UNS – Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta kembali menunjukkan perannya sebagai penggerak inovasi pendidikan melalui acara AppliedHE Xchange 2025. Dalam acara tersebut digelar diskusi panel bertajuk Rankings & Ratings for Industry-Relevant Skills. Diskusi ini menyoroti pentingnya kolaborasi antara universitas dan industri dalam membangun lulusan yang relevan dengan kebutuhan pasar global.
Dalam sesi Panel Discussion 3, Selasa (25/2/2025), diskusi ini dimoderatori oleh Zeba Salman. Sedangkan narasumber dari sesi ini adalah Ibrahim Fatwa Wijaya, S.E., M.Sc., Ph. D, selaku Direktur Perencanaan, Kemitraan, Internasionalisasi, dan Reputasi UNS, Indonesia; Dian Ekowati SE., M.Si., M.AppCom(OrgCh)., Ph.D. selaku Kepala Lembaga Perencanaan dan Pengembangan Universitas Airlangga, Indonesia, dan Prof. Sibrand Poppema, Presiden Sunway University, Malaysia.
Membahas mengenai relevansi ranking dan employability dalam pendidikan, mewakili UNS, Ibrahim menyoroti pentingnya universitas tidak hanya mengejar peringkat. Tetapi juga berfokus pada membangun keterampilan berpikir kritis dan kemampuan pemecahan masalah. Ia mengaitkan sejarah keunggulan dunia Islam pada masa lalu dengan inovasi, dan menyatakan bahwa universitas modern harus mendorong kembali semangat inovasi tersebut.

“Ranking harus digunakan sebagai alat untuk mengevaluasi kekuatan dan kelemahan institusi, bukan hanya sebagai kompetisi,” ujarnya.
Sementara itu, Dian Ekowati mengemukakan pentingnya keterlibatan universitas dalam menutup kesenjangan keterampilan (skills gap) di dunia kerja. Ia menyebut bahwa peringkat dan pemeringkatan kini mulai mengukur tingkat employability lulusan, yaitu sejauh mana lulusan mampu memenuhi kebutuhan pasar tenaga kerja. “Kita perlu memastikan lulusan kita tidak hanya memiliki keterampilan teknis tetapi juga keterampilan lunak, seperti berpikir kreatif, kolaborasi, dan inovasi,” ujarnya.
Prof. Sibrand Poppema menambahkan bahwa peringkat sering kali terlalu menekankan penelitian dan reputasi. Sementara aspek penting seperti employability (kesesuaian lulusan dengan pasar kerja) mulai mendapat perhatian lebih. Pendidikan tinggi harus menghasilkan lulusan yang tidak hanya siap kerja (industry ready) tetapi juga memiliki kemampuan beradaptasi untuk pekerjaan masa depan (employable).
“Yang benar-benar membuat lulusan unggul adalah kombinasi keterampilan teknis, soft skills, dan nilai-nilai yang membentuk mereka sebagai individu yang dapat berkontribusi di berbagai bidang. Dalam jangka panjang, keterampilan berpikir kritis, nilai-nilai, dan mindset kewirausahaan jauh lebih penting dibandingkan pengetahuan teknis semata,” tegasnya.
Dian turut menegaskan pentingnya kecepatan universitas dalam beradaptasi dengan perubahan kebutuhan industri. “Kolaborasi erat dengan industri dan penerapan wawasan strategis dalam indikator kinerja universitas menjadi kunci untuk mencetak lulusan yang relevan dan siap kerja,” katanya.
Diskusi ini secara langsung mendukung Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDG) nomor 17, kemitraan untuk mencapai tujuan. Para pembicara menekankan bahwa kolaborasi erat antara universitas dan industri adalah kunci untuk menghasilkan lulusan yang relevan dengan kebutuhan pasar.
Sebagai tuan rumah, UNS melalui Direktur Perencanaan, Kemitraan, Internasionalisasi, dan Reputasi, Ibrahim menunjukkan komitmennya untuk menjembatani dunia pendidikan dan industri. “Dengan memperkuat hubungan antara pendidikan tinggi dan industri, kami tidak hanya mencetak lulusan yang kompetitif tetapi juga berkontribusi pada pembangunan masyarakat,” tuturnya.
HUMAS UNS


















