Siti Aisyah Tri Rahayu

Dr. Siti Aisyah Tri Rahayu, S.E., M.Si
Lahir di Cilacap, 27 September 1968. Perempuan yang memiliki NIP 196809271997022001 adalah staf Pengajar pada Fakultas Ekonomi UNS. Riwayat pendidikan tinggi yang berhasil ditempuh adalah tahun 1994 lulus sarjana (S-1) dari Universitas Gadjah Mada pada bidang ilmu: Ilmu Ekonomi Studi Pembangunan, tahun 2001 berhasil menyelesaikan master (S-2) dari Universitas Gadjah Mada pada bidang ilmu: Ilmu Ekonomi Studi Pembangunan, dan pada tahun 2012 telah berhasil menyelesaikan program Doktor (S-3) dari Universitas Gadjah Mada untuk bidang ilmu: Ilmu Ekonomi. Judul dan ringkasan disertasi disajikan dalam 2 (dua) versi bahasa Indonesia dan English sebagai berikut.

 

PERILAKU PASAR KREDIT BANK PASCA KRISIS MONETER DI INDONESIA (2002.1-2007.4): MODEL DATA PANEL DINAMIK
Tujuan dari penelitian ini secara umum adalah untuk menganalisis adanya fenomena disintermediasi perbankan di Indonesia pasca terjadinya krisis moneter. Secara terinci tujuan tersebut dijabarkan menjadi: Penelitian ini dilakukan dengan tujuan sebagai berikut: (1) Menganalisis variabel-variabel yang berpengaruh terhadap permintaan kredit bank; (2) Menganalisis variabel-variabel yang berpengaruh terhadap penawaran kredit bank; (3) Menganalisis gap antara permintaan kredit yang ada dengan permintaan kredit yang diinginkan; (4) Menganalisis gap antara penawaran kredit yang ada dengan penawaran kredit yang diinginkan; (5) Menganalisis gap antara permintaan kredit dan penawaran kredit bank; (6) Menganalisis respon permintaan kredit bank dalam menghadapi perubahan kondisi internal dan eksternalnya; (7) Menganalisis respon penawaran kredit bank dalam menghadapi perubahan kondisi internal dan eksternalnya.
Keaslian penelitian ini diantaranya adalah dengan menggunakan data individual bank triwulanan (2002.01-2007.04 untuk mengestimasimodel permintaan dan penawaran kredit. Data diestimasi dengan menggunakan Model Regresi Panel Data Simultan Dinamik  dan metode Seemingly Unrelated Regression (SURE) untuk mengestimasi efek individual di pasar kredit bank. Studi ini juga akan membandingkan apakah tipe kepemilikan mempunyai pengaruh terhadap perilaku bank di pasar kredit bank. Perbedaan lain dari penelitian ini dibanding penelitian sebelumnya adalah menggunakan metode general to spesifik approach dalam menentukan model estimasi yang paling tepat untuk mengestimasi pasar kredit di Indonesia
Secara umum penelitian ini menyimpulkan. bahwa masalah disintermediasi keuangan sektor perbankan masih terjadi pasca krisis moneter 1997 di Indonesia. Lambatnya pemulihan disintermediasi keuangan ini juga disebabkan karena lambatnya proses penyesuaian dalam permintaan dan penawaran kredit bank dalam menuju keseimbangan, sehingga membutuhkan waktu yang cukup lama bagi permintaan dan penawaran kredit bank untuk merasakan pengaruh dari  variabel-variabel penentu permintaan dan penawaran  kredit bank. Penelitian ini juga menemukan bahwa disintermediasi masih terjadi disebabkan karena perilaku pelaku di kedua sektor, yakni bank dan pelaku usaha yang masih menghindari risiko (risk averse). Temuan lainnya adalah adanya perilaku bank yang berbeda dalam model permintaan dan penawaran kredit bank di pasar kredit bank di Indonesia.
Kesimpulan spesifik dari penelitian ini adalah sebagai berikut. Pertama, hasil analisis permintaan kredit bank menunjukkan bahwa suku bunga kredit mempunyai elastisitas harga (suku bunga kredit) yang inelastis dalam jangka pendek untuk semua kelompok bank. Dalam jangka panjang, tingkat inelastisitas suku bunga kredit tersebut semakin berkurang, bahkan menjadi sangat elastis untuk BUSN Non Devisa dan Bank campuran. Inflasi meningkatkan permintaan kredit dalam jangka panjang hanya pada dua kelompok bank yaitu BPD dan bank campuran. Sementara kurs meningkatkan permintaan kredit bank pada semua kelompok bank dalam jangka panjang. Variabel pendapatan meningkatkan permintaan kredit untuk bank BUSN Non Devisa, BPD dan Bank asing dan menurunkan permintaan kredit pada  Bank Persero, BUSN Devisa, dan Bank campuran. Elastisitas pendapatan yang positif pada tiga bank pertama, menunjukkan bahwa kredit bank tersebut merupakan barang normal dan bahkan mewah bagi debitur.
Kedua, dari estimasi regresi penawaran kredit bank ditemukan bahwa meningkatnya suku bunga kredit semakin meningkatkan jumlah kredit yang ditawarkan oleh bank,  baik dalam jangka pendek maupun jangka panjang (BUSN Non devisa dan BPD). Sementara untuk bank persero, BUSN Devisa, bank campuran, dan bank asing pengaruh dari meningkatnya suku bunga kredit justru menurunkan jumlah kredit yang ditawarkan. Dilihat dari elastisitas penawaran, dapat dilihat bahwa suku bunga kredit pada BUSN Non Devisa dan BPD mempunyai elastisitas yang lebih besar dari satu (elastis). Ini berarti bahwa penawaran kredit bank untuk kedua bank sangat responsif terhadap perubahan suku bunga kredit bank. Meningkatnya suku bunga SBI mengurangi jumlah kredit yang ditawarkan dalam jangka panjang  pada  kelompok bank yaitu BUSN Non Devisa. Dari perkembangan portepel aktiva perbankan ditemukan bahwa dewasa ini terjadi perubahan preferensi bank dalam portofolio penanaman dananya. Bank cenderung untuk memegang aset yang likuid dan relatif kurang berisiko, seperti SBI, obligasi pemerintah dan pasar uang antar bank. Sementara itu, peningkatan indeks produksi meningkatkan permintaan kredit tiga kelompok bank, yaitu BUSN Non Devisa, BPD, dan bank asing. Kenaikan BOPO mempunyai dampak menurunkan penawaran kredit bank pada kelompok bank BUSN Devisa, BUSN Non Devisa, bank campuran dan bank asing. Dalam jangka panjang, CAR menurunkan penawaran kredit bank pada kelompok bank BUSN Devisa, BUSN Non Devisa, dan bank campuran. Kapasitas dana pinjaman yang semakin besar berdampak meningkatkan kredit yang ditawarkan  pada lima kelompok bank, yaitu bank BUSN Devisa, BUSN Non Devisa, BPD, bank campuran, dan bank asing
Ketiga, masih terdapat gap antara permintaan kredit aktual dengan permintaan kredit yang diinginkan. Gap dengan permintaan kredit aktual lebih kecil dibandingkan dengan permintaan yang diinginkan hanya pada kelompok bank persero. Ini berarti bahwa permintaan kredit pada bank persero masih mampu untuk ditingkatkan lagi. Dengan kata lain, pelaku usaha belum mengajukan permintaan kreditnya secara optimal. Salah satu sebab belum optimalnya permintaan kredit adalah bahwa pelaku usaha juga masih berperilaku menghindari risiko (risk averse). Perilaku ini menyebabkan keputusan investasi pelaku usaha masih mempertimbangkan risiko-risiko yang akan muncul dalam pengajuan kredit bank.
Keempat, gap penawaran kredit terdapat pada BUSN Devisa, BUSN Non Devisa, bank campuran, dan bank asing. Pada empat kelompok bank ini ditemukan bahwa penawaran kredit bank yang diinginkan lebih besar dibandingkan penawaran kredit aktualnya. Hasil ini menunjukkan bahwa keempat kelompok bank masih mampu untuk meningkatkan penawaran kreditnya sampai pada tingkat yang optimal. Penawaran kredit bank yang belum optimal ini dapat disebabkan oleh beberapa faktor. Salah satu faktor yang dominan adalah masih tingginya persepsi bank terhadap risiko pemberian kredit ke pelaku usaha di sektor riil. Hal ini tidak lain mengindikasikan bahwa bank masih berperilaku menghindari risiko (risk averse) pasca krisis moneter.
Kelima, hasil perhitungan gap antara permintaan dan penawaran kredit yang diinginkan menunjukkan hasil sebagai berikut. Gap dengan permintaan kredit bank yang diinginkan lebih besar dari penawaran kreditnya terdapat pada bank persero dan bank BPD. Gap tersebut menunjukkan bahwa masih terdapat disintermediasi keuangan dari sektor perbankan ke sektor riil. Di sisi lain, empat kelompok bank, yakni BUSN Devisa, BUSN Non Devisa, bank campuran dan bank asing, ditemukan bahwa penawaran kredit bank yang diinginkan lebih besar dibandingkan permintaan kredit aktualnya.
Keenam, simulasi terhadap gap nilai kredit aktual dan estimasi baik permintaan maupun penawaran bank menunjukkan bahwa, kejutan suku bunga kredit yang dapat menurunkan gap antara nilai kredit aktual dan nilai kredit yang diinginkan adalah berupa penurunan suku bunga kredit bank.
Ketujuh, hasil simulasi terhadap gap permintaan kredit dan penawaran kredit bank yang diinginkan adalah sebagai berikut. Secara umum, kenaikan suku bunga kredit bank memperlebar gap permintaan-penawaran kredit bank, sementara penurunan suku bunga kredit bank cenderung menurunkan gap antara permintaan dan penawaran kredit bank.
Kata Kunci: disintermediasi perbankan-risk averse-pasar kredit bank-gap kredit-respons.