Sebanyak 46 Pemain Catur Tunanetra Berkompetisi di UNS

UNS – Banyak orang yang beranggapan bahwa permainan catur membutuhkan kejelian yang tinggi dan otak yang cemerlang. Penglihatan sangat dibutuhkan untuk mampu menguasai permainan ini. Namun siapa sangka permainan catur juga dapat dikuasai oleh tunanetra. Pertandingan catur antar tunanetra telah di gelar pada Minggu (23/2/2020) di Gedung E Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta.

Acara bertajuk Senyum Cup #1 ini diselenggarakan oleh Yayasan Senyum Kita yang berkolaborasi dengan National Paralympic Committee Indonesia (NPCI), dan Tim Pelatih Nasional (Pelatnas) Catur untuk Disabilitas. Peserta yang mengikuti kompetisi Senyum Cup #1 ini ada yang datang secara individu dan terdapat pula peserta yang datang bersama pelatihnya. Seperti para pemain yang berasal dari DIY dan DKI Jakarta yang datang bersama dengan kontingennya.
Pertandingan catur ini mempertemukan 46 pemain catur tunanetra dari seluruh Indonesia. Mereka berasal dari Banten, Daerah Khusus Ibukota (DKI) Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Kalimantan, dan Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY). Terdapat 3 pemenang dalam kompetisi ini.

“Pemenangnya, juara 1, 2, 3 nya itu dari Sukabumi, terus dari DIY, sama dari Cilacap,” ujar Wahyu Setiawan, panitia kompetisi Senyum Cup #1 yang juga merupakan seorang mahasiswa tunanetra di Pendidikan Luar Biasa (PLB) FKIP UNS pada Senin (24/2/2020).

Ketiga juara tersebut berasal dari berbagai daerah. Juara pertama diraih oleh Enda Permana yang berasal dari Sukabumi. Juara kedua diraih oleh Ardi Nugroho dari DIY. Terakhir, juara ketiga berhasil diraih oleh Sugianto yang berasal dari Cilacap.

Turnamen catur yang digelar menggunakan sistem Swiss. Yaitu ketika babak pertama terdapat 46 peserta. Tentu ada 23 peserta yang kalah dan 23 peserta yang menang. Pada kesempatan itu, yang menang akan bertanding melawan yang menang, begitu juga dengan yang kalah pada babak sebelumnya, ia akan bertemu dengan pihak yang kalah pula. Semua sistem tersebut, pengacakannya menggunakan mesin yang bernama Swiss Manager. Swiss Manager merupakan aplikasi yang berada di komputer.

Pada Senyum Cup #1 ini, diharapkan dapat menemukan bibit unggul dalam menemukan atlet catur tunanetra yang selama ini sulit ditemukan.
“Turnamen catur untuk tunanetra itu jarang, nah karena jarang kita sulit menemukan atlet catur tunanetra, ya, salah satunya melalui event Senyum Cup ini, mungkin bisa menciptakan atlet catur tunanetra yang berkualitas,” tukas Wahyu Setiawan. Humas UNS/Zalfaa