FMIPA UNS meluncurkan program Pengabdian Internasional Mandatory pada Mei 2026 untuk memberdayakan petani vanili di Jawa Tengah dan DIY. Program ini bertujuan meningkatkan kualitas produk sesuai standar nasional dan global melalui edukasi budidaya, pascapanen, pemasaran, serta inovasi produk bernilai tambah.
UNS — Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta meluncurkan program Pengabdian International Mandatory (PIM) bertajuk “Pemberdayaan Petani melalui Edukasi Kualitas Global: Peningkatan Kualitas Vanili sesuai Standar Nasional dan Internasional” pada Mei 2026. Program ini merupakan bentuk komitmen FMIPA UNS dalam meningkatkan kapasitas petani vanili agar mampu menghasilkan produk berkualitas yang memenuhi standar nasional maupun internasional.
Program pengabdian masyarakat tersebut melibatkan tim multidisiplin dari Program Studi Biologi, Program Studi Farmasi, Program Studi Profesi Apoteker, Program Studi Magister Biosains, dan Program Studi Doktor Ilmu Biologi FMIPA UNS. Sasaran kegiatan adalah para petani vanili yang tergabung dalam Koperasi Produsen Rempah Vanili Nusantara (Koperasi Karavan) yang berasal dari Provinsi Jawa Tengah dan Daerah Istimewa Yogyakarta.
Kegiatan diawali dengan sambutan Dekan FMIPA UNS, Prof. Dr. Desi Suci Handayani, S.Si., M.Si. sekaligus peluncuran program pelatihan yang dirancang untuk meningkatkan kualitas budidaya, pascapanen, hingga pemasaran produk vanili agar mampu memenuhi standar mutu nasional dan perdagangan global.
Ketua Tim Pengabdian International Mandatory, Dr. apt. Rasmaya, M.Farm.Klin., menjelaskan bahwa program ini merupakan implementasi kemitraan global yang mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 4 (Pendidikan Berkualitas) dan SDG 17 (Kemitraan untuk Mencapai Tujuan).
“Melalui program ini, para petani memperoleh wawasan yang komprehensif mengenai standar mutu vanili di Indonesia, Malaysia, hingga standar perdagangan internasional sehingga diharapkan mampu meningkatkan daya saing produk vanili Indonesia di pasar global,” ujar Dr. Rasmaya kepada uns.ac.id, Rabu (17/6/2026).
Pelaksanaan kegiatan dikoordinasikan oleh Dr. Suratman, S.Si., M.Si. dan Dr. Solichatun, S.Si., M.Si. melalui serangkaian materi edukasi dan pelatihan mengenai standardisasi mutu biji vanili untuk memperoleh sertifikasi organik maupun Certificate of Analysis (COA). Materi mengenai standar Indonesia disampaikan oleh Dr. Widya Mudyantini, S.Si., M.Si., sedangkan standar perdagangan Malaysia dan internasional dipaparkan oleh Prof. Dr. M. Taher Bin Bakhtiar dari Kulliyyah of Pharmacy, International Islamic University Malaysia (IIUM).


Selain membahas aspek standardisasi, peserta juga mengikuti pelatihan pengembangan produk vanili yang dikoordinasikan oleh Dr. apt. Rita Rakhmawati, S.Farm., M.Si.; apt. Adi Yugatama, S.Farm., M.Sc., Ph.D.; Dr. Siti Lusi Arum Sari, S.Si., M.Biotech.; Dr. apt. Yeni Farida, S.Farm., M.Sc.; Tanjung Ardo, S.Si., M.Sc., Apt.; serta Fitrawan H. Pribadi, S.Farm., M.Sc.. Pelatihan tersebut memperkenalkan berbagai inovasi hilirisasi vanili menjadi produk bernilai tambah tinggi, seperti ekstrak vanili dan parfum padat (solid perfume).
Salah satu inovasi yang diperkenalkan adalah Green Scent Project for Improving Mental Health with Neuroscience-Based Olfactory Health Innovation, yaitu pengembangan parfum berbahan dasar vanili yang memanfaatkan manfaat aroma vanili dalam memberikan efek relaksasi melalui stimulasi indera penciuman (olfaktori). Inovasi ini menunjukkan besarnya potensi vanili tidak hanya sebagai komoditas pangan, tetapi juga sebagai bahan baku industri farmasi, kesehatan, dan kebugaran.
Dalam sesi lanjutan, peserta memperoleh pemahaman mengenai standardisasi produk ekstrak vanili, termasuk penyusunan Certificate of Analysis (COA) dan Material Safety Data Sheet (MSDS) sesuai standar perdagangan Indonesia, Malaysia, maupun internasional. Materi tersebut diharapkan mampu memperkuat kesiapan petani dalam memenuhi persyaratan industri dan pasar ekspor.
Ketua Koperasi Produsen Rempah Vanili Nusantara (Karavan), Ir. Agustinus Lilik Agung Supriyanto, M.Si. menyampaikan apresiasinya terhadap kolaborasi antara UNS dan IIUM.
“Program pengabdian masyarakat hasil kolaborasi UNS–IIUM ini membekali para petani dengan pengetahuan yang sangat bermanfaat, sehingga meningkatkan kesiapan kami untuk memasuki dan bersaing di pasar vanili,” ungkapnya.
Melalui program Pengabdian International Mandatory ini, FMIPA UNS tidak hanya meningkatkan kapasitas petani dalam menghasilkan vanili berkualitas sesuai standar global, tetapi juga mendorong terciptanya produk-produk inovatif berbasis vanili yang memiliki nilai ekonomi lebih tinggi. Program ini diharapkan mampu memperkuat daya saing petani vanili Indonesia sekaligus mendukung pertumbuhan ekonomi berkelanjutan melalui peningkatan kualitas pendidikan, inovasi, dan kemitraan internasional, sejalan dengan pencapaian SDG 4 dan SDG 17. HUMAS UNS
Pertanyaan Umum (FAQ)
Apa tujuan utama program Pengabdian International Mandatory dari FMIPA UNS?
Tujuan utama program ini adalah meningkatkan kapasitas petani vanili agar mampu menghasilkan produk berkualitas yang memenuhi standar nasional maupun internasional. Lihat di artikel
Siapa saja yang terlibat dalam program pemberdayaan petani vanili ini?
Program ini melibatkan tim multidisiplin dari berbagai program studi di FMIPA UNS dan bekerja sama dengan Koperasi Produsen Rempah Vanili Nusantara (Koperasi Karavan). Lihat di artikel
Inovasi apa saja yang diperkenalkan dalam pelatihan pengembangan produk vanili?
Pelatihan memperkenalkan inovasi hilirisasi vanili menjadi produk bernilai tambah tinggi seperti ekstrak vanili dan parfum padat (solid perfume). Lihat di artikel
Bagaimana program ini mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs)?
Program ini merupakan implementasi kemitraan global yang mendukung pencapaian SDG 4 (Pendidikan Berkualitas) dan SDG 17 (Kemitraan untuk Mencapai Tujuan). Lihat di artikel














