Syukuran UPT Perpustakaan UNS: Sutarno Ajak Civitas Gunakan Fasilitas Perpustakaan

Rohmadi dan Sutarno saat potong pita sebagai simbol peresmian Gedung UPT Perpustakaan UNS.
Rohmadi dan Sutarno saat potong pita sebagai simbol peresmian Gedung UPT Perpustakaan UNS.
Rohmadi dan Sutarno saat potong pita sebagai simbol peresmian Gedung UPT Perpustakaan UNS.

Meski gedung barunya sudah diresmikan oleh Menteri Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Menristerdikti) Muhammad Nasir pada Jumat, 11 Maret 2016,  UPT Perpustakaan UNS mengadakan peresmian internal di lobi Gedung UPT Perpustakaan, Rabu (30/3/2016). Dalam peresmian itu, juga diselenggarakan Deklarasi Budaya Literasi, peluncuran Klinik dan Kafe Pustaka Ilmiah, Pentas Budaya, dan pesta kuliner untuk pemustaka sebagai bentuk rasa syukur.

Dalam sambutannya, Kepala UPT Perpustakaan UNS Muhammad Rohmadi mengungkapkan bahwa dalam rangka mencapai visi UNS, UPT yang memiliki visi untuk bisa menjadi pusat sumber belajar, penelitian, dan informasi tersebut berharap bisa mendukung budaya menulis dan membaca di UNS. Pihaknya juga membagikan selebaran untuk diisi para tamu yang hadir dalam peresmian tersebut untuk dituliskan harapan dan pesan untuk anak dan cucu yang nantinya akan dibukukan. Selain itu, dia juga berharap catatan harapan dan pesan tersebut bisa dibaca 100 tahun ke depan dan bisa menjadi motor gerakan literasi di UNS.

Dalam kesempatan ini, juga ada peluncuran klinik dan kafe pustaka ilmiah yang rencananya akan dibuka selama 24 jam untuk civitas akademika bisa belajar dan beraktivitas lainnya. Tempatnya ada di lantai satu sebelah barat lobi gedung baru tersebut. Di sana akan disediakan ruangan yang nyaman dan juga minuman gratis.

kl
Sutarno bubuhkan tanda tangan usai pemotongan pita sebagai wujud Deklarasi Budaya Literasi.

Wakil Rektor Bidang Akademik Sutarno berpesan untuk memanfaatkan berbagai fasilitas yang sudah disediakan, salah satunya jurnal internasional yang UNS sudah berlangganan. “Kami mohon untuk memanfaatkan apa yang sudah disewa, kalau di sini ada sciencedirect.com, scopus.com,” tuturnya.

Dengan tidak memanfaatkan fasilitas tersebut, menurutnya, civitas akademika sudah menyia-nyiakan uang yang sudah dianggarkan untuk berlangganan jurnal internasional tersebut. Tidak main-main, sebesar 5,5 miliar rupiah dibayarkan untuk jurnal-jurnal tersebut. Selain itu, masih kata Sutarno, civitas akademika UNS tidak ingin tulisannya up-to-date, sehingga tulisan yang ada menjadi lembek dan tidak mungkin bisa diterima oleh penerbit jurnal internasional. [] (dodo.red.uns.ac.id)