Himpunan Mahasiswa Pascasarjana UNS Gelar Diskusi Daring Mengenai Strategi Pendidikan di Masa Pandemi Covid-19

UNS – Himpunan Mahasiswa Pascasarjana (HMP) Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta mengadakan kegiatan Ngobrol Pintar (NGOPI) dengan tema Strategi Pendidikan di Tengah Masa Pandemi Covid-19 dengan pembicara Wakil Direktur (WD) 1 Bidang Akademik dan Kemahasiswaan Pascasarjana UNS, Prof. Agus Kristiyanto pada Sabtu (2/5/2020) melalui aplikasi Zoom Meeting.

Pada kesempatan diskusi daring yang dihadiri 36 orang dari berbagai daerah ini, Prof. Agus menyinggung perihal mencerdaskan kehidupan bangsa.
“Mencerdaskan orang lebih mudah daripada mencerdaskan kehidupan bangsa. Jangan terlalu bangga dengan kemajuan pendidikan saat ini, namun tetap harus menghargai, ini baru pekerjaan rumah yang kecil. Ini pekerjaan semua orang, bukan hanya guru saja karena tujuan pendidikan adalah mencerdaskan kehidupan bangsa,” ujar Prof. Agus.

Selanjutnya, pada masa pandemi seperti ini, semua orang diharapkan untuk tetap berada di rumah. Hal ini juga berdampak pada sistem pendidikan yang mengharuskan adanya strategi guna menjaga kualitas pendidikan di masa pandemi Covid-19.

Pada masa pandemi seperti ini, perlu untuk membenahi pendidikan secara sistemik. Terdapat komponen-komponen yang saling berkaitan sehingga apabila salah satu komponen tidak berfungsi maka sistem tersebut tidak akan berjalan. Dalam pendidikan, semua sistem maupun komponen sama pentingnya.

“Pendidikan mengajarkan kita semua bahwa komponen itu penting dan berfungsi dengan baik,” terang Prof. Agus.

Dalam Undang-Undang (UU) Pendidikan hanya mengenal pendidikan formal dan non formal. Pendidikan formal seperti yang ada di sekolah, sementara pendidikan non formal mengacu pada pendidikan di masyarakat. Ketika pandemi datang, orang hanya belajar di rumah. Hal ini mengingatkan semua komponen pada pendidikan informal yakni pendidikan yang ada dalam keluarga.

Peran orangtua sangat dibutuhkan yakni mereka wajib menjadi guru bagi anaknya masing-masing. Anak banyak belajar pada orangtua, salah satunya adalah mengenai pendidikan karakter, orangtua sangat berperan dalam membangun karakter anak-anaknya. Ketika belajar di rumah, fakta-fakta empirik dari luar perlu didatangkan untuk masuk ke dalam dengan menggunakan alat, misalnya pembelajaran atau komunikasi daring. Ternyata efek daring seperti saat ini, membuat iklim sosio emosional tidak lebih bagus ketika pembelajaran Luar Jaringan (Luring). Sosio emosional akan terbangun dengan baik jika komunikasi dilakukan secara langsung

Pada sesi akhir, Prof. Agus memberikan kalimat penutup dengan analogi mata lalat dan mata lebah. Perbedaan yang dapat ditemukan pada keduanya adalah pada mata lalat, matanya hanya tertuju pada hal-hal sampah yakni keburukan. Berbeda dengan mata lebah yang selalu tertuju pada hal-hal baik sekalipun ia berada di tempat yang kotor. Hal ini sama dengan pendidikan, pendidikan sebagai pandangan lokomotif yang menjadikan manusia seperti mata lebah yang semuanya tertuju pada hal-hal baik.

“Jika kita berhasil memprovokasi kepada semua orang untuk melihat ke hal-hal baik maka pendidikan akan berhasil dan menarik dan ini sesuai tujuan kita yaitu mencerdaskan kehidupan bangsa dan kitalah komponennya. Maka dari itu kita sama-sama mengasah dalam mencerdasakan kehidupan bangsa. Kriteria cerdas bangsanya ketika kita bisa hidup mandiri, berdaya saing tinggi, dan tahan banting dalam situasi apapun, khususnya dalam menghadapi pandemi ini,” tutup Prof. Agus. Humas UNS/Zalfaa