UNS – Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta kini memiliki Guru Besar Baru dengan kepakaran Ilmu Ekonomi Lingkungan. Beliau adalah Prof. Dr. Suryanto, S.E., M.Si. Pengukuhan ini menjadikannya Guru Besar ke-23 pada Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) dan ke-312 UNS. Pidato inaugurasi yang disampaikan mengangkat judul “Keadilan Lingkungan dalam Perspektif Ekonomi Pembangunan”.
Dalam Sidang Terbuka Senat Akademik yang khidmat, Prof. Suryanto menyampaikan gagasannya. Pertumbuhan ekonomi dinilai tidak selalu menyebabkan tingkat kemiskinan dan ketimpangan ekonomi berkurang. Teori Tragedy of the commons yang Beliau jelaskan nyatanya lebih menguntungkan para pemodal dan merugikan para kaum rentan. Kondisi ini menyebabkan ketidakadilan lingkungan.
“Keadilan lingkungan menjadi syarat terwujudnya keadilan ekonomi. Dengan keadilan lingkungan maka hak-hak masyarakat lokal dan masyarakat terdampak dapat dilindungi,” ujar Prof. Suryanto.
Keberlanjutan belum cukup diraih melalui strategi pembangunan ekonomi yang mengedepankan pertumbuhan ekonomi. Selain hal itu, pertumbuhan ekonomi belum dapat diikuti dengan penurunan tingkat kemiskinan dan ketimpangan pendapatan. Maka dari itu, inklusivitas pembangunan perlu terus diupayakan untuk menjangkau lapisan masyarakat terbawah.
Sejumlah kebijakan yang diambil haruslah memberikan dampak positif pada kehidupan masyarakat lokal. Polusi udara dan pencemaran air perlu untuk ditekan guna mengurangi pengaruh pada penurunan kesehatan tubuh. Dengan sejumlah fenomena yang kerap ditemui di tengah masyarakat, Prof. Suryanto berharap muncul kesadaran baru khususnya perhatian pada lingkungan. Gerakan untuk mengarusutamakan lingkungan dalam pembangunan perlu untuk dikampanyekan.

Pertimbangan untuk menegakkan keadilan lingkungan mendapat apresiasi Ketua Dewan Profesor UNS, Prof. Drs. Suranto Tjiptowibisono, M.Sc., Ph.D. Bagi Beliau, keadilan lingkungan memanglah harus terus ditegakkan dalam sebuah pembangunan ekonomi.
“Untuk itu ketika keadilan ekonomi harus terjadi, maka syaratnya keadilan lingkungan harus ditegakkan. Sekaligus local wisdom harus dipelihara,” tutur Prof. Suranto.
Humas UNS
Reporter: R. P. Adji Redaktur: Dwi Hastuti


















