UNS — Himpunan Mahasiswa Teknik Industri (HMTI) Universitas Sebelas Maret (UNS) menggelar kuliah tamu bersama Prof. Dr -Ing. Hendro Wicaksono yang merupakan Professor of Industrial Engineering di Jacobs University, Bremen, Jerman, Rabu (25/5/2021).
Diikuti sekitar 128 peserta, kegiatan tersebut digelar melalui Zoom Cloud Meetings dan disiarkan di kanal YouTube resmi FT UNS. Meski diselenggarakan oleh Teknik Industri, sejumlah mahasiswa Program Studi Teknik Mesin, Teknik Elektro, bahkan dari rumpun sosial humaniora turut hadir.
Adapun pemilihan profesor yang asli Jawa Timur ini sebagai pembicara juga tidak terlepas dari prestasi membanggakannya. Tahun 2020 lalu, Prof. Hendro berhasil menyabet penghargaan Teacher of The Year atau Dosen Terbaik yang diberikan kepada dosen yang memiliki prestasi luar biasa dalam proses pembelajaran.
“Selain aktif di dunia pendidikan, saya juga mendirikan beberapa start-up, salah satunya GreenIndonesia. Perusahaan yang mengembangkan inovasi berbasis digital, yang memungkinkan seseorang untuk berkontribusi bagi perlindungan lingkungan,” ujarnya.
Dalam kesempatan ini, Prof. Hendro memaparkan beragam pengalaman, salah satunya saat bergelut di Research Group INDEED (Intelligent Data Management in Industry 4.0) pada 2018—2020 lalu.
Grup riset yang dikepalainya ini beranggotakan mahasiswa S-1 hingga S-3 dari berbagai negara dan benua. Seperti wilayah Amerika Latin, Jerman, Venezuela, China, Sri Lanka, Turkmenistan, Indonesia, dan lain-lain.
Menyadari bahwa teknik industri tidak hanya berkutat pada tekniknya, tetapi ada juga aspek manajemen, maka fokus grup tersebut ialah bagaimana teknologi bisa ditransfer menjadi suatu inovasi dan bisa bermanfaat serta dinikmati masyarakat luas.
“Aplikasinya bisa berupa smart cities, supply chain 4.0, construction 4.0, dan agriculture 4.0,” jelas Prof. Hendro.

Pilar Industri 4.0
Ada satu bahasan menarik yang disinggung Prof. Hendro pada diskusi ini. Yakni banyak yang memakai istilah Revolusi Industri 4.0, tetapi hal tersebut hanya digunakan sebagai jargon saja. Tidak begitu diimplementasikan dalam proses maupun produknya.
Ia pun menjelaskan, berbeda dengan industri 3.0 di mana Teknologi Informasi (TI) masuk sebagai pendukung, pada industri 4.0 ini TI memiliki peran paling besar. Sementara itu, elektronik dan mesin relatif sama besarnya saat industri 3.0.
Pada industri 4.0, imbuhnya, TI tidak hanya dihubungkan dengan teknik saja, tapi juga tentang bagaimana menjembatani teknik dengan masyarakat, dan bagaimana bisnis model bisa diterima dan dimanfaatkan masyarakat luas dengan murah.
Agar tidak menjadi jargon saja, ada beberapa pilar industri 4.0 yang perlu diperhatikan, pertama smart product. Produk di industri 4.0 ialah industri yang dapat mengeluarkan informasi tentang dirinya sendiri. Misalkan produk yang dilengkapi sensor. Salah satunya alat pembuat kopi yang dapat memberi informasi jika air atau kopinya kurang.
Kedua, smart process/operation. Yaitu proses yang proses penyediaan barang dan jasanya interkoneksi dan ada derajat otomatisasinya. Ketiga, smart resource/infrastructure yang membantu produksi, tetapi bukan bagian dari yang dijual atau value added. Misal kendaraan yang dilengkapi GPS.
“Kita yang di Teknik Industri mungkin akrab dengan Product-Process-Resource (PPR). Maka di industri 4.0 ini, tambahkan istilah ‘smart’ di masing-masingnya,” kata Prof. Hendro.
Hal tersebut akhirnya berdampak pada adanya banjir data karena masing-masing pilar mengeluarkan data. Data ini kemudian menjadi nilai baru dan menjadi hal yang dapat dibisniskan.
Untuk menjembatani ketiganya, ada data driven service atau layanan berbasis data yang kemudian dapat diperluas konsepnya di berbagai bidang lain. Seperti kesehatan, konstruksi, media, energi, pertanian, dan sebagainya.
“Contoh produsen mesin pesawat, tidak hanya menjual mesin, tapi juga melengkapi dengan sensor yang memberikan data tentang kondisi mesin dalam berbagai macam penerbangan. Data itu dikumpulkan untuk membuat aplikasi yang berguna untuk monitoring prediktif, pemeliharaan, dan optimasi mesin,” terang Prof. Hendro.
Mewujudkan revolusi industri 4.0 tentu dibutuhkan kolaborasi berbagai pihak dan lini. Prof. Hendro menuturkan, sebagaimana yang diterapkan di Jerman, proses tersebut memerlukan sistematika yang jelas, pertemuan pihak-pihak terkait, juga rencana jangka panjang. Meski berganti pemerintahan, rencana jangka panjang yang baik tetap dilaksanakan.
“Jadi ‘bola’nya tetap dipegang,” imbuhnya.
Pada kuliah tamu yang dimoderatori Dr. Eko Pujiyanto, S.Si., M.T. ini,
Dekan Fakultas Teknik UNS, Dr.techn. Ir. Sholihin As’ad, M.T., turut hadir memberi sambutan.
Ia mengucapkan terima kasih atas kesediaan Prof. Hendro untuk membagikan ilmu dan pengalamannya. Apa yang disampaikan dalam kegiatan ini diharapkan dapat menginspirasi para peserta unuk berani maju seperti Prof. Hendro.
Selain itu, ia berharap silaturahmi dengan Prof. Hendro dapat terus terbangun kedepannya dan dapat menjadi salah satu pintu untuk bisa mengembangkan diri serta membangun jaringan dengan teman-teman diaspora. Humas UNS
Reporter: Kaffa hidayati
Editor: Dwi Hastuti
















