Ketua PBNU Tekankan Sikap Tasamuh dalam Kajian Tarawih Daring UNS

UNS-Kajian Tarawih Online yang diadakan secara rutin oleh Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta menghadirkan Ketua Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), KH. Marsudi Syuhud. Dengan mengangkat tema Hikmah Ramadan terhadap Sikap Toleransi dalam Berbangsa, KH. Marsudi Syuhud membahas mengenai toleransi atau tasamuh dalam pandangan Islam. Kegiatan ini dilaksanakan secara daring pada Kamis (14/5/2020) melalui channel youtube UNS dan aplikasi Zoom Meeting.

KH. Marsudi Syuhud menyampaikan bahwa makna toleransi sesungguhnya sangat luas. Tidak hanya sekadar toleransi antar umat beragama, antara muslim dengan nonmuslim, antarsuku, maupun antarbangsa. Melainkan toleransi juga mencakup antarsesama agama, toleransi pada keluarga, toleransi pada makhluk ciptaan-Nya.

“Kaitannya dengan puasa, dapat diartikan bahwa puasa itu Al-Imsak yakni menjaga. Menjaga dari hal-hal yang membatalkan puasa dan menjaga diri kita terhadap orang lain. Ketika menjaga diri, ada korelasi kuat dengan toleransi, contohnya memberi rasa aman, nyaman, bisa hidup berdampingan dengan orang lain, itulah sesungguhnya esensi dari toleransi,” terang KH. Marsudi.

Kehidupan dunia sejatinya memang harus dikontrol, salah satunya dengan berpuasa. Puasa juga tidak hanya sekadar mengajarkan perubahan dari yang biasanya makan siang diubah menjadi saat magrib. Perubahan yang harus dirasakan dalam puasa yaitu perubahan cara pikir dan cara pandang. Beliau juga menjelaskan bahwa terdapat tiga derajat atau kategori dalam puasa, yaitu puasa orang biasa, puasa orang khusus, dan puasanya hati serta pikiran.
“Puasanya orang biasa yaitu menjaga mulut, perutnya dari melakukan syahwat. Kemudian puasa orang khusus yakni puasa menjaga lisan, tangan, telinga, dan seluruh anggota badan dari perbuatan dosa. Lalu puasa hati dan pikiran maksudnya puasa menjauhi larangan Allah baik yang dapat dilihat oleh pancaindera maupun yang tidak,” terangnya.

Tasamuh merupakan cahaya dari Allah, jika sudah diaplikasikan, maka cahaya Allah sudah menancap di hati orang tersebut. Tasamuh merupakan obat dari perilaku-perilaku negatif, begitu pula ketika menghadapi masyarakat yang terus berubah. Biasanya, tradisi lebaran erat dengan mudik, ziarah kubur, salat Idul fitri, kemudian dilanjutkan dengan sungkeman. Namun mungkin hal tersebut tidak dapat dirasakan pada tahun ini.
“Coba bayangkan dengan adanya Covid-19 ini, kita berubah sangat dahsyat. Mudik sebaiknya ditunda karena jika mudik dapat membawa penyakit. Menjaga jiwa itu tujuan syariat yang paling utama. Maka yang dilarang sesungguhnya bukan mudiknya, bukan salat Jumatnya, bukan salat Idul fitrinya, tetapi yang dilarang adalah berkumpul yang dapat mengakibatkan orang lain tertular penyakit,” jelas Ketua PBNU tersebut.

KH. Marsudi menambahkan ketika membiasakan diri dengan tasamuh, maka hidup akan nyaman. Tasamuh adalah harta yang mahal, barang yang langka yang dimiliki oleh makhluk-Nya. Dalam dunia pendidikan, hal yang paling utama adalah memiliki tasamuh.

“Begitu pula orang mempunyai ilmu agama yang tinggi, teknologi tinggi maka harus tasamuh karena segala ilmu itu berasal dari Allah. Ilmu apa saja yang dapat dimanfaatkan untuk kepentingan makhluk Allah. Jika makhluk Allah butuh makan maka hukumnya fardu kifayah dalam mempelajari varietas-varietas baru. Jika makhluk Allah membutuhkan teknologi, maka fardu kifayah mempelajari teknologi,” ujar KH. Marsudi.

Dalam Kajian Tarawih daring ini, turut dihadiri oleh Rektor UNS, Prof. Jamal Wiwoho, Wakil Rektor, Senat, Pimpinan Fakultas serta sivitas akademika UNS. Humas UNS/Bayu