Yusana Windi Mulyono yang baru saja mendapatkan gelar sarjananya pada tahun 2011 lalu. Dia merupakan salah satu lulusan tercepat di jurusannya, Jurusan Kriya Tekstil, Fakultas Sastra dan Seni Rupa Universitas Sebelas Maret Surakarta. Pada tahun 2012, ia telah berhasil memulai karir wirausaha di bidang pakaian dengan membuka usaha toko batik “Cici” di Pusat Grosir Solo (PGS).

Perempuan yang hobi jalan- jalan ini mengaku bahwa salah satu kiat mencapai suksesnya sekarang adalah berani mengambil resiko. Sebagai seorang lulusan kriya tekstil, Yusana ingin mengamalkan ilmu yang ia dapat ketika masa kuliah di dalam profesi yang dijalaninya. Pasca lulus, Yusana memutuskan untuk bekerja di industri batik milik orangtuanya. Ia mengaku bahwa ia juga bekerja seperti karyawan yang lain yakni mulai pagi hingga sore hari. Disana ia belajar bagaimana mengelola bisnis batik mulai dari proses produksi hingga marketing. Dengan giat, Yusana mencermati bagaimana orangtuanya melakukan bisnis di bidang batik dan menyerap ilmu dari sana. Setelah beberapa bulan bekerja, ia memutuskan untuk keluar dan membuka toko sendiri di Pusat Grosir Solo. Yusana menjual produk buatan industri batik milik orangtuanya sehingga dia tidak mengalami banyak kesulitan dalam memulai usahanya. Meskipun tidak mengalami banyak hambatan dalam soal bahan produksi dan modal, sebagai seorang pengusaha muda yang baru memulai usaha, Yusana mendapat tantangan bagaimana ia harus memperkenalkan produknya ke para pembeli. Membuka toko batik di Pusat Grosir Solo berarti bersaing dengan ratusan toko batik yang telah lebih dulu berdiri. Dia harus berjuang mengenalkan batik dari tokonya ke semua pembeli. Dia bekerja dengan tekun dan tetap konsisten meskipun di tengah jalan ia mengalami kerugian.

Pasar batik yang kini kian diserbu dengan produk batik printing yang lebih murah menjadi salah satu alas an kenapa Yusana memilih bisnis batik cap. Misinya, dia ingin turut serta dalam upaya pelestarian batik cap tradisional. Dia percaya dengan kualitas batiknya yang tidak luntur, tidak kusut dan awet menjadikan dia mampu bersaing dengan pedagang lain di usaha ini. Terbukti dengan kembalinya para pelanggan yang mencari batiknya karena kualitasnya yang telah menjadi salah satu daya jual produknya. Selain kualitas batiknya yang bagus, Yusana selalu berinovasi dalam produknya. Ia menggunakan kesempatan untuk jalan- jalan ke pusat perbelanjaan seperti mal untuk melihat trend terbaru sehingga produk batiknya selalu update dengan trend pasar.

Bukan hal yang mudah memulai usaha sendiri pasca kehidupan kampus. Yusana dengan karakternya yang mandiri dan tidak mau diperintah orang lain memutuskan untuk berwirausaha di usianya yang masih muda. Moto hidupnya adalah Terus Semangat, karena masih banyak yang harus kita kerjakan di depan! Dengan semangat tersebut ia tekun menjalani usahanya. Yusana mengaku bahwa semua usaha yang ia kerjakan juga berangkat dari keberaniannya berspekulasi. Dia percaya bahwa jika hanya mengandalkan ketakutan dan pertimbangan- pertimbangan yang panjang maka dia hanya akan melihat kegagalan sehingga tidak akan berani memulai usahanya. Dia menegaskan bahwa itulah kunci kesuksesan dia memulai usaha. Berani berspekulasi, tekun dalam bekerja, berinovasi dan selalu melakukan evaluasi. Meskipun demikian Yusana mengerti betul bahwa dalam dunia usaha, tidak selamanya dia berada di atas. Roda usahanya pun berputar, pelanggan sepi dan ramai silih berganti.

Berbicara masalah keluarga, orangtua merupakan guru utama bagi Yusana. Selain guru dalam memaknai kehidupan, orang tua juga merupakan guru dalam usaha yang ditekuninya. Dalam menjalankan bisnis pakaian, setiap kali ia menemui kendala ia akan langsung mengkonsultasikannya dengan keluarga. Selain berperan sebagai orangtua, ayah dan ibu Yusana merupakan mentor bisnis utama yang sangat membantu karir anaknya. Kedepan, dalam karirnya perempuan kelahiran Sukoharjo ini berharap bisa mengembangkan usahanya dengan mendirikan cabang usaha di berbagai kota.[]