Miliki Kepakaran Bidang Ekonomi Kesehatan, Dosen FEB UNS Dikukuhkan menjadi Guru Besar

Miliki Kepakaran Bidang Ekonomi Kesehatan, Dosen FEB UNS Dikukuhkan menjadi Guru Besar

UNS—Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta, Prof. Tri Mulyaningsih, S.E., M.Si., Ph.D. dikukuhkan menjadi guru besar dalam bidang Ilmu Kepakaran Ekonomi Kesehatan pada Selasa (17/12/2024) di Auditorium G.P.H. Haryo Mataram UNS. Pidato inaugurasi yang disampaikan mengangkat judul “Malnutrisi: Kerugian Ekonomi dan Desain Kebijakan untuk Meningkatkan Status Gizi Anak dan Remaja”.

Prof. Tri Mulyaningsih dalam pidatonya menyampaikan pembangunan telah mampu mengangkat posisi Indonesia dari negara miskin menjadi negara berkembang dan saat ini telah menjadi negara anggota G-20. Akan tetapi, pembangunan dipandang belum inklusif dimana pertumbuhan ekonomi yang cukup tinggi ternyata tidak cukup untuk mengentaskan kemiskinan dan keterbatasan akses infrastruktur dasar. Selain itu, pertumbuhan ekonomi diikuti dengan melebarnya ketimpangan antara masyarakat kelompok kaya dengan kelompok miskin.

Pembangunan yang tidak inklusif menyebabkan beban ganda malnutrisi dimana separuh anak dan remaja mengalami stunting, wasting dan obesitas. Kebijakan pemerintah fokus mengatasi stunting pada kelompok anak sedangkan kelompok remaja masih terabaikan. Malnutrisi pada remaja menghambat proses transformasi ke dewasa, menghambat pemanfaatan kesempatan pertumbuhan kedua dan mempengaruhi kualitas kesehatan offspring (anak). “Malnutrisi menimbulkan biaya ekonomi yang besar karena menurunkan kemampuan kognitif dan berujung pada rendahnya produktivitas tenaga kerja. Malnutrisi juga meningkatkan risiko obesitas dan penyakit kardiovaskular sehingga meningkatkan biaya pelayanan kesehatan,” terang Prof. Tri Mulyaningsih.

Untuk menekan prevalensi malnutrisi pada remaja, pemerintah harus mendesain kebijakan intervensi berbasis sekolah dengan mempertimbangkan transisi nutrisi. Perubahan pola konsumsi pada remaja berupa peningkatan makanan olahan, penurunan keragaman terutama sayur dan buah turunnya kualitas asupan nutrisi. Observasi pada lingkungan makanan di sekolah menunjukkan akses makanan sehat sangat terbatas. Dilain pihak akses makanan tidak sehat melimpah dengan harga murah.

Desain kebijakan malnutrisi sebaiknya mengadopsi ekonomi perilaku dimana pengambil kebijakan bertindak sebagai choice architecture yang dapat mempengaruhi perilaku konsumsi remaja. Kebijakan berupa nudge untuk mempengaruhi keputusan konsumsi remaja menjadi lebih sehat. Remaja perlu dipengaruhi dalam membuat keputusan konsumsi karena remaja sering membuat keputusan yang sub-optimal (perilaku makan yang buruk, merokok). Seringkali remaja bertindak irrasional karena pada saat pengambilan keputusan, remaja tidak memberikan atensi yang cukup, tidak memiliki informasi yang sempurna, kurangnya kontrol diri (incomplete self-control).

“Kami meneliti intervensi program berbasis sekolah untuk meningkatkan konsumsi makanan sehat dengan mempengaruhi preferensi siswa melalui literasi gizi dan agensi berupa hak pada siswa untuk memilih makanan dan meningkatkan daya beli siswa dengan subsidi pangan sehat. Kami menguji “nudge” dalam bentuk subsidi pangan dan agensi pada remaja dengan metode Randomized Control Trial (RCT),” ujar Prof. Tri Mulyaningsih.

Riset menunjukkan literasi gizi plus subsidi pangan menurunkan konsumsi makanan tidak sehat. Intervensi lebih efektif dengan menggabungkan literasi gizi dan nudge berupa agensi terutama pada kelompok remaja muda dan kurang mampu. Dengan demikian, intervensi nudge yang mudah dan relatif murah cukup efektif dalam meningkatkan preferensi makanan sehat pada kelompok remaja terutama kelompok kurang mampu.

Beberapa rekomendasi kebijakan adalah literasi gizi cukup efektif mempengaruhi preferensi makan menjadi lebih sehat, kemudian program subsidi pangan (saja) tidak cukup untuk memengaruhi perilaku makan sehat remaja. Program untuk remaja berbasis sekolah yang melibatkan pimpinan, guru dan kantin cukup efektif. Program yang efektif adalah kombinasi literasi gizi disertai subsidi pangan yang memberikan hak agensi pada remaja. Dengan demikian, desain kebijakan malnutrisi yang efektif pada remaja bisa mengadopsi nudge dan ditujukan pada kelompok yang responsif terhadap intervensi (dengan memahami perilaku dan latar belakang ekonomi remaja).

Kepada para Guru Besar yang baru dikukuhkan, Rektor UNS, Prof. Dr. Hartono, dr. M.Si. menyampaikan apresiasi setinggi-tingginya atas dedikasi, komitmen, dan perjuangan mereka dalam mencapai jabatan fungsional tertinggi seorang dosen. Gelar Guru Besar memiliki tanggung jawab besar untuk terus memberikan kontribusi kepada kemajuan ilmu pengetahuan, pendidikan, dan pembangunan bangsa. Disamping itu, guru besar juga memiliki tanggung jawab moral untuk memberikan kontribusi, partisipasi, dan karya demi kemajuan perguruan tinggi dan masyarakat

“Secara formal, seorang guru besar dituntut untuk menghasilkan karya-karya besar dalam tridarma perguruan tinggi. Pada tahun yang akan datang, tingkatkan lebih banyak kontribusi untuk memajukan UNS dan meningkatkan reputasi nasional maupun internasional,” ujar Prof. Hartono. HUMAS UNS

Redaktur: Dwi Hastuti