Prof. Dwi Ardiana Setyawardhani Dikukuhkan menjadi Guru Besar ke-31 pada FT UNS

Prof. Dwi Ardiana Setyawardhani Dikukuhkan menjadi Guru Besar ke-31 pada FT UNS
Prof. Dwi Ardiana Setyawardhani Dikukuhkan menjadi Guru Besar ke-31 pada FT UNS

UNS— Prof. Dr. Ir. Dwi Ardiana Setyawardhani, S.T., M.T. dikukuhkan sebagai Guru Besar ke-31 pada Fakultas Teknik (FT) dan ke-328 di UNS. Beliau menjadi Guru Besar dalam Bidang Ilmu Kilang Hayati dengan pidato inagurasi yang berjudul “Peranan Industri Kimia Berbasis Minyak Nabati Dalam Mendorong Tercapainya Kemandirian Pangan dan Energi Nasional”.

Prof. Dwi Ardiana menyampaikan bahwa Indonesia dikenal sebagai negara yang memiliki sumber minyak nabati yang melimpah. Tanaman penghasil minyak nabati di Indonesia mencapai lebih dari 40 jenis tanaman. Ketersediaan minyak nabati di Indonesia didominasi oleh minyak kelapa sawit, sebagai salah satu komoditas terbesar dan paling dikenal dari Indonesia. Sebagai produsen minyak sawit terbesar di dunia, Indonesia menghasilkan lebih dari 40 juta ton minyak sawit mentah (CPO) setiap tahunnya atau 22% dari total produksi minyak nabati dunia, serta lebih dari 60% dari total produksi minyak sawit global. Perkebunan kelapa sawit seluas 14,1 juta Ha yang tersebar di Sumatra, Kalimantan, dan Sulawesi, merupakan 57% dari seluruh luas perkebunan kelapa sawit dunia.

Potensi minyak nabati di sektor pangan maupun non-pangan sangat beragam. Di sektor pangan, minyak nabati diolah menjadi minyak goreng, minyak salad, margarin, mayonaise, coklat dan kembang gula. Di bidang farmasi, turunan minyak nabati diproduksi sebagai suplemen, vitamin, sumber nutrisi maupun bahan campuran obat. Selain itu komponen-komponen minor dalam minyak nabati juga dimanfaatkan sebagai zat antiinflamasi, antivirus, antimikroba dan antikarsinogenik. Di sektor non pangan, minyak nabati dapat diolah menjadi sumber energi alternatif terbarukan seperti biodiesel, bioavtur, biogasoline dan biokerosin yang digunakan sebagai bahan bakar mesin diesel, mesin bensin dan mesin pesawat terbang. “Pada industri oleokimia, turunan minyak nabati dimanfaatkan secara luas sebagai bahan baku surfaktan, deterjen, bahan cat, perekat, green chemicals dan berbagai produk lainnya,” terang Prof. Dwi Ardiana.

Pengembangan industri kimia (oleokimia) dari minyak nabati membuka peluang usaha diversifikasi produk pertanian, baik dari minyak nabati maupun produk sampingnya yang berupa ampas. Kebijakan Pemerintah RI yang terkait dengan penggalakan penggunaan bahan bakar alternatif dari minyak nabati, yaitu program mandatori biodiesel B35 dan penggunaan Sustainable Aviation Fuel (SAF) bioavtur untuk bahan bakar pesawat terbang komersial, mampu menjadi pendorong berkembangnya industri oleokimia. “Dengan demikian diharapkan ketahanan dan kemandirian pangan nasional dapat ditingkatkan,” imbuhnya.

Peluang industri oleokimia untuk mendukung kemandirian pangan dan energi nasional sangat besar, mengingat ketersediaan bahan baku yang melimpah. Pertumbuhan pasar global yang diakibatkan oleh meningkatnya permintaan produk-produk pangan berbasis minyak nabati, produk-produk oleokimia, permintaan industri farmasi serta biofuel, merupakan peluang lain yang mendukung perkembangan industri oleokimia. Dukungan dan kebijakan pemerintah yang proaktif mendukung pengembangan energi terbarukan, energi hijau, energi bersih dan bahan baku yang ramah lingkungan, merupakan peluang yang mendorong tercapainya Sustainable Development Goals (SDGs).

Kemandirian pangan dan energi nasional juga tak luput dari berbagai tantangan. Dukungan investasi yang besar untuk membangun industri oleokimia berteknologi tinggi sangat diperlukan. Selain itu juga perluasan area penanaman kelapa sawit yang sering dikaitkan dengan isu deforestasi dan kerusakan lingkungan, persaingan pasar global, kebijakan moratorium lahan juga menjadi tantangan keberlanjutan produksi industri oleokimia.

Industri pertanian berkelanjutan berperan penting dalam memperkuat posisi industri oleokimia, yang mendorong inovasi dalam teknologi pengolahan dan pemanfaatan minyak nabati, dan berkontribusi pada peningkatan efisiensi dan efektivitas produksi. Keberlanjutan dan diversifikasi produk akan menjadi kunci untuk memaksimalkan potensi tersebut tanpa merusak lingkungan.

Pemanfaatan minyak nabati lain seperti kelapa, kedelai, jagung, kemiri, dan jarak juga memiliki potensi besar dan nilai ekonomi yang terus berkembang, sehingga dapat mendukung diversifikasi tanaman penghasil minyak nabati. “Dengan komitmen terhadap keberlanjutan dan inovasi dalam pengelolaan sumber daya ini, Indonesia memiliki peluang untuk terus memimpin dunia dalam produksi minyak nabati, sambil tetap menjaga keseimbangan antara pertumbuhan ekonomi dan pelestarian lingkungan,” ujar Prof. Dwi Ardiana.

Ketua Dewan Profesor (DP) UNS, Prof. Drs. Suranto Tjiptowibisono, M.Sc., Ph.D., mengingatkan kepada para Guru Besar yang baru dilantik agar terus berkarya untuk UNS dan bangsa. “Mudah-mudahan bapak ibu akan terus berkarya dan berkontribusi untuk ikut serta menumbuh kembangkan karya-karyanya demi kemajuan UNS tercinta dan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI),” ungkapnya. HUMAS UNS