UNS-Mengusung tema Ketahanan Pangan menurut Islam di Masa Covid-19, Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta menghadirkan Dr. TGB. Muhammad Zainul Majdi dalam acara Kajian Tarawih Online. Kajian yang disiarkan secara langsung melalui aplikasi zoom meeting dan saluran youtube UNS tersebut dilaksanakan pada Kamis (7/5/2020) selepas salat Tarawih. Sebelumnya, UNS sudah tiga kali mengadakan kegiatan serupa dengan tema dan narasumber yang berbeda.
Penyelenggaraan kegiatan ini juga dalam rangka mengurangi penyebaran Covid-19. Terlebih, pemerintah juga mengeluarkan imbauan agar kegiatan peribadatan dilakukan di rumah masing-masing. Oleh karena itu, UNS mengadakan kajian secara daring yang dapat disaksikan dari rumah. Indonesia saat ini sedang diuji oleh pandemi Covid-19 sehingga menyebabkan beberapa sektor terganggu, salah satunya ketahanan pangan.
Dr. TGB. Muhammad Zainul Majdi atau yang kerap disapa Tuan Guru Bajang mengemukakan bahwa pada masa Rasulullah SAW., beliau membuat pasar alternatif yang digunakan bukan untuk menyaingi pasar umum.
“Persaingan penjualan pada pasar umum biasanya lebih besar dan tentu saja hanya akan menguntungkan orang-orang yang memiliki daya beli tinggi. Semakin besar daya beli seseorang, maka semakin banyak pula potensi barang yang akan dibeli sehingga akan berdampak pada ketersediaan barang,” ujar mantan Gubernur NTB tersebut.
Hal ini dapat disandingkan dengan keadaan Indonesia di tengah wabah Covid-19. Pemerintah cukup kewalahan dalam memenuhi hak warganya yang terdampak pandemi. Bukan semata-mata dalam bentuk bantuan saja, pada dasarnya rakyat juga memiliki peran dalam ketahanan pangan ini.
“Masyarakat yang memiliki sawah maupun lahan kosong harus dimanfaatkan sebijak mungkin. Selain dapat digunakan untuk memenuhi kebutuhan sendiri, juga dapat digunakan untuk berbagi dengan tetangga,” jelas Tuan Guru Bajang.
Ketahanan pangan ini juga sangat erat dengan sumber daya alam. Semakin hari, jumlah penduduk terus meningkat, sedangkan ketersediaan lahan kosong berbanding terbalik.
Pangan dalam Islam merupakan sesuatu yang spiritual, tidak hanya terkait dengan aspek biologis saja.
“Risalah Islam di dalam kehidupan adalah menghadirkan Nur. Implementasi dari Nur tersebut yaitu Al-Madinatul Munawarah yakni negeri yang menjadi mercusuar dan teladan bagi manusia. Seperti yang terdapat dalam surah Al-Baqarah ayat 201 agar Allah senantiasa memberikan kebaikan di dunia maupun akhirat,” imbuhnya.
Dalam kerangka mewujudkan kebaikan di dunia, Allah memberikan panduan kepada manusia agar kehidupan dapat berjalan dengan baik, sehingga hal terpenting dalam kehidupan dapat tercukupi, salah satunya hal pangan. Perhatian Al-Quran sangat luar biasa kepada aspek kecukuan pangan. Allah telah menyiapkan rezeki bagi setiap manusia, bumi telah diberikan kapasitas untuk memberikan pangan bagi makhluk hidup yang ada di dalamnya sepanjang masa. Islam juga sangat mendorong kita untuk memanfaatkan sumber daya alam dengan sebaik-baiknya.
Lalu pada poin terakhir yang disampaikan oleh Tuan Guru Bajang yakni mengenai keberlanjutan.
“Semua yang ada harus dimanfaatkan secara bijak, tidak berlebihan, tidak dieksploitasi. Islam tidak suka kemubaziran karena bertentangan dengan Al-Mizan atau keseimbangan. Oleh karena itu, mari manfaatkan sumber daya alam dengan bijak agar dapat menciptakan ketahanan pangan bagi Indonesia,” tutup Tuan Guru Bajang.Humas UNS/Bayu
















