SOLO – Krisis keuangan di Eropa diperkirakan masih akan berlangsung dalam dua tahun ke depan. Pengaruh-pengaruh krisisn yang timbul terhadap negara lain masih akan terus menekan perekonomian Indonesia. Meskipun kondisi ekonomi dunia masih penuh dengan risiko, ekonomi Indonesia sampai dengan triwulan ke-3 tahun 2012 masih dapat tumbuh di atas 6 persen.
Demikian ungkap Direktur Keuangan Makro Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) Leonard Tampubolon dalam Seminar Outlook Perekonomian Indonesia 2013 dengan tema Prospek dan Prediksi Makro dan Ekonomi Politik 2013 di Fakultas Ekonomi Universitas Sebelas Maret (UNS), Selasa (20/11/2012).
Menyikapi hal tersebut, perlu dilakukan penyesuaian target pertumbuhan ekonomi Indonesia terutama pada sisi ekspor. “Dengan penyesuaian ini, pertumbuhan tahu 2013 yang semula ditargetkan sebesar 7 persen, dalam asumsi yang dipergunakan dalam penyusunan APBN 2013, batas atasnya menjadi 6,8 persen,” ujar Pria yang akrab disapa Leo itu.
Dia menambahkan, penyesuaian target yang juga dilakukan untuk tahun 2014 cenderung lebih rendah dari 7 persen. Sementara untuk tahun 2015 hanya sedikit di atas 7 persen. “Tahun 2014 cederung lebih rendah dari 7 persen. Dan hanya sedikit di ats 7 persen pada tahun 2015,” imbuhnya.
Untuk itu, lanjut Leo, pihaknya telah melakukan beberapa langkah konkret, seperti: mendorong industri nonmigas agar lebih kuat sehingga mampu menjadi penggerak ekonomi, mengendalikan impor dengan tepat terutama pada kelompok barang yang tidak mendorong investasi dan kegiatan produksi di dalam negeri serta subsidi BBM perlu dikendalikan dengan penyesuaian harga dalam jangka pendek dan konversi energi dalam jangka menengah/panjang.
Selain itu, “Perlu penyusunan kebijakan pengendalian dan penanganan antisipasi menghadapi pelambatan ekonomi seperti: penguatan program-program bantuan dan perlindungan sosial,” pungkasnya.[]


















