UNS – Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta mengadakan Webinar Omah Rembug mengenai “UMKM di Tengah Pandemi: Solusi dan Upaya Recovery” pada hari Minggu (17/5/2020). Kegiatan diskusi daring tersebut dihadiri oleh Ir. Eddy Satriya, M.A selaku Deputi Bidang Restrukturisasi Usaha, Kementerian Koperasi dan UKM sebagai pembicara pertama. Kemudian, pembicara kedua adalah Bhima Yudhistira Adhinegara dari Institute for Development of Economics and Finance.
Selaku pembicara pertama Ir. Eddy Satriya, M.A menyampaikan bagaimana kondisi koperasi yang ada di Indonesia saat ini. Beberapa permasalahan utama yang dihadapi oleh koperasi saat ini adalah tentang permodalan, penjualan, dan distribusi. Jenis usaha yang terdampak diantaranya bidang konsumen jasa dan produsen. Kemudian pada bagian Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) yang terdampak saat ini terkait dengan pemasaran, permintaan dan bahan baku. Sektor utama yang terdampak adalah sektor industri makanan, industri kreatif dan pertanian.
Pada kesempatan tersebut disampaikan lima skema perlindungan dan pemulihan Kelompok UMKM (KUMKM) di tengah pandemi sesuai dengan arahan presiden pada 29 April 2020 lalu. Pertama tentang UMKM miskin dan rentan sebagai penerima Bansos. Kemudian insentif pajak bagi UMKM dengan omzet kurang dari Rp 4,8 Miliar/tahun. Lalu relaksasi dan restrukturisasi kredit bagi UMKM, perluasan pembiayaan modal kerja KUMKM, serta menunjuk kementerian, BUMN, dan pemerintah daerah sebagai penyangga produk KUMKM.
“Agar kita bisa mempercepat pulih atau bergerak kembali, koperasi dan UMKM ini bisa membantu ekonomi kerakyatan dari yang bawah sampai menengah supaya bisa kembali membuka lapangan kerja yang selama ini tutup. Supaya bisa memberikan kontribusi untuk perekonomian kita, perlahan-lahan bangkit,” harap Ir. Eddy Satriya, M.A
Selama masa karantina ini UMKM bisa melakukan e-learning dengan mengakses website yang sudah disediakan oleh pemerintah yaitu E-Learning KUKM (edukukm.id). Para pelaku UMKM bisa mendaftar dan bergabung untuk mendapat informasi terkait dengan UMKM. Hal ini diharapkan supaya UMKM bisa tetap produktif.
Bhima Yudhistira Adhinegara sebagai pembicara kedua menyampaikan dampak pandemi dan peluang UMKM. Diawali dengan pembahasan mengenai krisis ekonomi yang pernah terjadi di Indonesia. Bhima Yudhistira Adhinegara menjelaskan bahwa salah satunya adalah krisis ekonomi pada tahun 2008. Menurutnya krisis ekonomi ketika itu hanya terjadi di media. Sementara di lapangan, khususnya di Solo dampak krisis ekonomi tidak terlalu terasa. Namun berbeda dengan kondisi perekonomian yang terjadi pada saat ini. Terdapat kebijakan Physical Distancing yang berpengaruh terhadap kegiatan perekonomian di lapangan.
“Karena kita menghadapi dua krisis sebenarnya, krisis ekonomi dan krisis kesehatan. Jadi tidak ada threat of tapi ketika bisnis itu kemudian berhenti beroperasi ketika ada PSBB. Maka tugas government intervension atau pemerintah melakukan stimulus secara jorjoran,” jelas Bhima Yudhistira Adhinegara.
Adanya perubahan yang terjadi pada perilaku masyarakat, dimana masyarakat sebagai konsumen akan kembali membeli kebutuhan-kebutuhan dasar. Produk kesehatan dan makanan menjadi sangat laris dicari, sementara kebutuhan sandang tidak menjadi prioritas. Apabila UMKM ingin bertahan perlu dilakukan upaya yang dilakukan oleh UMKM seperti melihat kebutuhan pasar dan apa yang diinginkan pasar saat ini. Beberapa diantaranya kebutuhan Alat Pelindung Diri (APD), obat-obatan, makanan, dan jasa dibidang informasi teknologi (IT). Humas UNS/Ratri


















