Sinergi Generasi Muda Lintas Agama dalam Wujudkan Nilai Pancasila

UNS – Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta mengadakan webinar dengan tajuk Semangat Merawat Kebhinekaan dalam rangka Hari Ulang Tahun Republik Indonesia (RI) ke-75 pada Jumat (5/9/2020). Webinar yang berlangsung melalui aplikasi Zoom Meeting ini mengusung tema Sinergi Generasi Muda Lintas Agama dalam Mewujudkan Nilai-Nilai Kehidupan Pancasila. UNS menghadirkan 4 narasumber, yakni Prof. Bondan Tiara Sofyan, Prof. Yudha Triguna, Prof. Faruk, dan Yusuf Hermawan.

Dalam webinar tersebut, turut hadir pula Rektor UNS Prof. Jamal Wiwoho yang sekaligus memberikan sambutan. Prof. Jamal menyampaikan bahwa kampus yang dihuni jutaan insan intelektual seharusnya bisa berfungsi sebagai rumah persemaian nilai-nilai luhur ke-Indonesiaan dalam rangka menegakkan 4 pilar kebangsaan.

“Pilar kebangsaan tersebut yakni Pancasila, Undang-Undang Dasar 1945, Bhineka Tunggal Ika dan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Negara kita dikatakan sebagai mozaik negeri yang kaya raya akan keberagaman, kaya dengan kemajemukan masyarakat, ragam budaya, etnis dan agamanya. Keberagaman tersebut merupakan kekuatan dan keindahan bangsa,” terangnya saat memberikan sambutan.

Pada materi berikutnya yang disampaikan oleh Prof. Bondan Tiara Sofyan yang merupakan Direktur Jenderal Potensi Pertahanan Kementerian Pertahanan menyampaikan materi tentang bela negara. Ia menyampaikan bahwa pertahanan negara merupakan segala usaha untuk mempertahankan kedaulatan negara, keutuhan wilayah NKRI, dan keselamatan segenap bangsa dari ancaman dan gangguan terhadap keutuhan bangsa dan negara.

“Ancaman yang kita hadapi sangat beragam berupa ancaman militer yang sifatnya agresi maupun non agresi serta ancaman nonmiliter berupa terorisme, radikalisme, separatism, bencana alam, wabah, pencurian sumber daya alam dan sebagainya. Terkait hal tersebut, negara tetap tumbuh dalam konteks ekonominya, kemakmurannya bertumbuh, dan masyarakatnya berkembang,” paparnya.

Ia kembali menambahkan bahwa masyarakat saat ini mengenal istilah Sishankamrata yaitu sistem pertahanan keamanan rakyat dan semesta.
“Dalam Sishankamrata, semesta berarti keterlibatan segala komponen dari negara ini yaitu warga negara, wilayah maupun sumber daya nasional. Semua sumber daya ini disiapkan sejak dini oleh pemerintah dengan sistem terpadu dan berlanjut,” terang Prof. Bondan.

Kesadaran bela negara merupakan kesadaran bahwa warga negara perlu melakukan pembelaan terhadap negara. Kesadaran bela negara merupakan hak dan kewajiban seluruh warga negara karena harus diajarakan dan ditularkan.
“Semua warga negara berhak mendapat pengajaran bela negara dalam konteks ini yakni terdapat dalam pelajaran pendidikan kewarganegaraan. Kesadaran bela negara ini diperlukan untuk menghadapi spektrum ancaman bangsa Indonesia,” imbuhnya.

Sementara itu, pada materi kedua yang disampaikan oleh Prof. Yudha Triguna yang merupakan sosiolog Universitas Hindu Indonesia menyampaikan tentang sinergisitas generasi muda lintas agama. Ia menyampaikan bahwa keberagaman dapat memperkaya hidup serta memberikan dampak positif dari berbagai suku, agama, maupun tradisi.

“Jangan sekali-kali merasa pintar dan congkak saat sekolah. Ibarat orang menyapu, hilang kotoran, kemudian debu datang. Begitulah saat hidup di negeri orang, meskipun kamu akan menjadi pintar tetap ada hal yang harus dipelajari. Maksud dari nasihat tersebut, di manapun kita berada harus mau berusaha dan mengerti lingkungan setempat, lingkungan budaya, agama, dan tradisi adat istiadat setempat,” jelasnya.

Materi ketiga disampaikan oleh Prof. Faruk yang merupakan budayawan dan sastrawan dari Universitas Gadjah Mada (UGM). Ia menyampaikan mengenai makna dari sila-sila dalam Pancasila. Pada sila pertama, Prof. Faruk mengungkapkan bahwa masyarakat Indonesia bertuhan, beriman, dan bertakwa sesuai agamanya masing-masing, bisa beragama bisa berkepercayaan atau yang lainnya.

Sementara itu, pembicara terakhir dari perwakilan mahasiswa UNS yakni Yusuf Hermawan menyampaikan bahwa saat ini banyak tantangan dalam implementasi nilai-nilai Pancasila. Salah satu faktor yang menghambat yakni sifat individualistis serta arus globalisasi. Humas UNS

Reporter: Bayu Aji Prasetya
Editor: Dwi Hastuti