UNS – Pusat Studi Jepang (PSJ) Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta menggelar webinar bertajuk ‘Product Design Thinking: Budaya Jerami di Jepang dan Jawa’ pada Jumat (15/5/2020). Kegiatan webinar ini merupakan program rutin bulan agenda PSJ UNS dalam masa pandemi Covid-19. Dalam kesempatan kali ke 2 Webinar agenda PSJ UNS, kali ini menghadirkan dosen asal Program Studi (Prodi) Desain Interior Fakultas Seni Rupa dan Desain (FSRD) UNS, Pandu Purwandaru, Ph.D, sebagai pembicara utama.
Jerami yang merupakan bagian batang tumbuh padi yang telah dipanen bulir-bulirnya ternyata memiliki makna tersendiri bagi masyarakat Jepang. Prof. Prof Kiyoshi Miyazaki yang merupakan mantan Ketua Japanese Society for the Science of Design pernah mengatakan bila jerami adalah jenis rumput-rumputan yang memiliki nilai yang mirip seperti kayu.
“Di Jepang jerami digunakan untuk menunjang kehidupan sehari- hari. Di sini kalau kita melihat kanji tulisan jerami itu ‘Wara’ ada unsur simbolis kayu, tinggi, dan rumput. Menurut Prof. Kiyoshi, jerami adalah jenis rumput-rumputan yang memiliki nilai mirip seperti kayu dan memiliki nilai fungsional tinggi,” ujar Pandu saat membuka materinya.
Pandu yang merupakan lulusan Chiba University, Jepang tersebut mengatakan bila masyarakat Jepang mengenal istilah ‘mottainai’, ‘moushiwakenai’, dan ‘wara mo moshitara wara wareru’ dalam pemanfaatan jerami.
“Ada yang namanya ‘mottainai’ hubungannya dengan mubazir intinya suatu hal yang memalukan apabila kita menyia-nyiakan sesuatu. Kemudian, ‘moushiwakenai’ lebih ke rasa bersalah. Ada rasa penyesalan kalau hubungannya dengan jerami ada penyesalan karena menyia-nyiakan pemberian dari alam. Masyarakat Jepang punya istilah ‘wara mo moshitara wara wareru’ yang artinya ketika kamu bakar jerami maka jerami akan tertawa,” lanjutnya.
Berbeda dengan di Jepang, masyarakat di Jawa lebih memandang jerami dari unsur mitologi yang ada kaitannya dengan tradisi ‘wiwitan’ dalam kisah Dewi Sri. Masyarakat di Jawa pada masa lampau sangat menghormati sosok Dewi Sri yang dipercaya sebagai dewi pertanian, padi, sawah, dan kesuburan.
Dalam kesempatan tersebut, Pandu juga menjelaskan perbedaan cara memanen padi yang dilakukan masyarakat Jepang dan Jawa.
“Sebelum masa revolusi hijau masih menggunakan ani-ani kalo di Jawa dan itu dipanen dua kali, yaitu atas dan bagian batang jerami dipotong sampai bawah bonggol. Sementara kalau di Jepang pemotongan sekali langsung di bonggol dan dijemur 10-14 hari setelahnya dirontokkan gabahnya. Dan setelah itu di proses ‘sayawara’ setelah terpisah dari padi, dan setelah dirontokkan dari kelopaknya disebut ‘warasuguri’ untuk pembuatan atap rumah juga bisa,” terang Pandu.
Tidak hanya dimanfaatkan untuk pembuatan atap rumah, ternyata jerami juga dapat dikreasikan menjadi ‘ecofish’ yang dapat menyaring residu dan limbah di aliran sungai/ selokan. Hal itu diterapkan oleh komunitas jerami Inagaki Waro no Kai di Desa Inagaki, Aomori, Jepang.
“Ada pengembangan menarik yang saya ingin sampaikan. Ecofish jerami dibuat menyerupai ikan diisi serbuk sekam yang sudah dibakar dengan anak-anak SMP dengan tujuan mengedukasi material jerami dan diapungkan saluran air yang dianggap kotor dan sangat efektif menyerap residu dan membuat aliran air menjadi lebih bersih. Satu ‘ecofish’ bisa menyerap dua kali residu dari beban ‘ecofish’ itu sendiri. Dan, kalau dibakar bisa menjadi pupuk sehingga sustain,” ucap Pandu.
Kegiatan diskusi berjalan sangat interaktif. Peserta berasal dari berbagai kota di Jawa. Setidaknya terdapat 12 penanya, yang menanyakan berbagai tema berkaitan dengan apa dan bagaimana proses keberlanjutan produk Jerami di Jawa. Acara yang dimoderatori oleh Dr. Eng Kusumaningdyah, N.H, ST., MT (Kepala Pusat Studi Jepang UNS), secara tidak langsung telah menjalin minat untu berjejaring dari peminat riset yang sama akan budaya dan produk Jerami. Diharapkan kedepannya memiliki kolaborasi kegiatan bersama. Kegiatan ini terlaksana atas kerjasama PSJ UNS Bersama Riset Group Desain Produk Interior, Program Studi Interior – Fakultas Seni Rupa Desain UNS serta Laboratorium Urban-Rural Design and Conservation (URDC Labo) Program Studi Arsitektur, Fakultas Teknik, UNS.Humas UNS/Yefta


















