
Tim Quantum Leap Tranformation Universitas Sebelas Maret bekerjasama dengan Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat adakan workshop “Penyelenggaraan Konferensi Terindex SCOPUS dan Pengelolaan Jurnal Internasional Terindex SCOPUS”, Kamis (3/9/2015). Bertempat di ruang sidang II Kantor Pusat dr. Prakosa, workshop kali ini menghadirkan pembicara Suwarno dan Arwindra Rizqiwan. Keduanya berasal dari Intitut Teknologi Bandung yang memiliki reputasi dalam Penyelenggaraan Konferensi Terindex SCOPUS dan Pengelolaan Jurnal Internasional Terindex SCOPUS.
Sebagai pemateri pertama, Suwarno menyampaikan materi “Strategi Mengelola Jurnal Internasional Bereputasi”. Menurut guru besar ITB ini publikasi ilmiah internasional merupakan kontribusi individu terhadap perguruan tinggi, bahkan kontribusi sebagai peradaban dunia. Banyaknya publikasi ilmiah internasional dan publikasi yang disitasi menjadi salah satu indikator kualitas sebuah perguruan tinggi. Tak hanya itu, jumlah publikasi juga menunjukkan tingkat kemajuan ilmu suatu bangsa.

Suwarno menjelaskan, jumlah artikel yang masuk jurnal internasional menjadi salah satu kendala dalam pengelolaan jurnal internasional di Indonesia. Tak hanya kualitas, kuantitas artikel yang dimiliki pun masih rendah. Pengeloaan reviewer internasional dan proses review artikel yang memakan waktu juga menjadi tantangan pengeloaan jurnal internasional lainnya.
Bagi guru besar yang telah memiliki 120an jurnal terindeks SCOPUS ini penamaan nama jurnal yang menarik adalah salah satu strategi dalam pengelolaan jurnal internasional. Selanjutnya, cakupan jurnal tidak terlalu umum akan tetapi tidak terlalu sempit. Pengelolaan jurnal juga harus memperhatikan dewan editor internasional dengan reputasi tinggi. Jurnal yang baik memiliki paper yang terbit berasal dari banyak negara dengan sebaran geografi yang luas; tidak terlambat terbit; dan review berbobot sehingga paper yang terbit memiliki berkualitas tinggi.

“Strategi Penyelenggaraan Konferensi Internasional Terindeks Scopus” menjadi bahasan kedua dalam workshop yang disampaikan oleh Arwindra yang juga berasal dari ITB. Doktor lulusan Shibaura Institute of Technology, Jepang ini telah terlibat dalam puluhan konferensi internasional. Di hadapan peserta workshop yang terdiri dari dosen perwakilan masing-masing fakultas, perwakilan LPPM dan LPPMP Arwindra menyampaikan strategi teknis pengeloaan konferensi internasional.
Salah satu strategi yang disarankan Arwindra adalah penggunaan online submission system seperti ED AS, Easy Chair, dan PKP (public knowledge project). Alasannya, penggunaan online submission system lebih mudah untuk ditelusuri. Tak hanya itu, proses distribusi ke reviewer menjadi lebih mudah. Penggunaan email dalam proses pengumpulan paper kadang kala mengalami masalah teknis seperti masuk spam atau pun terlewat. Selain itu, penggunaan online submission system memunjukkan keseriusan penyelenggarakan konferensi. Arwindra mengingatkan, meski penggunaan online submission system terasa praktis, rapi, murah, dan profesional namun rumit untuk digunakan bagi yang tidak terbiasa.
Menariknya, pertimbangan lokasi konferensi yang berada di tepi pantai seperti di Yogyakarta, Bali menjadi daya tarik tersendiri bagi peserta. “Diperhatikan akses ke sana. Kalau peserta harus tiga kali penerbangan itu jadi tidak menarik,” ujar pria yang mengambil judul Grid-Connected Inverter Damping Improvement on Distributed Generation Power System by Using Virtual Resistor Concept untuk mendapat gelar doktoralnya. [](nana.red.uns.ac.id)
| Penyelenggaraan Konferensi Terindex SCOPUS dan Pengelolaan Jurnal Internasional Terindex SCOPUS | |
|---|---|
|
|
|
















