UNS — Secara daring, Career Development Center (CDC) Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta menyelenggarakan “Workshop Persamaan Persepsi dan Pelatihan Pendamping Akademik Berbasis Teknologi Informasi”. Workshop ini mengundang 30 pendamping akademik dan karier dari 11 fakultas, Sekolah Vokasi (SV) UNS, serta Bidang Konseling Mahasiswa UNS.
Dalam sambutannya, Ketua CDC UNS, Dr. Ir. Kusnandar, M.Si. menyampaikan bahwa workshop ini merupakan salah satu langkah anyar untuk menyikapi adanya pandemi Covid-19.
“CDC akan mendesain pola-pola baru dengan kondisi yang masih pandemi ini, termasuk program-program yang dirancang agar menemukan persamaan persepsi dalam membangun layanan konseling di UNS,” ujarnya, Kamis (20/5/2021).
Tiga narasumber dihadirkan dari Pusat Layanan Konseling Universitas Sanata Dharma (USD) Yogyakarta. Yakni Brigitta Erlita Tri Angga dewi, M.Psi., Br. Yohanes Sarju, SJ., M.M., dan Dr. Yohannes Heri Widodo, M.Psi. Sementara dari UNS, ada Haryono Setiadi, ST., M.Eng., Dosen S-1 Informatika FMIPA sekaligus Koordinator Divisi IT di CDC.
Dimoderatori Afia Fitriani, S.Psi., M.Psi., peserta sangat antusias dengan paparan para narasumber yang menceritakan proses dan pengalaman selama menjalankan konseling mahasiswa di USD sejak tahun 2018.

Brigitta Erlita Tri Anggadewi, M.Psi. menceritakan bagaimana konsultasi yang dilaksanakan secara telekonseling atau daring dengan membuat sejumlah prosedur. Terutama terkait kewajiban klien untuk menulis nomor telpon aktif orang yang dekat dengannya secara fisik.
Boleh teman, kakak, adik, saudara, orang tua yang mengetahui permasalahan mahasiswa tersebut dan mahasiswa terkait merasa nyaman dengan mereka.
“Nomor kontak itu digunakan untuk menghubungi apabila ada hal-hal yang mendadak dan membutuhkan penanganan khusus saat proses telekonseling,” jelas Brigitta.
Pembicara kedua, Br. Yohanes Sarju, M.M. menekankan pentingnya menjadi ‘orang tua’ bagi semua anak atau mahasiswa. Untuk seorang konselor, tuturnya, pelayanan konseling harus menjadi fokus utama.
“Prosedur konseling terus dilakukan pengembangan. Hal utama yang wajib selalu diingat dan dijadikan pegangan adalah konselor menjadi “bapak” bagi semua anak,” katanya.
Hal tersebut juga selaras dengan apa yang disampaikan Dr. Yohannes Heri Widodo, M.Psi. bahwa menjadi konselor merupakan panggilan hati. Hidup akan lebih bermakna apabila dapat melihat perspektif dan pengalaman orang lain.
“Selain itu, kolaborasi dengan kolega konselor/psikolog di daerah terdekat klien menjadi sangat penting untuk menangani klien yang mempunyai permasalahan berat. Itu terdeteksi pada asesmen awal,” tutur Dr. Heri.

Pada kesempatan ini, Haryono Setiadi, ST., M.Eng, menyampaikan, CDC UNS tengah mengembangkan aplikasi penjadwalan konseling. Sebuah pelatihan dan pendampingan juga direncanakan untuk minggu ke-3 bulan Juni 2021 mendatang.
Workshop yang diketuai oleh Dr. Ribut Purwaningrum, S.Pd., M.Pd. ini pun menghasilkan beberapa poin penting yang dapat digunakan sebagai panduan atau referensi pelaksanaan kegiatan Bimbingan Konseling Mahasiswa di UNS. Utamanya di tengah pandemi Covid-19 yang membatasi pertemuan fisik dan mobilitas.
Antara lain, pelatihan TOT untuk pendamping, khususnya yang berasal dari Prodi non-BK atau non-Psikologi. Hal ini diperlukan sebab ada standarisasi dalam memberikan konseling, meskipun masing-masing konselor berbeda latar belakang studi. Humas UNS
Reporter: Kaffa hidayati
Editor: Dwi Hastuti
















