UNS— Direktur Direktorat Akademik Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta, Prof. Dr.Agr. Ir. Sigit Prastowo, S.Pt., M.Si., IPU., ASEAN Eng. Dikukuhkan sebagai Guru Besar baru dalam bidang ilmu Kepakaran Reproduksi Ternak Pada Fakultas Peternakan. Dalam sidang pengukuhan yang dilaksanakan pada 17 Desember 2024 kemarin, Prof. Sigit menyampaikan pidato dengan judul “Optimalisasi Produktifitas Ternak dengan Implementasi Teknologi Reproduksi dan Data Genomik”.
Prof. Sigit yang merupakan Guru Besar ke-6 pada Fakultas Peternakan dan ke-309 di UNS menyampaikan profitabilitas usaha peternakan salah satunya dipengaruhi oleh produktivitas ternak yang dapat ditingkatkan melalui kinerja reproduksi. Secara khusus reproduksi ternak memiliki peran pada peningkatan populasi dan kualitas genetik ternak. Sebagaimana diketahui, hampir seluruh produk peternakan keberlangsungannya tergantung dari proses reproduksi dalam arti ketersediaan bibit, atau keberhasilan proses reproduksi lainnya seperti menghasilkan daging, telur, dan susu.
Sebagai contoh, produktivitas sapi perah di Indonesia saat ini dengan populasi sekitar 500 ribu ekor, hanya mampu memenuhi 20% dari kebutuhan susu nasional. Kunci untuk peningkatan produksi susu adalah peningkatan kuantitas dan kualitas sapi perah.


Kuantitas dalam arti populasi yang berada pada aspek reproduksi, sedangkan kualitas merupakan peningkatan kualitas genetik. Terlebih, permasalahan peningkatan produksi ternak di Indonesia, salah satunya selalu berakhir pada ketersediaan bibit dalam arti kuantitas dan kualitas pada jenis ternak apa pun.
Berbicara tentang reproduksi ternak, akan bersinggungan sel gamet (spermatozoa dan oosit), proses fertilisasi, hormonal, kelakuan reproduksi, kebuntingan, kelahiran, dan lainnya. Beragam teknologi reproduksi pada ternak telah diimplementasikan saat ini, seperti Inseminasi Buatan (IB), Embryo Transfer (ET), manipulasi hormon, penyimpanan sel gamet dan embryo, sampai pada proses rekayasa fertilisasi baik invivo maupun invitro. Kesemuanya bertujuan untuk meningkatkan efisiensi dan fertilitas reproduksi ternak. Disisi lain, reproduksi ternak harus dibarengi dengan peningkatan kualitas genetik untuk seleksi jantan dan betina sebagai tetua. Penyelidikan tentang gen-gen yang berkontribusi pada produktivitas dan reproduksi ternak dilakukan dalam rangka percepatan produksi dan pemenuhan kebutuhan pangan asal hewani. Disisi lain, proses percepatan peningkatan genetik dan populasi harus berjalan beriringan untuk memberikan dampak peningkatan produktivitas ternak, terutama ternak lokal di Indonesia.
Kunci utama percepatan peningkatan kualitas genetik adalah penggunaan data-data genomik untuk seleksi ternak unggul, yang selanjutnya dipercepat penyebaran genetiknya menggunakan teknologi reproduksi. Letak data genomik ini berada di urutan DNA masing-masing individu ternak. Teknologi genomik yang saat ini berkembang telah mampu memberikan informasi tentang gen-gen yang mempengaruhi sifat-sifat ekonomis dari ternak.
“Informasi tersebut selanjutnya dapat digunakan untuk menentukan potensi produktivitas ternak sejak dini. Sinergi teknologi reproduksi dan seleksi genomik ini diharapkan mempercepat akumulasi kualitas genetik dan pemendekan interval generasi pada program breeding, dibanding penggunaan metode seleksi ternak secara tradisional atau fenotip,” terang Prof. Sigit.
Penggunaan teknologi reproduksi dan seleksi menggunakan data genomik yang efektif dalam pemuliaan ternak memerlukan infrastruktur yang mendukung. Infrastruktur ini mencakup berbagai aspek penting, seperti fasilitas laboratorium untuk analisis genetik, pusat pengumpulan dan penyimpanan semen dan embrio, serta sistem manajemen data yang terintegrasi untuk mengelola informasi genetik dan performa ternak. Selain itu, pelatihan bagi peternak dan teknisi dalam teknik IB, ET, dan interpretasi data genomik juga sangat penting untuk memastikan bahwa teknologi tersebut dapat diterapkan dengan baik. Infrastruktur ini tidak hanya mendukung efisiensi operasional, tetapi juga meningkatkan kolaborasi antara lembaga penelitian, perguruan tinggi, dan industri peternakan, yang pada akhirnya akan mempercepat proses pemuliaan dan meningkatkan kualitas genetik ternak.
Rektor UNS, Prof. Dr. Hartono, dr. M.Si. menyampaikan apresiasi setinggi-tingginya atas dedikasi, komitmen, dan perjuangan Prof. Sigit dalam mencapai jabatan fungsional tertinggi seorang dosen. Gelar Guru Besar memiliki tanggung jawab besar untuk terus memberikan kontribusi kepada kemajuan ilmu pengetahuan, pendidikan, dan pembangunan bangsa. Disamping itu, guru besar juga memiliki tanggung jawab moral untuk memberikan kontribusi, partisipasi, dan karya demi kemajuan perguruan tinggi dan masyarakat
“Secara formal, seorang guru besar dituntut untuk menghasilkan karya-karya besar dalam tridarma perguruan tinggi. Pada tahun yang akan datang, tingkatkan lebih banyak kontribusi untuk memajukan UNS dan meningkatkan reputasi nasional maupun internasional,” ujar Prof. Hartono. HUMAS UNS
Redaktur Dwi Hastuti



















