UNS – Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta bersama Binus University berkolaborasi dengan Persatuan Orang Tua Anak dengan Down Syndrome (POTADS) Jawa Tengah menggelar pelatihan bertajuk Aku Bisa AI. Kegiatan yang mengusung tema “Ekspresi Kreatif Anak Down Syndrome melalui Teknologi AI” ini diselenggarakan pada Minggu (26/10/2025) di Aula Gedung H.B. Sutopo, Fakultas Seni Rupa dan Desain (FSRD) UNS.
Kegiatan ini merupakan bagian dari inisiatif Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah bersama UNS dan Binus University untuk mendukung kreativitas anak-anak dengan disabilitas. Pelatihan diikuti oleh 27 anak dengan Down Syndrome yang datang bersama orang tua mereka. Kegiatan ini juga melibatkan mahasiswa Program Studi (Prodi) Desain Komunikasi Visual (DKV) FSRD UNS sebagai pendamping setiap anak dan orang tuanya.
Pelatihan Aku Bisa AI diketuai oleh Ercilia Rini Octavia, S.Sn., M.Sn., dan didukung oleh tim yang terdiri dari Dr. Sn. Andreas Slamet Widodo, S.Sn., M.Hum.; Anugrah Irfan Ismail, S.Sn., M.Sn.; Dermawan Syamsuddin, Ph.D. (Cand); serta Randy Azharudya Syamsi sebagai koordinator mahasiswa DKV UNS. Dalam sesi tersebut, para narasumber memberikan materi pengantar tentang AI, teknologi AI generative, serta pelatihan praktik langsung.
Dekan Fakultas Seni Rupa dan Desain UNS, Dr. Deny Tri Ardianto, S.Sn., Dipl. Art., menyampaikan apresiasi atas terselenggaranya kegiatan ini. Ia menegaskan bahwa UNS sebagai kampus inklusif selalu mendukung kegiatan yang melibatkan penyandang disabilitas. Menurutnya, pelatihan ini sejalan dengan semangat FSRD UNS yang juga memiliki mahasiswa penyandang disabilitas dan terus berupaya menciptakan lingkungan belajar yang ramah dan setara.
“Universitas Sebelas Maret sebagai kampus inklusif tentu mendukung penuh kegiatan-kegiatan yang terkait penyandang disabilitas. Hal tersebut sejalan dengan Fakultas Seni Rupa dan Desain yang didalamnya terdapat pula mahasiswa penyandang disabilitas. Oleh karena itu, apresiasi dan dukungan penuh diberikan oleh beliau atas terselenggarakannya pelatihan Aku Bisa AI,” ujar Dr. Deny.
Dalam pelatihan ini, anak-anak diminta menggambar secara bebas, sementara orang tua dilatih untuk mengembangkan karya tersebut melalui teknologi AI generative. Prosesnya dilakukan tanpa mengubah gambar asli anak. Para orang tua diajarkan tiga langkah utama dalam membuat prompt AI, yaitu menentukan jenis gambar, menambahkan elemen pendukung seperti pohon atau langit, serta menjaga agar hasil akhir tetap mempertahankan karya asli anak.
Ketua PIK POTADS Jawa Tengah, Detty Supriastuti, mengungkapkan rasa bangga atas kerja sama ini. Ia menjelaskan bahwa PIK POTADS Jawa Tengah merupakan cabang termuda di Indonesia, akan tetapi kini memiliki jumlah anggota terbanyak. Kolaborasi antara PIK POTADS Jawa Tengah dengan UNS kali ini merupakan yang ketiga. Menurutnya, kegiatan ini menjadi langkah penting untuk melawan stigma negatif terhadap anak dengan Down Syndrome serta membantu mereka menunjukkan potensi melalui karya kreatif yang dikembangkan dengan bantuan teknologi.
“Kegiatan seperti ini bisa menjembatani kami untuk lebih mendewasakan dan memandirikan anak-anak. Masyarakat masih banyak yang memandang mereka sebagai suatu hal yang mengkhawatirkan. Jadi, ini yang kami harapkan bisa menepis stigma tersebut dengan kelebihan dan potensi yang ada,” terang Detty.
Melalui pelatihan ini, UNS, Binus University, dan PIK POTADS Jawa Tengah berharap dapat membangun ruang ekspresi bagi anak-anak dengan Down Syndrome, sekaligus meningkatkan literasi digital inklusif di dunia pendidikan.
Kegiatan ini sejalan dengan SDG keempat Pendidikan yang Berkualitas, SDG kesepuluh Berkurangnya Kesenjangan, dan SDG ketujuhbelas Kemitraan untuk Mencapai Tujuan.
Humas UNS


















