FP UNS Kembangkan Desa Banyuurip di Kabupaten Sragen sebagai Desa Ngrowot untuk Ketahanan Pangan

FP UNS Kembangkan Desa Banyuurip di Kabupaten Sragen sebagai Desa Ngrowot untuk Ketahanan Pangan

UNSFakultas Pertanian (FP) Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta menggelar kegiatan pemberdayaan masyarakat di Desa Banyuurip, Kecamatan Jenar, Kabupaten Sragen. Kegiatan dilaksanakan dengan tema pelestarian budaya dan ketahanan pangan. Tema yang diangkat yakni “Pengembangan Desa Banyuurip sebagai Desa Ngrowot untuk Pelestarian Budaya dan Ketahanan Pangan Masyarakat”. Program ini menjadi bentuk komitmen untuk berdampak melalui pengabdian masyarakat.

Kegiatan pada Sabtu (17/5/2025) menjadi bagian dari rangkaian peringatan Dies Natalis ke-49 UNS. FP UNS ingin menghadirkan manfaat langsung kepada masyarakat desa. Hal tersebut kemudian diwujudkan dalam bentuk peningkatan keterampilan, pengetahuan, hingga pengembangan ekonomi kreatif.

Acara pemberdayaan masyarakat dihadiri berbagai pihak dari unsur pemerintah dan lembaga. Turut hadir Wakil Dekan Non Akademik FP UNS, Prof. Dr. Ir. Mujiyo, S.P., M.P., beserta dosen dan mahasiswa. Hadir pula Camat Jenar, Polsek Jenar, Koramil Jenar, Kesatuan Pengelolaan Hutan (KPH) Surakarta, Lembaga Pengembangan Teknologi Pedesaan (LPTP), Yayasan Keanekaragaman Hayati Indonesia (KEHATI), dan Dinas Ketahanan Pangan, Pertanian, dan Perikanan (DKP3) Sragen, dan lain-lain.

Kegiatan dibuka secara simbolis dengan penabuhan kentongan oleh Prof. Mujiyo. Pembukaan ini berlokasi di Balai Kesenian Rakyat Desa Banyuurip. Acara dilanjutkan dengan simbolisasi penetapan Desa Banyuurip sebagai Desa Ngrowot. Selain itu, dilakukan juga pembentukan Generasi Pelestari Hutan yang diikuti para pemuda desa. Kemudian dilakukan penyerahan paket sembako dan bibit tanaman kepada masyarakat. Simbolisasi ini diwakili lima warga desa dan enam anggota Siswa Pecinta Alam (sispala) setempat.

Kepala Desa Banyuurip, H. Suroto, S.H. menyambut baik kegiatan yang diselenggarakan FP UNS. Ia berharap Desa Banyuurip dapat berkembang seperti desa lainnya yang lebih maju. Ia juga mengusulkan adanya kerja sama formal melalui MoU dengan FP UNS dan Perhutani. Dalam sambutannya, Prof. Mujiyo menyampaikan pentingnya peran perguruan tinggi di masyarakat. Menurutnya, Tridarma Perguruan Tinggi tak hanya pendidikan dan penelitian. Pengabdian masyarakat juga harus berjalan aktif, sebagaimana dilakukan di Banyuurip.

“Perguruan tinggi mempunyai tugas dan fungsi Tridarma Perguruan Tinggi, yang pertama pendidikan, penelitian dan pengabdian kepada masyarakat seperti yang kami lakukan sekarang ini. Untuk pengabdian kepada masyarakat kami memandang bapak dan ibu sebagai mitra dan pada waktu di lokasi untuk hal teknis pasti bapak ibu lebih kuat dan lebih berpengalaman” tutur Prof. Mujiyo.

Beliau menambahkan, masyarakat merupakan mitra penting dalam setiap program pengabdian kampus. Bahkan, dalam pelaksanaan teknis di lapangan, pengalaman warga jauh lebih kuat. Oleh karena itu, kolaborasi yang erat menjadi kunci keberhasilan bersama. Kegiatan berikutnya adalah simbolisasi penanaman tanaman Garut oleh para peserta.

Penanaman dilakukan bersama perwakilan FP UNS, Kementerian Kehutanan, dan berbagai mitra. Tanaman Garut dipilih sebagai bagian upaya ketahanan pangan dan pelestarian budaya lokal. Selain itu, diselenggarakan pula Sekolah Lapang Budidaya Garut yang dipandu Prof. Dr. Ir. Supriyono, M.S. Kemudian, ada juga pelatihan pembuatan produk olahan Garut yang dipandu Ir. Bambang Sigit Amanto, M.Si.

Sebagai bentuk hasil nyata, dilakukan launching produk Snack Bar Garut karya warga setempat. Kegiatan diakhiri dengan penyerahan paket sembako kepada masyarakat yang hadir. Warga Desa Banyuurip tampak antusias mengikuti seluruh rangkaian acara. Melalui kegiatan ini, FP UNS ingin mewujudkan desa yang mandiri dan berdaya secara pangan. Pelestarian budaya lokal melalui konsep Desa Ngrowot pun diharapkan dapat terus berkembang. UNS berkomitmen untuk terus berkontribusi dalam pengembangan desa-desa di sekitar kampus.
Humas UNS