UNS – Menjadi seorang pendidik merupakan profesi yang sungguh mulia. Tak hanya berbagi ilmu, para pendidik juga berkesempatan membagikan pengalaman dan menginspirasi anak didiknya. Oleh karena itu, banyak orang yang bercita-cita menjadi seorang guru. Lain halnya dengan Ita Mahfudzoh, alumni Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Sebelas Maret (FKIP UNS) angkatan 2012 ini. Ia sama sekali tak pernah mengira akan menjadi pengajar di sebuah sekolah bahasa di Turki mulai September 2016 lalu.

Gadis kelahiran Batang Jawa Tengah ini mengaku bahwa minat untuk menjadi seorang guru tak pernah dirasakannya hingga masa awal perkuliahan. Kendati demikian, ia tak pernah melalaikan kewajibannya sebagai mahasiswa jurusan Pendidikan Bahasa Inggris. Ia juga aktif dalam berbagai kegiatan dan organisasi di luar kelas, AIESEC UNS misalnya, yang mempertemukannya dengan jembatan menuju Turki.

“Dulu, lowongan kerjanya ada di bidang pendidikan, marketing, dan IT. Saya yang pendidikan, pertama daftar ke AIESEC UNS. Setelah lolos interview, serahkan CV yang menarik, buat profil di sistem OGIP, interview online dengan AIESEC luar, lalu dengan company. Setelah lolos dan menerima konfirmasi, kontrak kerja dibangun,” jelas peraih juara Harapan I Duta Wisata Batang 2016 ini.

Selang satu minggu setelahnya, di awal bulan Juli 2016 dirinya diterima sebagai guru bahasa Inggris di İngiliz Kültür, sebuah sekolah bahasa di Biga, Çanakkale, Turki. Setelah menyelesaikan skripsinya dan dinyatakan lulus, di akhir bulan September 2016 ia berangkat ke Turki.

Ita Mahfudzoh mengajar bahasa Inggris pada siswa di Turki

Amanat Almarhum Ayah tentang Berbagi Ilmu

Meski awalnya tak berminat menjadi guru, alumnus yang lulus dengan predikat cumlaude ini selalu mengingat amanat dari almarhum ayahnya tentang profesi guru. Beliau selalu berkata bahwa guru bekerja untuk berbagi ilmu, dan ilmu yang dibagi tidak akan berkurang, justru sebaliknya, terus bertambah.

Ita Mahfudzoh saat berkunjung ke museum Hagia Sophia di Istanbul, Turki

Kini, Ita, yang bercita-cita untuk bekerja di luar negeri, telah menetap di Turki selama hampir lima bulan. Ia mendapat banyak pengalaman baru – penyesuaian diri pada iklim, kebudayaan, cita rasa makanan, bahasa Turki, dan lain-lain. Ita mengakui bahwa hal tersebut adalah berkah dari keikhlasan dan rasa syukur.

“Keikhlasan dan rasa syukur akan memberikan hikmah yang tidak pernah kita sangka. Awalnya saya memang tidak ingin jadi guru, tapi belajar di jurusan Pendidikan Bahasa Inggris telah menjadikan saya guru bahasa Inggris dan mengantarkan saya pada mimpi untuk bekerja di kancah internasional,” ujarnya. (Eleonora Padmasta/Dty)