UNS – Semarak Sejarah Kebudayaan UNS Surakarta atau Sanskerta UNS kembali digelar untuk keempat kalinya pada September 2019. Talkshow nasional bertajuk “Narasikan Sejarah dan Budaya dalam Media” menutup rangkaian Sanskerta pada Sabtu (28/9/2019) di Aula Lantai 6 Gedung Pascasarjana Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta dengan menghadirkan dua pembicara dari Historia.id dan Kitab Tanah Jawa (KTJ).
Belajar sejarah selama ini terkesan membosankan dengan bacaan yang begitu panjang dan penuh data. Terlebih di era global yang serba cepat dan instan, bacaan yang bertumpu pada teks buku pun menjadi pilihan kesekian. Hal itulah yang sekiranya menjadi motivasi bagi Forum Mahasiswa Sejarah (FMS) UNS untuk mencoba menampilkan sejarah dengan cara yang lebih ringan dan menyenangkan, yaitu melalui media.
“Kami ingin menampilkan sejarah dengan wajah baru yang tidak monoton. Peran media, utamanya di era global ini cukup strategis. Maka di talkshow ini membahas bagaimana sejarah dinarasikan dalam media seperti yang telah dilakukan Historia.id dan KTJ. Gaya penyampainnya sangat ringan dan menyenangkan, ada infografiknya, video juga. Jadi enak dan lebih mudah untuk dipahami. Bisa menjadi referensi untuk belajar sejarah,” jelas Ridita Purwitasari, Ketua Sanskerta UNS 2019.
Ridita pun menambahkan, bahwa dengan peserta tahu dan lebih mengenal media yang berkonten sejarah, harapannya hal itu dapat memacu ketertarikan dan keingintahuan mereka terhadap sejarah. Sehingga minat literasi terhadap ilmu sejarah meningkat.
Sementara itu, Kepala Program Studi Ilmu Sejarah Drs. Susanto, M.Hum menyampaikan bahwa pemikiran historis menjadi hal yang sangat penting. Segala sesuatu itu berproses, yaitu masa dahulu, sekarang, dan masa depan.
“Pemikiran historis ini yang kadang hilang. Orang seringkali mengakali masa lampau dengan masa kini. Itu yang menyebabkan spirit kita juga hilang. Untuk itu, di era global ini narasi sejarah sangat penting untuk masuk ke bidang bisnis edukatif, seperti media. Sehingga pemikiran historis bisa sampai ke masyarakat khususnya anak muda,” jelasnya.
Historia.id adalah majalah sejarah populer pertama di Indonesia yang dimulai oleh tiga orang jurnalis pada tahun 2010 dan mendapat respons positif masyarakat juga pemerintah. Misi dari majalah ini adalah mendekatkan sejarah dengan masyarakat umum.
“Selama ini penulisan sejarah identik dengan jurnal dan buku yang lebih akademis. Misi kita adalah menjembatani sejarah yang akademis dan agak susah agar lebih dipahami oleh masyarakat awam. Untuk itu, tulisannya kita sajikan dengan bahasa yang seringan mungkin, banyak foto, visual yang menarik, juga berupa video,” jelas MF Mukthi, Redaktur Historia.id.
Konten yang dibuat pun tidak melulu berupa bahasan sejarah yang serius seperti masalah perpolitikan atau ekonomi, tetapi juga perihal kuliner dan gaya. Meskipun bergerak di media digital era ini, Historia.id tetap berusaha menyeimbangkan kualitas dan kuantitas produknya. Mereka menerapkan slow journalism, yaitu jurnalistik yang lambat tapi tepat.
“Menulis tentang sejarah itu tidak mudah dan sedikit lebih lama, perlu riset yang mendalam. Tetapi kami juga memperhatikan kuantitas produk. Maka spirit dan idealisme reporter sangat dibutuhkan. Banyak juga tulisan mahasiswa yang masuk ke kami, itu sangat membantu. Penguasaan data mereka juga bagus. Teman-teman UNS kami tunggu untuk turut menyumbang tulisan,” tutur Mukthi.
Selain talkshow, Sanskerta 2019 juga menggelar berbagai perlombaan seperti lomba film dokumenter, lomba esai, dan fotografi. Lomba ini pun berhasil menarik partisipan dari berbagai provinsi di Indonesia. Humas UNS/ Kaffa


















