UNS — Setiap tanggal 9 Februari, Indonesia selalu memperingati Hari Pers Nasional (HPN). Pada tahun ini, HPN mengusung tema “Bangkit dari Pandemi, Jakarta Gerbang Pemulihan Ekonomi, Pers sebagai Akselerator Perubahan”. Menyoroti hal tersebut, kiprah alumnus Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta pun juga tak kalah menarik untuk diulas. Kiprah mereka sebagai jurnalis di Surakarta turut menyumbang informasi-informasi yang aktual dan akurat bagi masyarakat.
Salah satu alumnus UNS, Rini Yustiningsih yang kini menjabat sebagai Pemimpin Redaksi (Pemred) Solopos membagikan pengalaman hidupnya sebagai jurnalis kepada tim uns.ac.id. Dihubungi melalui aplikasi Google Meet, Rini menuturkan bahwa ia mulai menggeluti dunia jurnalis semenjak ia duduk di bangku kuliah pada tahun 1996. Pada tahun itu, ia menjadi reporter di Radio Ria FM. Setelah 1 tahun di situ, ia diangkat menjadi news director.
Rini juga menceritakan pengalaman menariknya ketika berada di Ria FM. Pada saat itu, ia meliput sebuah kerusuhan yang terjadi pada tahun 1998 ketika Gus Dur diangkat menjadi Presiden. Suasana saat itu sangat kacau, beberapa infrastruktur dirusak oleh pendemo. Pada suasana yang menegangkan itu, Rini live report menggunakan ponsel yang membutuhkan koin untuk dapat menggunakannya. Belum selesai liputan, koin habis dan hal tersebut memberi kesan tersendiri bagi Rini. Dampak dari liputan yang ia siarkan, sangat diminati oleh pendengar radio saat itu.
Menginjak tahun 2000, Rini telah berhasil menyabet gelar sarjananya pada jurusan Ilmu Komunikasi. Setelah lulus, perempuan yang pernah mengenyam bangku pendidikan di SMA Negeri 1 Tegal memutuskan untuk bergabung pada sebuah Non-Governmental Organization (NGO) sebagai Hubungan Masyarakat dan Komunikator. Namun karena ketertarikannya adalah di bidang jurnalistik, ia memutuskan untuk keluar dari lembaga NGO tersebut dan bergabung ke Solopos.
“Aku masuk 2002 ke Solopos, nah di Solopos sampai sekarang. Waktu itu, aku masuk sebagai reporter. Jadi, waktu itu masih model magang 3 bulan profesi, kalau lolos diangkat jadi karyawan tetap,” jelas Rini, Selasa (9/2/2021).
Menilik kiprahnya di bidang jurnalistik selama lebih dari 20 tahun, ia mengatakan bahwa seorang jurnalis harus kuat secara mental dan fisik. Selain itu, menurutnya, jurnalis yang baik harus memiliki rasa ingin tahu yang tinggi, dapat mewakili pertanyaan pembaca medianya, dan tahan banting ketika ditempa sebuah permasalahan.
Perempuan yang juga pernah mengikuti ekstrakurikuler radio ini, juga menegaskan bahwa seorang introvert pun bisa menjadi jurnalis. Bahkan, beberapa rekan kerjanya adalah seorang introvert yang pendiam namun ketika menghadapi narasumber dapat berkomunikasi dengan baik dan juga kritis. Menurutnya, sah-sah saja menjadi seorang pendiam asalkan harus percaya diri.
“Boleh saja menjadi orang yang pendiam asalkan tetap harus percaya diri,” jelas Rini.
Rini berpesan apabila seseorang hendak menjadi jurnalis ia harus memiliki ketertarikan di dunia jurnalis terlebih dahulu, Rini menyebutnya sebagai passion. Menurutnya, passion adalah ketika seseorang mengerjakan sesuatu yang melelahkan namun hal tersebut dikerjakan dengan senang hati. Kedua, harus memiliki mental yang kuat yang mencakup motivasi dan daya juang. Selanjutnya, adalah sikap, menurutnya jangan sampai sebagai seorang jurnalis menjadi sok tahu di depan narasumbernya namun harus dapat menjadi gelas kosong.
Pada HPN 2021 ini, Rini menganggapnya dapat menjadi sebuah momentum bagaimana seorang jurnalis dapat menyampaikan berita yang kredibel namun juga harus dapat berjuang.
“Hari pers ini sebenernya bisa jadi momentum ya, bagaimana jurnalis bisa menyampaikan informasi yang kredibel, tapi pers juga harus mampu berjuang. Apalagi, tantangan di masa pandemi sekarang adalah bagaimana seorang jurnalis tetap bisa menyajikan info yang kredibel juga mampu menghidupi perusahannya,” ujarnya. Humas UNS
Reporter: Zalfaa Azalia Pursita
Editor: Dwi Hastuti


















