UNS — Grup Riset Fakultas Ilmu Sosial dan Politik (FISIP) Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta melalui skema Hibah Grup Riset (HGR) menyelenggarakan kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) berupa workshop penguatan kapasitas pemandu wisata dan pengembangan ekowisata berkelanjutan bagi Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Desa Wisata Nglanggeran, Gunungkidul. Kegiatan ini mengangkat isu keberlanjutan tata kelola kawasan geopark di tengah meningkatnya tekanan kunjungan wisata.
Workshop dilaksanakan pada 1 Agustus 2026 di Desa Wisata Nglanggeran, Gunungkidul, yang merupakan bagian dari UNESCO Global Geopark Gunung Sewu dan dikenal sebagai kawasan dengan situs gunung api purba.
Kegiatan ini dilaksanakan oleh Tim Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) dan Grup Riset Pembangunan dan Perubahan Sosial (PPS), Program Studi Sosiologi, FISIP UNS, dengan Ketua Pelaksana Dr. Yuyun Sunesti, G.D.Soc., M.A. Kegiatan ini juga melibatkan Mahasiswa sebagai bagian dari tim pelaksana di lapangan.
Workshop menyasar pengurus dan pemandu Pokdarwis Nglanggeran yang selama ini berperan dalam pengelolaan Desa Wisata Nglanggeran serta pelayanan kepada wisatawan domestik maupun mancanegara. Kegiatan ini merupakan bagian dari rangkaian riset di kawasan Geopark Pegunungan Sewu sekaligus menjadi wujud kolaborasi antara akademisi dan masyarakat dalam memperkuat keberlanjutan pengelolaan kawasan wisata alam.
Ketua Pelaksana kegiatan, Dr. Yuyun Sunesti, menekankan bahwa kegiatan PKM tersebut merupakan bagian dari komitmen UNS dalam mendukung pengembangan kapasitas sumber daya manusia, khususnya pemandu wisata yang berada di garis depan dalam memberikan pengalaman kepada wisatawan sekaligus turut menjaga keberlanjutan destinasi wisata lokal.
“Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya UNS untuk terus mendukung masyarakat dalam mengembangkan kapasitas dan pengetahuan yang relevan dengan kebutuhan pengelolaan destinasi wisata. Pemandu memiliki posisi penting karena berinteraksi langsung dengan wisatawan dan dapat menjadi salah satu aktor utama dalam menyampaikan nilai-nilai konservasi dan keberlanjutan,” ujar Yuyun.
Sementara itu, Pengurus Pokdarwis Desa Wisata Nglanggeran, Mursidi, menyampaikan apresiasi atas terselenggaranya kegiatan tersebut. Menurutnya, workshop memberikan tambahan pengetahuan dan wawasan bagi para pemandu, sekaligus membuka ruang kolaborasi yang lebih luas antara Pokdarwis dan kalangan akademisi.
Ia berharap kerja sama tersebut dapat terus berlanjut dan memberikan manfaat bagi pengembangan kapasitas Pokdarwis, terlebih kegiatan workshop dilaksanakan tidak lama setelah Pokdarwis Nglanggeran melakukan reorganisasi dan restrukturisasi kepengurusan pada 17 Juli 2026.
Dalam workshop tersebut, tim pelaksana menghadirkan narasumber eksternal, Ir. Denni Susanto, S.Hut., M.Sc., Ph.D., dari Sekolah Vokasi Universitas Gadjah Mada (UGM), Program Studi Pengelolaan Hutan, yang menyampaikan materi mengenai Pemanduan dan Ekowisata Berkelanjutan.
Denni menyampaikan bahwa Desa Wisata Nglanggeran memiliki keunggulan yang kuat karena memadukan identitas budaya dan kekayaan alam yang unik. Posisi Nglanggeran sebagai bagian dari UNESCO Global Geopark juga menjadi modal penting dalam pengembangan pariwisata berbasis edukasi, konservasi, dan pemberdayaan masyarakat.



Dalam paparannya, Ir. Denni menjelaskan konsep ekowisata sebagai salah satu alternatif terhadap pariwisata massal yang berpotensi mengabaikan daya dukung lingkungan. Ekowisata, menurutnya, perlu memadukan unsur wisata alam, edukasi, konservasi, dan kebermanfaatan bagi masyarakat lokal.
Ia juga memperkenalkan prinsip layanan 5R, yaitu ramah, responsif, rapi, relevan, dan bertanggung jawab (responsible), serta formula JAGA, yakni Jaga kawasan, Aman dalam perjalanan, Gali nilai kawasan, dan Ajak manfaat lokal. Formula tersebut dapat menjadi panduan praktis bagi pemandu sebelum dan selama mendampingi wisatawan.
Ir. Denni turut menekankan pentingnya memperhatikan daya dukung dan daya tampung kawasan wisata sebagai salah satu kunci dalam mewujudkan pariwisata yang berkelanjutan. Menurutnya, peningkatan jumlah wisatawan perlu diimbangi dengan kemampuan kawasan dalam menanggung aktivitas wisata agar keberlanjutan lingkungan tetap terjaga.
Dalam sesi diskusi, Pokdarwis Nglanggeran turut membagikan pengalaman nyata dalam mengelola daya tampung kawasan wisata. Pengurus Pokdarwis mengungkapkan bahwa pada 2014 terjadi lonjakan jumlah kunjungan. Rata-rata kunjungan harian bahkan sempat mencapai sekitar 1.000 orang, yang berdampak pada kerusakan lingkungan dan peningkatan volume sampah.
Penyesuaian harga tiket kemudian dilakukan dan berhasil menurunkan volume kunjungan hingga sekitar 50 persen. Meskipun jumlah pengunjung berkurang, pendapatan tetap relatif stabil karena pengelola melakukan penguatan terhadap atraksi wisata serta meningkatkan nilai jual berbagai potensi yang dimiliki Desa Wisata Nglanggeran.
Selain persoalan daya tampung, peserta juga mendiskusikan tantangan sertifikasi pemandu wisata. Sekitar 80 persen sertifikasi yang dimiliki para pemandu disebut telah kedaluwarsa sejak 2019. Sementara itu, program sertifikasi yang kembali dilaksanakan pada 2024 baru menjangkau delapan orang karena masih menghadapi keterbatasan biaya dan akses.
Workshop juga menjadi ruang untuk mengidentifikasi sejumlah peluang pengembangan ekowisata di Nglanggeran. Beberapa potensi yang dibahas antara lain atraksi bird watching, pengamatan kupu-kupu, pemanfaatan kalender musim alam, serta penguatan kearifan lokal melalui berbagai agenda tahunan, seperti Nglanggeran Culture Festival dan Night Specta yang menjadi salah satu agenda nasional Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif.
Dalam diskusi tersebut, peserta juga menilai pemanfaatan situs web dan media sosial sebagai sarana promosi masih perlu diperkuat. Penguatan kanal digital dinilai penting untuk memperluas jangkauan informasi mengenai potensi wisata sekaligus menyampaikan pesan-pesan edukasi dan konservasi kepada calon wisatawan.
Kegiatan workshop ini turut berkontribusi pada pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 4 (Pendidikan Berkualitas) melalui peningkatan pengetahuan dan keterampilan pemandu wisata, juga SDG 15 (Ekosistem Daratan) melalui penguatan kapasitas adaptif masyarakat dalam menjaga daya dukung dan daya tampung lingkungan kawasan geopark; serta SDG 17 (Kemitraan untuk Mencapai Tujuan) melalui penguatan kolaborasi antara akademisi dan masyarakat, khususnya Pokdarwis Nglanggeran.
Melalui kegiatan ini, para pemandu wisata dan pengurus Pokdarwis Nglanggeran diharapkan tidak hanya memperoleh pemahaman baru mengenai konsep ekowisata berkelanjutan, tetapi juga memiliki bekal praktis yang dapat diterapkan dalam pendampingan wisatawan sehari-hari.
Dalam jangka panjang, kolaborasi antara Tim Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) dan Grup Riset Pembangunan dan Perubahan Sosial (PPS), Program Studi Sosiologi, FISIP UNS, dengan Pokdarwis Nglanggeran diharapkan dapat terus berkembang dan berkontribusi terhadap penguatan ketahanan sosial serta lingkungan di kawasan Geopark Pegunungan Sewu. Humas UNS



















