Tim Peneliti UNS Kembangkan Ekstrak Spirulina untuk Bahan Baku Kosmetik

UNS – Pusat Penelitian Lingkungan Hidup Universitas Sebelas Maret (PPLH UNS) Surakarta bekerja sama dengan UKM Neoalgae, telah berhasil mengembangkan ekstrak spirulina sebagai bahan baku kosmetik dan suplemen. Spirulina diketahui mengandung fikosianin yang sangat baik untuk kecantikan dan kesehatan.

“Dalam kosmetik, fikosianin berguna sebagai anti-aging, pelembab dan fotoproteksi. Sedangkan dalam suplemen, fikosianin bermanfaat untuk meningkatkan sistem kekebalan tubuh?” kata Fea Prihapsara, Ketua Tim Pengabdian dari PPLH UNS.

Machmud Lutfi Huzain, salah satu founder Neoalgae menambahkan, selain fikosianin, ada beberapa kandungan lain dalam spirulina yang dapat diaplikasikan sebagai bahan baku kosmetik yaitu xanthophylisin, klorofil, vitamin C dan E serta selenium.

Spirulina memiliki banyak keunggulan. Di antaranya tinggi protein, asam amino essensial seperti leucine, valine, dan isoleucine. Di antara makanan, spirulina mengandung tinggi provitamin A (β-carotene) dan B12. Selain itu, kandungan mineral berupa besi juga lebih mudah diserap oleh tubuh.

Mengetahui sederet keunggulan itulah, tim pengabdian dari PPLH UNS yang beranggotakan Fea Prihapsara, Al Sentot Sudarwanto dan Anif Nur Artanti, lantas tertarik untuk mengembangkan produk ekstrak spirulina. Mereka memproduksi bubuk fikosianin spirulina yang dapat dimanfaatkan sebagai bahan baku kosmetik dan suplemen.

 “Selama ini, bahan baku kosmetik masih tergantung dari impor.  Di Indonesia satu-satunya yang mengembangkan fikosianin dalam jumlah besar baru Neoalgae dan PPLH UNS”, tutur Fea.

Dalam produksi ekstrak spirulina yang mengandung fikosianin, membutuhkan alat ekstraktor dan penyaring vacum guna menjaga kualitas spirulina. Selain itu digunakan mesin centrifugasi untuk pemisahan pelet fikosianin. Hasil ekstraksi kemudian dikeringkan dengan menggunakan mesin spray dry hingga diperoleh serbuk fikosianin yang berwarna biru.

Produksi fikosianin bukan tanpa kendala. Kestabilan dari bahan baku spirulina saat dalam ekstrak perlu dikendalikan, karena apabila tidak segera diproses, spirulina cepat busuk.

Dengan hasil yang diperoleh, selanjutnya akan dilakukan uji kandungan kadar fikosianin yang dihasilkan. Besar harapan dari peneliti PPLH UNS agar produk ini mampu bersaing di pasar ekspor. Humas UNS

By | 2018-12-06T22:40:55+00:00 06 December 2018|Categories: Produk & Penelitian|