Universitas Sebelas Maret (UNS) melalui LPPM memberikan pendampingan dan bantuan sarana produksi kultur jaringan kepada usaha pembibitan anggrek Kemuning Orchid di Karanganyar. Program berkelanjutan ini bertujuan meningkatkan kapasitas produksi, tata kelola keuangan, serta memperluas pemasaran sejak tahun ketiga pendampingan.
UNS — Berawal dari melihat peluang ekonomi pada komoditas anggrek, Yanuar Mahir Hermawan, pemilik Kemuning Orchid, mengembangkan usaha pembibitan anggrek dengan memanfaatkan teknologi kultur jaringan. Namun, keterbatasan fasilitas, modal, dan pengetahuan teknis sempat membuat perkembangan usahanya berjalan lambat dan belum terarah.
Yanuar menuturkan, ketertarikannya terhadap anggrek bermula dari karakter tanaman tersebut yang relatif kuat dan memiliki daya tahan dalam proses pengiriman. Kondisi tersebut menjadi salah satu alasan dirinya melihat anggrek sebagai komoditas yang memiliki peluang untuk dikembangkan.
“Saya memulai usaha anggrek karena melihat ada peluang yang cukup besar di komoditas ini. Anggrek juga merupakan tanaman yang cukup kuat. Dalam proses pengiriman relatif tidak membutuhkan perlakuan khusus dan bisa bertahan dalam perjalanan yang cukup lama,” ujar Yanuar.
Ia kemudian memfokuskan usahanya pada pembibitan anggrek, khususnya melalui kultur jaringan. Menurutnya, anggrek memiliki potensi pengembangan yang besar karena satu buah anggrek dapat menghasilkan biji dalam jumlah sangat banyak. Namun, biji anggrek memiliki tingkat kesulitan tinggi untuk tumbuh secara alami karena membutuhkan hubungan simbiosis dengan mikroorganisme tertentu.
Kondisi tersebut menjadi tantangan sekaligus peluang bagi Yanuar untuk mengembangkan metode perbanyakan anggrek secara buatan. Melalui kultur jaringan, ia berupaya menumbuhkan dan memperbanyak bibit anggrek dalam jumlah besar. Kemuning Orchid saat ini mengembangkan sejumlah jenis anggrek, terutama Dendrobium dan Cattleya.
Dalam proses pengembangan usaha, Yanuar mengaku menghadapi berbagai kendala. Keterbatasan fasilitas produksi massal, kemampuan finansial untuk membeli alat dan bahan, hingga pengetahuan mengenai kebutuhan nutrisi bibit anggrek menjadi tantangan yang harus dihadapi.
“Di awal perjalanan, tentu banyak sekali kendala yang kami hadapi. Fasilitas masih sangat terbatas, alat untuk produksi secara massal belum kami miliki, dan dari sisi finansial juga terbatas. Kami juga masih terus belajar mengenai nutrisi yang dibutuhkan biji dan bibit anggrek agar bisa tumbuh optimal,” jelasnya.
Kondisi tersebut membuat Yanuar dan timnya banyak melakukan percobaan secara mandiri. Meskipun memberikan pengalaman, metode trial and error tersebut membutuhkan waktu dan biaya yang tidak sedikit. Sebelum mendapatkan pendampingan dari Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta, Kemuning Orchid pun dinilai masih berada dalam kondisi stagnan.
“Kami punya semangat untuk berkembang, tetapi arahnya belum begitu jelas. Banyak percobaan kami lakukan sendiri, sehingga perkembangan usaha belum terarah dan modal juga cukup banyak terserap untuk percobaan yang belum tentu berhasil,” ungkap Yanuar.
Pendampingan dari UNS kemudian memberikan perubahan dalam proses pengembangan Kemuning Orchid. Yanuar mengaku mendapatkan tambahan pengetahuan, pengalaman, serta kesempatan untuk berbagi data sehingga pengembangan usaha dapat dilakukan secara lebih terarah.
“Setelah mendapatkan pendampingan dari UNS, perubahan yang kami rasakan cukup besar. Kami menjadi lebih terarah. Banyak sharing data, pengalaman, dan pengetahuan yang kami dapatkan. Jadi, kami tidak hanya mencoba-coba, tetapi mulai bisa menentukan langkah berdasarkan pengalaman dan data yang ada,” tuturnya.
Pendampingan tersebut tidak hanya diberikan dalam bentuk pelatihan. Kemuning Orchid juga memperoleh dukungan sarana dan prasarana yang sebelumnya belum mampu mereka miliki, antara lain LAF (Laminar Air Flow), enkas, shaker, autoklaf, greenhouse, timbangan analitik, dehumidifier, air purifier, magnetic stirrer, serta berbagai bahan kimia yang digunakan untuk nutrisi dan media pertumbuhan anggrek.
Menurut Yanuar, keberadaan fasilitas tersebut memberikan dampak langsung terhadap peningkatan kapasitas produksi. Dalam bisnis pembibitan anggrek, kapasitas penyimpanan menjadi salah satu faktor penting karena tanaman membutuhkan waktu cukup panjang untuk tumbuh sebelum dapat dipasarkan.
“Alat-alat tersebut sangat membantu, terutama untuk meningkatkan kapasitas produksi. Dalam bisnis pembibitan anggrek, tanaman membutuhkan waktu yang cukup panjang untuk tumbuh. Jadi, kapasitas penyimpanan sangat penting karena berpengaruh terhadap sirkulasi produksi dan penjualan,” katanya.
Selain aspek produksi, UNS juga memberikan pendampingan dalam pengelolaan manajemen usaha, khususnya bidang keuangan. Yanuar bersama tim mendapatkan pembekalan mengenai pembukuan serta diperkenalkan dengan aplikasi Buku Saku yang hingga kini masih digunakan dalam pengelolaan keuangan Kemuning Orchid.
Pendampingan tersebut membantu Kemuning Orchid memisahkan keuangan pribadi dan keuangan usaha. Mereka juga mulai dapat menghitung biaya produksi secara lebih terukur, mengetahui penggunaan bahan, serta melakukan efisiensi untuk menekan biaya produksi.
“Dari situ kami mulai bisa memisahkan antara keuangan pribadi dan keuangan usaha. Kami juga menjadi lebih tahu berapa biaya produksi sebenarnya, bagaimana penggunaan bahan, dan bagaimana melakukan efisiensi supaya biaya produksi bisa ditekan,” jelas Yanuar.



Ia menilai, dampak pendampingan UNS tidak hanya terlihat dari bertambahnya fasilitas produksi, tetapi juga dari perubahan cara mengelola usaha. Kemuning Orchid kini memiliki arah pengembangan yang lebih jelas, didukung pengetahuan, pengalaman, data, serta sistem pengelolaan usaha yang lebih tertata.
“Bagi saya, pendampingan dari UNS bukan hanya membantu kami dari sisi alat dan fasilitas. Yang lebih penting adalah kami mendapatkan arah, pengetahuan, pengalaman, dan sistem untuk mengembangkan usaha,” ungkapnya.
Yanuar menyampaikan apresiasinya kepada UNS atas pendampingan yang telah diberikan. Ia berharap dukungan tersebut dapat dimanfaatkan secara optimal sehingga Kemuning Orchid mampu terus berkembang dan memberikan manfaat yang lebih luas.
“Melalui pendampingan ini, kami tidak hanya dibantu untuk meningkatkan produksi, tetapi juga dibantu untuk membangun usaha supaya lebih tertata dan bisa berkembang secara berkelanjutan. Semoga ke depan Kemuning Orchid bisa terus berkembang dan apa yang sudah diberikan melalui pendampingan UNS ini bisa kami manfaatkan sebaik-baiknya untuk menjadi usaha yang lebih maju dan memberikan manfaat yang lebih luas,” pungkas Yanuar.
Tim Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) UNS yang dipimpin oleh Kepala Seksi Peraihan Dana Pengabdian Masyarakat Eksternal dan Pengembangan Pusat Studi LPPM UNS, Sarjiyanto, S.E., MBA., Ph.D., CSRS, melakukan kunjungan ke Kemuning Orchid bersama Tim Pengabdian kepada Masyarakat UNS yang diketuai oleh Prof. Dr. Okid Parama Astirin, M.S. pada Kamis (1/10/2026).
Prof. Okid menyampaikan bahwa pendampingan kepada Kemuning Orchid merupakan rangkaian dari beberapa program pengabdian kepada masyarakat yang dilaksanakan secara berkelanjutan. Program tersebut meliputi PDB, PTTI, dan PMKI, yang masing-masing memiliki sasaran dan fokus kegiatan sesuai kebutuhan mitra.
“Program-program tersebut bukan merupakan duplikasi dalam pengadaan peralatan, tetapi saling melengkapi. Kemuning Orchid lebih banyak mengembangkan anggrek dalam bentuk botolan atau bibit, sedangkan mitra sasaran lainnya lebih berfokus pada pengembangan anggrek dewasa,” jelas Prof. Okid.
Menurutnya, pengembangan bibit anggrek dalam bentuk botolan membutuhkan keterampilan khusus, termasuk penggunaan bahan kimia yang relatif mahal, ketelitian, serta kesabaran. Kemampuan tersebut tidak hanya ditentukan oleh latar belakang pendidikan, tetapi juga pengalaman dan keterampilan yang diperoleh melalui proses pendampingan secara berkelanjutan.
“Proses yang dilakukan Kemuning Orchid selama kurang lebih tiga tahun melalui beberapa program pendampingan telah meningkatkan produktivitasnya secara signifikan. Perkembangan tersebut juga terlihat dari upaya memperluas pemasaran, termasuk melalui pemanfaatan media daring,” ujarnya.
Selain meningkatkan kapasitas produksi, pendampingan UNS juga diarahkan pada penguatan kapasitas usaha dan pengembangan ekosistem pembelajaran. Kemuning Orchid mulai mengembangkan konsep sekolah anggrek dan sekolah pembenihan anggrek yang dapat menjadi wadah bagi Mahasiswa maupun masyarakat untuk belajar dan mengembangkan keterampilan budidaya anggrek.
“Sekarang sudah mulai dikembangkan sekolah anggrek dan sekolah pembenihan anggrek dengan beberapa pilihan paket pembelajaran, mulai dari paket sederhana, menengah, hingga tingkat lanjut. Fasilitas dan kemampuan Yanuar yang sebelumnya masih sederhana sekarang sudah berkembang,” ungkap Prof. Okid.
Ia menambahkan, saat ini telah tersedia enam fasilitas atau ruang yang dapat dimanfaatkan untuk berbagai kegiatan, termasuk kegiatan magang mahasiswa dan pembelajaran bagi masyarakat yang ingin mengembangkan budidaya anggrek.
“Dulu ketika saya pertama kali datang, fasilitas seperti ini belum ada. Ruang-ruang ini juga belum tersedia dan beberapa bagian lahan belum tertata seperti sekarang. Alhamdulillah, sudah terlihat kemajuan yang cukup signifikan dalam pengembangan usaha Kemuning Orchid,” katanya.
Prof. Okid menjelaskan, pengadaan sarana dan prasarana dilakukan secara bertahap berdasarkan kebutuhan mitra dan ketersediaan anggaran dari masing-masing program. Peralatan yang belum dapat dipenuhi melalui satu program kemudian dilengkapi melalui program lainnya sehingga secara bertahap membentuk fasilitas yang lebih lengkap.
Menurutnya, salah satu faktor yang mendukung perkembangan Kemuning Orchid adalah kemampuan pemilik dalam mengidentifikasi kebutuhan usaha dan menyampaikannya secara jelas. Hal tersebut membantu tim pengabdian menentukan bentuk pendampingan dan sarana yang sesuai dengan kebutuhan di lapangan.
Prof. Okid berharap perkembangan Kemuning Orchid dapat menjadi contoh bagi masyarakat sekitar sehingga kawasan Kemuning ke depan dapat berkembang sebagai sentra pembenihan dan pengembangan budidaya anggrek.
Ia menegaskan bahwa peran UNS dalam kegiatan tersebut bukan sebagai pelaksana unit usaha, melainkan sebagai lembaga pendidikan yang memberikan pendampingan, menyusun perencanaan pengembangan, serta membantu meningkatkan kapasitas dan kemandirian masyarakat.
“UNS tidak mengembangkan unit usaha. Yang mengembangkan unit usaha adalah mitra yang kami dampingi. Dosen memiliki tugas pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat. Melalui kegiatan pengabdian ini, kami berupaya membantu masyarakat agar semakin mandiri dan sejahtera,” jelas Prof. Okid. HUMAS UNS
Pertanyaan Umum (FAQ)
Siapa pemilik usaha pembibitan anggrek Kemuning Orchid?
Kemuning Orchid adalah usaha pembibitan anggrek yang dimiliki oleh Yanuar Mahir Hermawan. Lihat di artikel
Metode apa yang digunakan Kemuning Orchid untuk memperbanyak bibit anggrek?
Kemuning Orchid memanfaatkan teknologi kultur jaringan untuk menumbuhkan dan memperbanyak bibit anggrek dalam jumlah besar. Lihat di artikel
Fasilitas apa saja yang diberikan UNS untuk mendukung produksi Kemuning Orchid?
UNS memberikan dukungan sarana berupa LAF (Laminar Air Flow), enkas, shaker, autoklaf, greenhouse, timbangan analitik, dehumidifier, air purifier, magnetic stirrer, dan bahan kimia. Lihat di artikel

















