UNS — Program Studi Ilmu Sejarah Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta mengadakan diskusi tentang potret ekologi Mangkunegaran Tahun 1870-1939. Kegiatan tersebut berlangsung pada Rabu (2/9/2020) di Perpustakaan Reksa Pustaka, Pura Mangkunegaran, Surakarta. Kegiatan ini merupakan wujud dari Tri Dharma Perguruan Tinggi yakni penelitian dan pengabdian kepada masyarakat yang menitikberatkan pada pembuatan katalog digital koleksi perpustakaan Mangkunegaran.
Turut hadir pula Kepala Prodi Ilmu Sejarah FIB UNS, Dr. Susanto yang yang sekaligus memberikan sambutan. Dr. Susanto memaparkan bahwa dalam pengabdian ini, Prodi Ilmu Sejarah ingin memberdayakan perpustakaan agar sirkulasi koleksi meluas, bukan hanya dalam ruang lingkup Mangkunegaran saja.
“Perpustakaan Reksa Pustaka Mangkunegaran memiliki koleksi yang sangat luas, bukan hanya pada masa tradisional, tetapi juga pada masa kolonial Hindia Belanda. Tahap pengabdian ini sudah pada tahap digitalisasi naskah yang ada di Reksa Pustaka, sedang diedit Bu Darweni. Nanti, hasilnya berupa katalog digital, keping CD, dan terbitan buku ber-ISBN yang nanti akan diberikan ke pihak stakeholder nasional,” terangnya.
Beberapa stakeholder tersebut antara lain Dinas Kearsipan dan Perpustakaan Daerah Jawa Tengah, Perpustakaan Kota Solo, Dinas Kearsipan dan Perpustakaan Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), dan Perpustakaan Nasional Republik Indonesia (PNRI).
“Pengaruh Eropa cukup kuat di Mangkunegaran sehingga kami meneliti potret simbol ekologi Mangkunegaran di Kabupaten Karanganyar, Wonogiri, dan Kabupaten Kota Mangkunegaran. Wilayahnya ada di sekitar Syahid Kusuma, sebelah Barat di Purwosari, sampai utara di Banjarsari. Banyak simbol-simbol colonial yang sangat kuat di sini, contohnya Societeit, Sekolah Van de Venter, dan Taman Siswo, Taman Kusumowardhani, Partini toein, dan Partini huis,” jelas Dr. Susanto.
Sementara itu, perwakilan dari Museum Reksa Pustaka, Darweni sangat mengapresiasi program pengabdian masyarakat yang diselenggarakan oleh Prodi Ilmu Sejarah.
“Dengan adanya digitalisasi tentu sangat membantu kami dalam pelestarian bahan pustaka. Semoga melalui upaya ini, Mangkunegaran tidak ketinggalan dengan tempat-tempat lain karena sumber informasi primer di sini banyak sekali. Semoga Prodi Ilmu Sejarah terus menggali Mutiara yang ada di Perpustakaan Reksa Pustaka Mangkunegaran agar bermanfaat bagi masyarakat,” jelasnya.
Terdapat 3 lokasi untuk dokumentasi dan koleksi di Mangkunegaran, di sebelah Utara terdapat buku dan manuskrip digital, kemudian dokumen foto kuno terdapat di ruang tengah. Sementara itu, pada bagian Selatan terdapat ruang arsip tekstual.
“Jumlah buku di sini ada sekitar 3.000 judul, sedangkan koleksi manuskrip sekitar 750 judul. Yang akan digitalisasi hanya literatur Mangkunegaran saja sebanyak 2.300 nomor khusus literatur. Selain itu, di sini juga terdapat buku pendidikan, sejarah Jawa, sastra, wayang, tari, dan adat istiadat,” terang Darweni.
Kemudian Dr. Susanto menyampaikan bahwa simbol ekologi yang ada dapat melacak perkembangan Kota Surakarta.
“Misalnya Patung Slamet Riyadi, artinya kita bisa melacak perkembangan dan perubahan dari sana. Mangkunegaran memiliki simbol bercorak Eropa yang sangat kuat di Utara yang dibatasi rel kereta api yang dulu sampai batas Pasar Pon dan Loji Wurung Weg,” jelas Dr. Susanto. Humas UNS
Reporter: Bayu Aji Prasetya
Editor: Dwi Hastuti


















