Wujudkan Desa Mandiri Pangan, Mahasiswa UNS Ajak Warga Papringan, Semarang Budidaya Hidroponik dengan Media Galon

Wujudkan Desa Mandiri Pangan, Mahasiswa UNS Ajak Warga Papringan, Semarang Budidaya Hidroponik dengan Media Galon

Mahasiswa KKN UNS kelompok 121 Tahun 2026 mengajarkan warga Papringan, Semarang budidaya hidroponik menggunakan media galon bekas. Program yang berlangsung Februari 2026 ini bertujuan mewujudkan desa mandiri pangan, ramah lingkungan, dan ekonomis.

UNSMahasiswa Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta yang tergabung dalam Kuliah Kerja Nyata Tematik (KKN-T) Kelompok 121 Tahun 2026 menginisiasi program pemanfaatan galon bekas sebagai media budidaya Hidroponik kepada kelompok PKK di Desa Papringan, Kecamatan Kaliwungu, Kabupaten Semarang. Inovasi ini menawarkan solusi ramah lingkungan sekaligus ekonomis untuk kebutuhan pangan yang sehat.

Program sosialisasi yang dilaksanakan pada Februari 2026 tersebut dihadiri oleh anggota PKK setempat. Kegiatan disosialisasikan oleh Faiza perwakilan mahasiswa UNS, di bawah bimbingan Dosen Pembimbing Lapangan (DPL), Prof. Dr. Ir. Samanhudi, S.P., M.Si, IPU, ASEAN Eng., APEC Eng. Kegiatan berlangsung interaktif melalui pemaparan materi, praktik langsung, serta sesi diskusi.

Hidroponik merupakan budidaya tanaman tanpa menggunakan media tanah melainkan dengan memanfaatkan air sebagai pemenuhan nutrisinya. Media tanam yang digunakan dapat berupa rockwool, cocopeat, kerikil, batu, hingga arang sekam. Hidroponik tanaman sayuran daun dapat dipanen dalam waktu relatif singkat dengan hasil daun yang segar dan lebih renyah. Teknik hidroponik cocok diterapkan pada tempat yang memiliki lahan sempit maupun pasokan air terbatas.

Teknik hidroponik yang terbilang paling sederhana menggunakan wick system (sistem sumbu). Prinsip utama dari sistem sumbu adalah adanya aliran nutrisi dari wadah penampung nutrisi ke akar tanaman menggunakan prinsip kapilaritas sehingga akar tanaman dapat menyerap nutrisi. Hidroponik wick system dapat menggunakan barang bekas, seperti galon yang diberi lubang, gelas mineral bekas minuman yang dipotong menjadi dua, atau wadah plastik berbentuk kotak.

Dalam program ini, mahasiswa memanfaatkan galon air mineral bekas sebagai media budidaya hidroponik. Metode ini dinilai praktis, hemat biaya, serta mudah diterapkan di lahan terbatas, termasuk di pekarangan rumah. “Pemanfaatan galon bekas tidak hanya mendukung efisiensi budidaya, tetapi juga sejalan dengan upaya mengurangi limbah plastik tingkat rumah tangga,” terang Faiza kepada uns.ac.id, Selasa (17/3/2026).

Proses budidaya dilakukan dengan menyiapkan media berupa galon bekas yang telah dilubangi, dicat, dan diisi nutrisi berupa pupuk AB Mix dengan perbandingan 8 liter air ditambahkan 56 ml pekatan A dan 56 ml pekatan B. Satu galon terdiri dari enam lubang dengan setiap lubangnya diberikan satu tanaman. Tanaman sayuran daun dapat tumbuh optimal pada pH 6 – 7, kepekatan nutrisi 1200 – 1400 ppm, serta paparan sinar matahari langsung.

Salah satu peserta, Sri Widarti, mengungkapkan bahwa kegiatan ini memberikan wawasan baru bagi ibu-ibu PKK. “Kegiatan tersebut memberikan wawasan baru bagi saya dan memang layak untuk dibudidayakan, di samping untuk penyediaan pangan sehat juga turut mengurangi limbah plastik,” ujarnya.

Melalui program ini, masyarakat diharapkan dapat mengadopsi praktik pertanian yang lebih ramah lingkungan dan berkelanjutan. Penerapan budidaya hidroponik berpotensi meminimalisir penggunaan pestisida sintetis serta menekan pengeluaran rumah tangga melalui penyediaan pangan mandiri.

Harapannya melalui inovasi ini dapat menjadi langkah awal menuju sistem pertanian berkelanjutan yang meningkatkan produktivitas sekaligus menjaga kelestarian lingkungan. Pemanfaatan galon bekas menjadi media budidaya hidroponik menjadi bukti nyata bahwa inovasi yang sederhana dapat memberikan dampak bagi kesejahteraan masyarakat desa.

Program ini merupakan bentuk kontribusi terhadap Sustainable Development Goals (SDGs), terutama SDG ke-3 tentang Kehidupan Sehat dan Sejahtera melalui penyediaan sumber pangan sehat berupa sayuran segar yang dapat dikonsumsi.

HUMAS UNS

Pertanyaan Umum (FAQ)

Apa yang diajarkan mahasiswa UNS kepada warga Desa Papringan?

Mahasiswa UNS mengajarkan warga Desa Papringan cara budidaya hidroponik dengan memanfaatkan galon air mineral bekas sebagai media tanam. Lihat di artikel

Apa tujuan utama program budidaya hidroponik dengan galon bekas ini?

Tujuan utama program ini adalah untuk mewujudkan desa mandiri pangan yang sehat, ramah lingkungan, dan ekonomis. Lihat di artikel

Bagaimana cara membuat media tanam hidroponik dari galon bekas?

Galon bekas dilubangi, dicat, dan diisi dengan larutan nutrisi pupuk AB Mix dengan perbandingan yang tepat untuk menanam sayuran daun. Lihat di artikel

Manfaat apa yang dirasakan peserta dari kegiatan ini?

Peserta mendapatkan wawasan baru mengenai budidaya yang layak, penyediaan pangan sehat, dan pengurangan limbah plastik. Lihat di artikel