SOLO – Kendati didera konflik, animo masyarakat untuk menjadi Tenaga Kerja Indonesia (TKI) ke Korea tetap tinggi. Ujian kecakapan bahasa Korea Employment Permit System – Test of Proficiency in Korea Paper Based Test (EPS TOPIK PBT) 2013 yang berlangsung serentak di lima tempat diserbu ribuan pendaftar. Di Universitas Sebelas Maret (UNS), jumlah pendaftar mendekati angka 10.000. Tahun sebelumnya, jumlah pendaftar mencapai 8.000 orang.
“Isu perang di Korea tidak mempengaruhi antusiasme warga untuk menjadi TKI di sana,” ungkap ketua panitia EPS TOPIK PBT UNS Tuhana, S.H., M.Si. saat memberikan keterangan pers kepada waratwan, Kamis (18/4/13), di gedung Biro Kemahasiswaan UNS, Solo.
Menurut Tuhana, tren penempatan penempatan kerja ke Korea setiap tahunnya terus meningkat. Data tahun 2010 menunjukkan, pengiriman TKI ke Korea mencapai 3.964 orang, tahun 2011 sebanyak 6.325 orang, dan tahun 2012 mencapai 6.410 orang.
Sementara itu, menurut Kepala Subdirektorat (Kasubdit) Penyiapan Penempatan Direktorat Pelayanan Penempatan Pemerintah BNP2TKI Ali Mansur mengungkapkan, tren meningkatnya animo masyarakat untuk bekerja di Korea tak lepas dari daya tarik Korea yang memberikan upah kerja lebih tinggi dibanding dengan upah kerja dalam negeri. Di Korea, upah minimum regional (UMR) mencapai 1.015.040 Won atau setara dengan Rp 10 juta. “Kalau UMR di Indonesia katakanlah Jakarta hanya mencapai Rp 2,2 juta. Bahkan di Korea, untuk tenaga kerja berpengalaman bisa mendapatkan gaji hingga Rp 20 juta perbulan,” urainya.[]


















