Mahasiswa Agribisnis FP UNS Kembangkan Budidaya Maggot di Desa Wonosari

Mahasiswa Agribisnis FP UNS Kembangkan Budidaya Maggot di Desa Wonosari

UNS – Mahasiswa Program Studi (Prodi) Agribisnis Fakultas Pertanian (FP) Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta berinovasi melalui budidaya maggot. Mereka menginisiasi program pemanfaatan limbah organik dengan maggot di Desa Wonosari, Kabupaten Karanganyar. Program ini bertujuan mendukung ekonomi sirkular sekaligus mengatasi permasalahan sampah rumah tangga.

Proyek ini resmi dimulai pada Februari 2025 dengan melibatkan masyarakat Desa Wonosari di Kecamatan Gondangrejo. Kegiatan ini menjadi solusi alternatif mengurangi volume sampah organik yang selama ini hanya dibuang begitu saja. Selain itu, budidaya maggot dipilih karena ramah lingkungan dan memiliki nilai jual tinggi.

“Program yang resmi dimulai pada Februari hingga Mei 2025 ini bertujuan untuk meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap pentingnya pengelolaan limbah organik sekaligus memperkenalkan teknologi budidaya maggot yang ramah lingkungan dan bernilai ekonomis,” terang Aisya Allela, selaku anggota tim kepada uns.ac.id, Senin (26/5/2025).

Sebanyak sepuluh mahasiswa Prodi Agribisnis FP UNS terlibat aktif dalam tim hibah Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM) ini. Mereka tergabung dalam kelompok hibah MBKM periode 2025/2026 di bawah bimbingan Prof. Dr. Ir. Endang Siti Rahayu, M.S. Program ini juga didukung penuh oleh Kelompok Wanita Tani (KWT) Kenanga Desa Wonosari sebagai mitra budidaya.

Menambah wawasan peserta, kegiatan ini menghadirkan Sri Basuki Rachmat sebagai narasumber praktis. Ia merupakan peternak maggot dari Bank Sampah Gajah Putih yang telah berpengalaman di bidangnya. Para peserta mendapat pelatihan mulai dari pengolahan limbah hingga pengemasan maggot kering.

Selama pelaksanaan program, mahasiswa dan masyarakat aktif berinteraksi dalam setiap sesi pelatihan. Tantangan utama yang dihadapi adalah aroma menyengat dari limbah organik yang digunakan. Namun, penerapan Standar Operasional Prosedur (SOP) yang ketat terbukti efektif mengatasi kendala tersebut. Para mahasiswa membimbing warga mengenali cara pemilahan limbah organik rumah tangga. Limbah tersebut kemudian diolah menjadi media pertumbuhan maggot yang dapat dipanen setiap dua minggu. Maggot kering hasil budidaya memiliki nilai ekonomi karena dapat dijual ke peternak.

“Harapan dari program ini yaitu masyarakat semakin sadar bahwa limbah rumah tangga bukan sekadar sampah, tetapi juga dapat dimanfaatkan kembali dan menghasilkan nilai ekonomi jika diolah dengan benar. Keberlanjutan program pun mulai terlihat dari antusiasme para anggota KWT yang kini mulai melakukan budidaya maggot secara mandiri setelah mengikuti pelatihan,” lanjutnya.

Kegiatan ini menjadi bukti nyata peran mahasiswa dalam membangun inovasi berbasis kebutuhan lokal. Budidaya maggot mendukung konsep ekonomi sirkular sekaligus memberi manfaat lingkungan yang nyata. Selain itu, proses budidaya maggot tergolong sederhana dan mudah diterapkan di berbagai daerah. Melalui program ini, diharapkan Desa Wonosari dapat menjadi contoh desa mandiri dalam pengelolaan limbah organik. Kolaborasi kampus dan masyarakat menjadi bukti potensi lahirnya solusi kreatif untuk permasalahan lingkungan.
Humas UNS