Universitas Sebelas Maret (UNS) sukses menyelenggarakan International Short Course bertajuk ‘Biodiversity Calls Us for Partnership to Conserve Nature’ pada 15–17 Mei 2026 di Desa Purwosari, Kulon Progo. Kegiatan kolaborasi FKIP UNS dan didukung LPDP ini diikuti oleh 40 peserta—termasuk 12 peserta internasional dari berbagai negara—untuk mempelajari konservasi keanekaragaman hayati dan pengelolaan sumber daya alam berkelanjutan.
UNS — Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta sukses menyelenggarakan International Short Course bertajuk “Biodiversity Calls Us for Partnership to Conserve Nature” di Desa Purwosari, Kapanewon Girimulyo, Kabupaten Kulon Progo, Daerah Istimewa Yogyakarta. Kegiatan yang berlangsung selama tiga hari tersebut mendapat antusiasme tinggi dari para peserta, termasuk 12 peserta yang berasal dari berbagai negara.
Kegiatan ini merupakan hasil kolaborasi Program Studi S1 Pendidikan Biologi, S2 Pendidikan Sains, dan S2 Pendidikan Biologi Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) UNS. Program tersebut turut didukung oleh Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) dalam kerangka Sustainable Development Goals (SDGs).
Sebanyak 40 peserta mengikuti kegiatan yang dirancang sebagai ruang pembelajaran dan pertukaran pengalaman mengenai keanekaragaman hayati, konservasi alam, serta pengelolaan sumber daya alam secara berkelanjutan. Peserta berasal dari jenjang pendidikan S1, S2, dan S3, baik dari dalam maupun luar negeri.
Dari 40 peserta tersebut, sebanyak 12 orang merupakan peserta internasional. Mereka berasal dari Turki, Filipina, Malaysia, Pakistan, Aljazair, Nigeria, Rwanda, dan Burundi. Kehadiran peserta internasional tersebut semakin memperkuat semangat kolaborasi lintas negara dalam membangun kepedulian terhadap pelestarian keanekaragaman hayati.
Ketua Panitia International Short Course, Dr. Puguh Karyanto, S.Si., M.Si., Ph.D., mengatakan Desa Purwosari dipilih sebagai lokasi kegiatan karena memiliki kekayaan ekologis dan potensi keanekaragaman hayati yang luar biasa.
“Desa Purwosari memiliki kekayaan ekologis dan potensi keanekaragaman hayati yang luar biasa, khususnya jenis burung lokal yang eksotis. Namun, potensi tersebut belum dimanfaatkan secara optimal dan secara lestari oleh masyarakat setempat,” ujarnya.
Menurutnya, melalui kegiatan International Short Course ini, peserta tidak hanya mendapatkan pengetahuan secara teoritis, tetapi juga diajak melihat secara langsung potensi keanekaragaman hayati sekaligus memahami pentingnya keterlibatan masyarakat dalam upaya konservasi.
Belajar Konservasi Langsung di Alam
Pelaksanaan International Short Course dikemas dalam berbagai aktivitas pembelajaran yang memadukan materi akademik dengan pengalaman langsung di lapangan. Salah satu kegiatan diawali dengan field tracking yang diisi dengan pengamatan keanekaragaman burung di kawasan Purwosari.
Kegiatan tersebut juga ditandai dengan pelepasan burung dan penanaman pohon sebagai simbol kepedulian terhadap konservasi burung dan tumbuhan. Peserta diajak memahami bahwa pelestarian keanekaragaman hayati membutuhkan keterlibatan berbagai pihak, termasuk masyarakat, akademisi, Mahasiswa, praktisi, dan komunitas.
Rangkaian kegiatan kemudian diawali dengan pengenalan potensi Desa Wisata Burung Purwosari yang disampaikan langsung oleh Sri Murtini, A.Md., selaku lurah setempat. Peserta mendapatkan gambaran mengenai potensi desa, khususnya dalam pengembangan wisata berbasis keanekaragaman hayati dan pemberdayaan masyarakat.
Suasana kegiatan semakin semarak dengan penampilan Tari Gambyong yang dibawakan oleh mahasiswa S1 Pendidikan Biologi FKIP UNS. Pertunjukan tersebut menjadi bagian dari pengenalan budaya lokal kepada para peserta internasional.

Peserta selanjutnya mengikuti sesi “Craft Your Cup: Barista in an Hour” yang dipandu oleh Tegar Cahya Putra dari Lestari Purwosari. Sesi tersebut memberikan pengalaman praktis kepada peserta dalam mengenal kopi sekaligus potensi produk lokal yang dikembangkan masyarakat.
Untuk memperkaya perspektif peserta, International Short Course yang dilaksanakan pada 15–17 Mei 2026 ini menghadirkan sejumlah narasumber dari kalangan akademisi dan praktisi. Salah satunya adalah Dr. Mohammad Saiful bin Mansor dari Universiti Kebangsaan Malaysia yang memandu sesi “Beauty of the Wings: Revealing Bird Beauty”.
Sesi tersebut dilaksanakan setelah kegiatan Field Tracking: Observing Birds’ Diversity. Peserta mendapatkan kesempatan untuk mempelajari keanekaragaman burung secara lebih mendalam sekaligus memahami nilai penting burung dalam ekosistem.
Selanjutnya, peserta mengikuti sesi “Lens on Biodiversity: Commercial Wildlife Photography/Stock Photography” yang menghadirkan Riza Marlon, wildlife photojournalist, bersama Arif Indrianto dari Nikon Solo Photographer. Materi tersebut memperkenalkan bagaimana fotografi dapat menjadi media untuk mendokumentasikan, mengomunikasikan, sekaligus meningkatkan kepedulian terhadap keanekaragaman hayati.
Perspektif internasional mengenai pendidikan keanekaragaman hayati juga dihadirkan melalui sesi “Sharing Session on Biodiversity Education from Marmara University, Turkey” yang dilanjutkan dengan kegiatan Bird Storytelling. Sesi tersebut menjadi ruang pertukaran pengalaman dan wawasan antara peserta dari berbagai negara.
Tidak hanya membahas konservasi, kegiatan juga memperkenalkan pemanfaatan sumber daya lokal secara berkelanjutan. Peserta mengikuti “Palm Sugar Production Experience” bersama Nur Jiwata dan tim dari Lestari Purwosari serta “Whispers of the Bud: White Tea Processing Class”.
Melalui kegiatan tersebut, peserta diperkenalkan pada proses pengolahan produk berbasis potensi lokal sekaligus memahami bagaimana sumber daya alam dapat dikembangkan untuk mendukung perekonomian masyarakat tanpa mengabaikan aspek keberlanjutan.
Selama tiga hari pelaksanaan, seluruh rangkaian kegiatan berjalan dengan lancar dan mendapatkan respons positif dari peserta. Antusiasme terlihat dari keterlibatan peserta dalam setiap sesi, baik kegiatan akademik, diskusi, praktik, maupun aktivitas lapangan.
International Short Course “Biodiversity Calls Us for Partnership to Conserve Nature” dirancang sebagai pengalaman belajar terpadu bagi mahasiswa dalam dan luar negeri. Program ini memadukan ilmu konservasi, pendidikan keanekaragaman hayati, serta pengelolaan sumber daya alam berkelanjutan berbasis masyarakat.
Melalui pendekatan tersebut, peserta tidak hanya memperoleh wawasan dan pengetahuan baru, tetapi juga mendapatkan pengalaman langsung mengenai praktik konservasi dan pemberdayaan masyarakat berbasis potensi keanekaragaman hayati.
Keikutsertaan 12 peserta dari berbagai negara juga menjadi bagian penting dalam memperluas jejaring akademik internasional UNS. Pertemuan lintas negara dalam kegiatan ini diharapkan dapat membuka peluang kolaborasi lebih lanjut dalam bidang pendidikan, penelitian, konservasi, dan Pengabdian kepada Masyarakat.
Kesuksesan pelaksanaan International Short Course tersebut sekaligus menunjukkan komitmen UNS dalam menghadirkan pembelajaran yang tidak hanya berorientasi pada penguatan pengetahuan. Tetapi juga mendorong mahasiswa untuk memahami persoalan lingkungan secara nyata dan berkontribusi dalam upaya pelestarian alam serta pembangunan berkelanjutan. HUMAS UNS
Pertanyaan Umum (FAQ)
Di mana lokasi penyelenggaraan International Short Course UNS?
Kegiatan ini diselenggarakan di Desa Purwosari, Kapanewon Girimulyo, Kabupaten Kulon Progo, Daerah Istimewa Yogyakarta. Lihat di artikel
Berapa banyak peserta internasional yang mengikuti kegiatan ini?
Sebanyak 12 peserta internasional dari berbagai negara turut serta dalam program ini. Lihat di artikel
Fakultas apa di UNS yang menginisiasi kegiatan International Short Course tersebut?
Kegiatan ini diinisiasi oleh Program Studi S1 Pendidikan Biologi, S2 Pendidikan Sains, dan S2 Pendidikan Biologi FKIP UNS. Lihat di artikel
Kapan pelaksanaan kegiatan International Short Course UNS?
International Short Course ini dilaksanakan pada 15–17 Mei 2026. Lihat di artikel

















