian, kini terlihat jelas dan apik. Warga merasa lebih nyaman dan aman, diharapkan akan bermunculan inisiatif untuk menghidupkan wisata heritage di malam hari sehingga meningkatkan aktivitas ekonomi lokal.
Harapannya, model seperti ini bisa direplikasi di kampung-kampung heritage lain, tidak hanya di Solo, tapi juga di berbagai kota lain di Indonesia. HUMAS UNS


















