Bersama dengan PBNU dan UI, UNS Gelar Seminar Nasional Humanitarian Islam dan Tantangan Global

UNS – Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta bekerja sama dengan Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) dan Universitas Indonesia (UI) menggelar Seminar Nasional Humanitarian Islam dan Tantangan Global. Seminar Nasional tersebut akan digelar di Ballroom Gedung Ki Hadjar Dewantara UNS Tower pada Rabu (11/9/2024) mendatang mulai pukul 08.30 hingga 15.00 WIB.

Dalam keterangan tertulisnya, Ketua Umum PBNU, KH. Dr. Yahya Cholil Staquf atau Gus Yahya menyampaikan bahwa dunia sedang bergerak ke arah yang tidak menentu dan semakin kompleks. Dunia menghadapi berbagai tantangan besar yang mengancam stabilitas dan kemanusiaan dari rasisme, ekstremisme, konflik dan perang hingga ketidakadilan global. Dominasi sekularisme dan neoliberalisme telah membawa dunia pada krisis yang tanpa ujung.

Namun peran agama yang kian kuat membawa dunia menuju ke arah ditemukannya keseimbangan baru. Humanitarian Islam hendak memberikan tawaran bagi diperkuatnya keseimbangan baru tersebut. Indonesia sebagai negara mayoritas Muslim dan terkenal sebagai bangsa yang selalu

mengedepankan pertimbangan agama dan spiritual dalam berbagai keputusan dan keberpihakan memiliki tanggung jawab untuk memberikan tawaran bagi solusi dunia tersebut.

KH. Dr. Yahya Cholil Staquf berinisiatif menawarkan suatu perspektif yang diinspirasi oleh ajarah Islam Ahlusunnah wal Jamaah atau Aswaja, para pendiri (muassis) Nahdlatul Ulama (NU), budaya dan tradisi nusantara serta gerakan Islam lainnya dengan Humanitarian Islam. Berbeda dengan konsep humanisme yang berakar pada sekularisme dengan penyeragaman, humanitarian Islam berakar pada ajaran dan etika Islam serta tradisi dan budaya yang berkembang di dalam masyarakat setempat, nusantara dan Indonesia dengan tetap mengormati keragaman. “Tradisi Pancasila dan Bhinneka Tunggal Ika serta Islam Rahmatan lil ‘Alamin adalah sejumlah akar yang bisa dikaji dan ditelusuri serta dikonseptualisasi untuk memberikan sumbangan bagi perdamaian dunia,” terang KH. Dr. Yahya.

Humanitarian Islam sendiri telah dicetuskan sejak 10 tahunan yang lalu dalam konteks perkembangan pemikiran dan gerakan NU sebagai kelanjutan dan perkembangan dari konsep khittah NU 1926, Pribumisasi Islam, Islam Rahmatan lil ‘Alamin, dan Islam Nusantara serta Fiqh Peradaban yang sejalan dengan konsep dasar Pancasila dan Bhinneka Tunggal Ika. Konsep Humanitarian Islam sendiri telah diperdebatkan oleh sejumlah intelektual dan akademisi di Eropa dan bagian dunia yang lain, misalnya, dalam Rüdiger Lohlker & Katharina Ivanyi (Eds.). Humanitarian Islam: Reflecting on an Islamic Concept. Brill, 2023. Humanitarian Islam atau Islam Kemanusiaan, menekankan aspek kemanusiaan dalam ajaran Islam. Prinsip-prinsip dasar seperti keadilan (`adl), kesejahteraan (al-rafahiyyah), kebaikan (mashlahah), dan kasih sayang (rahmah) menjadi landasan dalam merespons berbagai krisis yang dihadapi dunia. Dalam menghadapi radikalisme dan rasisme yang muncul selama ini, Humanitarian Islam menawarkan pendekatan yang menolak kekerasan dan mendorong dialog serta saling menghormati antaragama dan antarbudaya namun juga kritis terhadap kecenderungan dominasi liberalisme yang berlebihan.

“Humanitarian Islam juga menawarkan suatu landasan dan perspektif agama berbasis pada nilai-nilai universal dan melampaui (beyond) ideologi dan identitas. PBNU bekerja sama dengan UI dan UNS hendak mengambil bagian dalam perdebatan dan pergulatan tersebut untuk memberikan kontribusi bagi upaya menciptakan perdamaian dunia dan keadilan global dengan basis ajaran dan etika Islam dan lokalitas,” imbuhnya.

Para narasumber yang akan hadir dalam seminar ini adalah Ketua Umum PBNU, KH. Dr. Yahya Cholil Staquf; Rektor UNS, Prof. Dr. Hartono, dr. M.Si.; Rektor UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, Prof. Noorhaidi Hasan, Ph.D.; Dekan Fakultas Teknik (FT) UI, Prof. Dr. Ir. Heri Hermansyah; Dosen UNS dan Ketua Masyarakat Ekonomi Syariah Solo, Ibrahim Fatwa Wijaya, Ph.D.; Dosen FISIP UGM dan Wakil Sekretaris Jenderal (Wasekjen) PBNU, Dr. M. Najib Azca; Budayawan dan Kepala Makara Art Cetre UI, Dr. Ngatawi el Zastrow; Dekan Fakultas Islam Nusantara, Universitas Nahdlatul Ulama (UNUSIA) Jakarta, Dr. Ahmad Suaedy.

Selain itu, panitia juga mengundang para tokoh lintas iman, pimpinan Organisasi Kemasyarakatan (Ormas) keagamaan seperti Muhammadiyah, Majelis Ulama Indonesia (MUI), Konferensi Waligereja Indonesia (KWI), Persekutuan Gereja-Gereja di Indonesia (PGI), Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI), Perwakilan Umat Buddha Indonesia (Walubi), Pimpinan Perguruan Tinggi, lembaga studi dan penelitian, pesantren serta mahasiswa, sebagai peserta seminar.

“Seminar ini sendiri merupakan rangkaian kegiatan Road to International Conference on Humanitarian Islam oleh PBNU bekerja sama dengan UI yang akan diselenggarakan pada 4-7 November 2024 mendatang,” ujar KH. Dr. Yahya.

Sementara itu, Rektor UNS, Prof. Dr. Hartono, dr. M.Si. menyambut baik kegiatan Seminar Nasional Humanitarian Islam dan Tantangan Global. “UNS siap memberikan fasilitas untuk pelaksanaan seminar nasional ini. Kami berharap pelaksanaan seminar nasional ini dapat berjalan dengan lancar dan dapat memberikan manfaat untuk semua. Semoga dengan adanya seminar ini dapat Membangun jaringan kerja sama antara akademisi, praktisi, dan organisasi keagamaan dalam upaya mengatasi tantangan global,” ujar Prof. Hartono. HUMAS UNS

Redaktur: Dwi Hastuti