Dr. Sapta Kunta Purnama, M.Pd
Lahir di Boyolali, 23 Maret 1968. Pria yang memiliki NIP 196803231993031012 adalah staf Pengajar pada Fakultas Keguruan dan Ilmu Pengetahuan UNS. Riwayat pendidikan tinggi yang berhasil ditempuh adalah tahun 1991 lulus sarjana (S-1) dari FKIP UNS Surakarta pada bidang ilmu: JPOK, tahun 1998 berhasil menyelesaikan master (S-2) dari IKIP Jakarta pada bidang ilmu: Pendidikan Olahraga, dan pada tahun 2012 telah berhasil menyelesaikan program Doktor (S-3) dari Universitas Negeri Jakarta untuk bidang ilmu:Pendidikan Keolahragaan. Judul dan ringkasan disertasi disajikan dalam 2 (dua) versi bahasa Indonesia dan English sebagai berikut.
MODEL TES BAKAT BULUTANGKIS PERSPEKTIF DOMAIN FISIK
Kebijakan di Indonesia, olahraga prestasi dilakukan oleh setiap orang yang memiliki bakat, kemampuan, dan potensi untuk mencapai prestasi. Cabang olahraga bulutangkis merupakan andalan Indonesia untuk bersaing di tingkat internasional, namun sejak tahun 2010 prestasi atlet-atlet bulutangkis Indonesia dinilai mulai turun peringkat. Salah satu indikasi adalah gagalnya tim piala Thomas Indonesia dan tim Uber, Mei 2012, di Wuhan China; kalah di perempat final oleh timThomas dan Uber Jepang dengan skor yang sama 2-3.
Dalam suatu sistem pembinaan olahraga prestasi, sistem rekruitmen atlet merupakan tahapan penting untuk menjamin tercapainya prestasi berkelanjutan. Sistem rekruitmen di dalamnya terdapat tahapan seleksi dan penetapan calon atlet yang memenuhi semua persyaratan serta kriteria yang telah ditentukan. Kriteria yang utama adalah faktor keberbakatan atau telanta, dengan diketahuinya bakat calon atlet maka proses pembinaan prestasi menjadi jelas, selain itu juga pembinaan selanjutnya (pengembangan bakat) menjadi lebih efektif dan efisien dibanding membina calon atlet yang belum diketahui keberbakatannya. Berkaitan dengan hal tersebut instrumen identifikasi calon atlet berbakat menjadi penting untuk diadakan.
Metodologi Penelitian
Metode yang digunakan penelitian ini adalah metode penyusunan instrumen, yaitu membuat suatu rancangan instrumen tes untuk memecahkan masalah-masalah aktual yang berhubungan dengan bidang olahraga khususnya sistem identifikasi bakat. Dalam penelitian ini yang akan disusun adalah sebuah alat ukur untuk mengetahui bakat bulutangkis perspektif domain fisik. Karakteristik responden adalah pemain bulutangkis usia 12-13 tahun yang telah berlatih minimal selama tiga tahun, dengan frekuensi latihan minimal 3 kali seminggu dan merupakan anggota klub bulutangkis yang terdaftar di Persatuan Bulutangkis Seluruh Indonesia (PBSI) Jawa Tengah. Teknik pengambilan sampel menggunakan dua cara, yaitu; 1) Stratified random sampling, untuk uji coba instrumen; 2) teknik judgement sampling untuk penyusunan norma tes bakat bulutangkis perspektif domain fisik. Jumlah sampel untuk tujuan penyusunan rangkaian tes (test battery) terdiri dari 16 pemain putra dan 16 pemain putri. Jumlah sampel untuk keperluan penyusunan norma terdiri dari 390 pemain putra dan 255 pemain putri.
Hasil penelitian
Berdasarkan kepada hasil perhitungan analisis seleksi tes dengan metode seleksi tes dari Wherry-Doolittle adalah sebagai berikut:
1. Terdapat dua jenis rangkaian tes bakat bulutangkis perspektif domain fisik, yaitu;
a. Rangkaian tes bakat untuk pemain putra yang terdiri dari (1) panjang telapak kaki, (2) lempar tangkap bola tenis, (3) langkah bulutangkis ( shadow badminton), (4) lari multitahap; dan
b. Rangkaian tes bakat untuk pemain putri yang terdiri dari (1) panjang telapak kaki, (2) lempar tangkap bola tenis, (3) lari 40 meter, (4) langkah bulutangkis, (5) lari multitahap.
2. Validitas tes bakat bulutangkis perspektif domain fisik untuk putra = 0.859, dan untuk putri = 0.846, validitas tersebut termasuk kategori baik dan mempunyai daya pembeda yang signifikan pada taraf (P = 0.05).
3. Norma hasil tes bakat bulutangkis berdasarkan total T-skor, untuk pemain putra berbakat skor ≥ 252 dan untuk pemain putri berbakat skor ≥ 302.
Kesimpulan
1. Terdapat dua rangkaian tes bakat bulutangkis perspektif domain fisik, yaitu:
a. Rangkaian tes bakat bulutangkis untuk pemain putra, terdiri dari; pertama, tes panjang telapak kaki; kedua, lempar tangkap bola tenis;, ketiga, langkah bulutangkis; dan keempat lari multitahap.
b. Rangkaian tes bakat bulutangkis untuk pemain putri terdiri dari; pertama, panjang telapak kaki; kedua, lempar tangkap bola tenis;, ketiga, langkah bulutangkis; keempat, lari 40 meter; dan kelima, lari multitahap
2. Validitas rangkaian tes bakat bulutangkis perspektif domain fisik, merupakan validitas prediktif, yaitu:
a. Validitas tes bakat bulutangkis untuk pemain putra r2 = 0.859.
b. Validitas tes bakat bulutangkis untuk pemain putri r2 = 0.849.
c. Tes bakat bulutangkis untuk pemain putra mempunyai daya pembeda yang signifikan, hasil perhitungan uji normalitas adalah {c 2h= 9.175 < c 2t 0,95 (16) = 26.3}.
d. Tes bakat bulutangkis untuk pemain putri mempunyai daya pembeda yang signifikan, hasil perhitungan uji normalitas adalah {c 2h= 5.256 < c 2t 0,95 (12) = 21.03}.
3. Terdapat dua macam norma tes bakat bulutangkis, yaitu:
a. Norma tes bakat bulutangkis untuk pemain putra; 1) kategori baik sekali dengan skor 252 ke atas, (2) kategori baik dengan skor 219-251, (3) kategori cukup dengan skor 182-218, (4) kategori kurang dengan skor 160-181, (5) kategori kurang sekali dengan skor kurang dari 159.
Norma tes bakat bulutangkis untuk pemain putri; 1) kategori baik sekali dengang skor 302 ke atas, (2) kategori baik dengan skor 269-301, (3) kategori cukup dengan skor 232-268, (4) kategori kurang dengan skor 201-231, (5) kategori kurang sekali dengan skor kurang dari 200.
















