UNS Dorong Kemandirian Alat Kesehatan Lewat Inovasi Nano-Hidroksiapatit dari Limbah Tulang Ikan

UNS— Dalam rangka mempercepat hilirisasi riset dan penguatan ekosistem inovasi alat kesehatan dalam negeri, Kementerian Kesehatan (Kemenkes) Republik Indonesia (RI) menyelenggarakan Business Matching Inovasi, Hilirisasi, dan Penggunaan Produk Alat Kesehatan Lokal di Jakarta pada akhir 2025 kemarin. Salah satu inovasi unggulan yang dipresentasikan adalah pengembangan bubuk nano-hidroksiapatit (nHA) berbasis limbah tulang ikan, karya tim peneliti dari Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta.

Prof. Ir. Ubaidillah, S.T., M.Sc., Ph.D., IPM. dan Tim Dosen Teknik Mesin Fakultas Teknik (FT) UNS sekaligus Ketua Tim Riset Terapan memaparkan potensi besar nHA dari tulang ikan sebagai bahan baku implan ortopedi untuk coating permukaan implan logam. “Limbah tulang ikan, yang selama ini dianggap sampah industri perikanan, ternyata memiliki komposisi mineral sangat mirip dengan hidroksiapatit alami tulang manusia. Melalui proses hidrotermal dan kalsinasi terkendali, kami berhasil mengonversinya menjadi bubuk nano berukuran 20-50 nm dengan kemurnian tinggi, bioaktivitas optimal, dan biaya produksi kompetitif,” jelasnya.

Inovasi ini selaras dengan semangat circular economy dan waste-to-value, sekaligus menjawab ketergantungan impor biomaterial ortopedi yang selama ini mencapai lebih dari 90%. Hasil karakterisasi (XRD, FTIR, TEM, SEM, dan PSA) telah mengonfirmasi bahwa material ini memenuhi standar internasional untuk aplikasi implant mulai dari struktur kristal heksagonal, komposisi stoikiometris Ca/P ≈ 1,67, hingga morfologi partikel yang mendukung osteointegrasi.

Dalam sesi business matching, tim UNS menjajaki kolaborasi strategis dengan industri alat kesehatan, rumah sakit rujukan, serta UMKM presisi logam di Jawa Tengah untuk pengembangan prototipe dry-powder spray coating sebuah teknologi pelapisan implan berbasis nHA yang sedang dikembangkan dalam proyek Kesehatan.

Direktur Ketahanan Farmasi dan Alat Kesehatan Kemenkes, Dr. Jeffri Ardiyanto, M.App.Sc. dalam sambutannya menekankan bahwa inovasi seperti ini adalah kunci transformasi sistem kesehatan berdaulat. “Kita butuh lebih banyak ‘peneliti wirausaha’ seperti Prof. Ubaidillah yang tidak hanya meneliti di laboratorium, tapi juga mendorong hasilnya ke pasar nyata, untuk pasien nyata,” ujar Dr. Jeffri.

Langkah ini membuka jalan bagi Indonesia untuk tidak hanya menjadi konsumen, tetapi juga produsen biomaterial canggih berbasis sumber daya lokal dengan nilai tambah ekonomi, lingkungan, dan kemanusiaan. HUMAS UNS