UNS – Mahasiswa Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta merancang bisnis berupa inovasi Pembangkit Listrik Tenaga Mikrohidro (PLTMH) berbasis IoT. Dari ide tersebut, Tim mahasiswa UNS berhasil meraih predikat Juara 1 dalam Lomba Business Plan PENDIKAR 2025. Kompetisi ini diselenggarakan oleh BEM Sekolah Vokasi Institut Pertanian Bogor.
Delegasi UNS sebagai tim terbaik tahun ini membawa gagasan di bidang energi terbarukan. Tim mahasiswa UNS terdiri atas empat orang dari Program Studi Fisika dan Statistika. Mereka adalah Aditya Wisnu Yudha Marsudi, Rafi Ichsan Laksana, Desnia Anindy Irni Hareva, dan Mazka Buana Hidayat. Desnia selaku ketua tim menjelaskan bahwa ide bisnis mereka mengusung tema energi mikrohidro cerdas.
Rancangan bisnis ini bertajuk “AGNIVOLT: PLTMH Cerdas Berbasis Internet of Things (IoT) untuk Daerah 3T di Indonesia”. Konsep utama AGNIVOLT adalah menghadirkan pembangkit listrik mikrohidro sederhana nan cerdas untuk wilayah tertinggal, terdepan, dan terluar. Desnia bercerita, gagasan ini berangkat dari keprihatinan terhadap kondisi listrik di daerah 3T. Di sisi lain, potensi sumber daya air di Indonesia sangat melimpah.
“PLTMH sebenarnya solusi yang paling masuk akal, tapi sekarang seringkali mahal, instalasinya rumit, dan butuh perawatan khusus. Kami berpikir bagaimana caranya membuat PLTMH yang lebih sederhana, terjangkau, dan sesuai dengan kondisi nyata di lapangan. Dari situlah ide AGNIVOLT lahir,” terang Desnia kepada uns.ac.id, Senin (8/7/2025).
AGNIVOLT dirancang dengan turbin fleksibel yang mampu berputar di aliran air kecil. Sistem modularnya memungkinkan instalasi dan perawatan yang lebih mudah di berbagai medan. Selain itu, perangkat ini dilengkapi sistem pemantauan berbasis IoT yang terkoneksi melalui ponsel pintar.
Lewat sistem tersebut, operator desa bisa memantau kondisi PLTMH dari jarak jauh. Semua informasi terkait tegangan, kapasitas, dan potensi gangguan bisa diketahui secara langsung. Fitur ini diharapkan mampu menjaga pasokan listrik tetap stabil dan berkelanjutan.
“Ini membuat alatnya lebih awet dan yang terpenting, pasokan listrik untuk warga jadi lebih stabil dan bisa diandalkan,” ujarnya.
Desnia menjelaskan bahwa konsep ini tidak sekadar menghadirkan pembangkit listrik hemat biaya. AGNIVOLT melangkah lebih jauh dengan memberdayakan masyarakat lokal dalam pengelolaan energi. Oleh karena itu, pelatihan dan pendampingan teknis menjadi bagian penting dari rencana bisnis ini.
Tantangan utama saat menyusun proposal adalah soal kecocokan desain teknologi dengan target pengguna. Sistem harus efektif, tahan lama, sekaligus sesuai kondisi geografis desa 3T. Selain itu, pendekatan sosial ke masyarakat setempat menjadi hal penting yang tak boleh diabaikan.


Lebih lanjut, proyek ini tidak hanya soal instalasi alat. Mereka ingin memastikan masyarakat bisa mandiri mengoperasikan serta memelihara alat tersebut. AGNIVOLT ditargetkan menjadi solusi jangka panjang bagi desa yang selama ini kesulitan akses listrik. Tim mahasiswa UNS juga menggarisbawahi pentingnya inovasi berbasis kolaborasi lintas disiplin. Menurut mereka, pengembangan energi terbarukan tidak cukup hanya dengan kemampuan teknik. Diperlukan pula pemahaman sosial, ekonomi, dan pemberdayaan masyarakat yang menyeluruh.
“Itu yang membuat kami sadar bahwa proyek (rancangan bisnis) ini bukan sekadar proyek teknik, tapi juga proyek sosial yang butuh pendekatan dari hati ke hati,” tutur Desnia.
Potensi penerapan AGNIVOLT di Indonesia sangat besar. Negara ini memiliki ribuan daerah aliran sungai yang dapat dioptimalkan untuk energi mikrohidro. Bila dikembangkan serius, ribuan desa dapat memperoleh pasokan listrik mandiri dengan biaya terjangkau.
Tujuan utama dari inovasi ini adalah memberikan kesempatan hidup yang setara. Anak-anak di daerah 3T bisa belajar dengan penerangan memadai dan usaha kecil bisa beroperasi lancar. Mereka berharap bisa berperan dalam menciptakan keadilan energi bagi seluruh masyarakat Indonesia.
“Indonesia punya puluhan ribu Daerah Aliran Sungai (DAS) yang potensial, dan berdasarkan perhitungan, 5.200 titik DAS bisa saja terjangkau dalam lima tahun ke depan jika ide ini benar-benar dikembangkan,” ungkapnya.
Tim AGNIVOLT UNS juga berpesan kepada mahasiswa lain agar terus peduli pada isu lingkungan dan energi. Menurut mereka, inovasi kecil sekalipun dapat berdampak besar bila dikerjakan bersama. Semangat berkolaborasi lintas ilmu menjadi kunci keberhasilan sebuah proyek sosial berbasis teknologi.
Prestasi ini sekaligus menjadi bukti bahwa mahasiswa UNS mampu bersaing di level nasional. Melalui ide-ide kreatif dan solutif, mereka berkontribusi nyata untuk pembangunan berkelanjutan. UNS pun terus mendorong mahasiswanya untuk aktif berkarya di berbagai bidang strategis. UNS menyambut baik prestasi ini sebagai motivasi untuk mahasiswa lainnya.
Humas UNS



















